ChatGPT di Android sedang diuji dengan cara baru yang membuat akses ke isi layar terasa lebih ringkas. Alih-alih memulai sesi screen sharing penuh, OpenAI bereksperimen agar chatbot bisa membaca teks yang terlihat, tombol, dan detail di layar lewat kombinasi fitur Accessibility dan Bubbles milik Android.
Pendekatan ini menarik karena mengurangi langkah yang biasanya harus dilewati pengguna. Jika selama ini akses layar lewat ChatGPT bergantung pada MediaProjection API, skema baru ini dirancang agar interaksi terasa lebih cepat dan tidak terlalu banyak memunculkan dialog izin.
Akses layar yang dibuat lebih ringan
Saat ini, ChatGPT di Android memakai MediaProjection API untuk melihat layar pengguna. Mekanisme ini juga umum dipakai untuk merekam layar atau menampilkan tampilan ke layar eksternal.
Namun, cara tersebut kurang praktis untuk pemakaian harian. Pengguna perlu melewati beberapa dialog izin dan peringatan, sementara prosesnya juga berjalan dengan merekam layar secara terus-menerus.
Kondisi itu bukan hanya terasa lebih panjang, tetapi juga berpotensi menambah beban sumber daya perangkat. Dalam situasi tertentu, pola kerja seperti ini bisa mengganggu proses lain yang sedang berjalan di ponsel.
Skema baru memakai fitur yang jarang dimanfaatkan
Temuan Android Authority dari versi 1.2026.118 aplikasi ChatGPT di Android menunjukkan bahwa OpenAI tengah menguji pendekatan berbeda. Fitur yang dicoba menggabungkan Accessibility dan Bubbles agar chatbot bisa memahami isi layar tanpa bergantung pada screen casting seperti sebelumnya.
Pada tahap awal, pengguna diminta menyalakan “ChatGPT screen help” di menu Accessibility Android. Setelah itu, notifikasi dan conversation bubbles untuk aplikasi juga perlu diaktifkan.
Kombinasi ini punya peran penting dalam alur baru tersebut. Android Authority menyebut pengaturan tambahan itu membantu mencegah aplikasi ditutup sistem saat fitur sedang digunakan.
Interaksi lewat gelembung percakapan
Sesudah semua izin aktif, sebuah gelembung percakapan akan muncul di layar ponsel. Gelembung itu bisa dipakai di home screen maupun ketika pengguna sedang membuka aplikasi lain.
Pengguna lalu berinteraksi dengan ChatGPT melalui bubble tersebut. Cukup ketuk gelembung itu dan ajukan pertanyaan spesifik tentang isi layar yang sedang terlihat.
Mode ini disebut akan mengabaikan konteks percakapan sebelumnya. Artinya, jawaban difokuskan pada apa yang sedang tampil di layar saat itu, bukan pada riwayat obrolan yang sudah berlangsung.
Kenapa pendekatan ini terasa berbeda
Fitur Bubbles di Android sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi tidak sering dipakai secara luas untuk kebutuhan seperti ini. Karena itu, eksperimen OpenAI terlihat seperti trik Android yang jarang dimanfaatkan, namun berpotensi besar mengubah cara orang memakai ChatGPT di ponsel.
Dengan mengandalkan Accessibility dan bubble percakapan, alurnya menjadi lebih cepat diakses dan lebih nyaman untuk multitasking. Bubble yang melayang di atas antarmuka memberi akses langsung ke ChatGPT tanpa harus berpindah jauh dari aplikasi yang sedang dibuka.
Tetap ada perhatian soal privasi
Di sisi lain, model akses seperti ini juga memunculkan catatan privasi. Memberikan izin Accessibility kepada chatbot AI dapat terasa sensitif bagi sebagian pengguna.
Akses semacam itu memungkinkan aplikasi membaca elemen yang tampil di layar, termasuk teks dan tombol yang terlihat. Karena itu, sebagian pengguna bisa menilai izin tersebut lebih sensitif dibanding mekanisme screen sharing biasa.
Hingga kini belum ada kepastian kapan fitur ini akan dirilis luas. Belum jelas juga apakah eksperimen tersebut benar-benar akan masuk ke versi publik, karena temuan ini berasal dari proses APK teardown yang hanya menunjukkan fitur yang sedang diuji.
Source: www.androidauthority.com