China Ancam Balasan Lebih Keras, Sanksi AS ke Alibaba dan Baidu Memicu Ketegangan Baru

Author: Redaksi Android62

China menyatakan akan merespons dengan tegas dan keras setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan besar asal Negeri Tirai Bambu. Beijing menilai langkah itu tidak adil dan memperlebar ketegangan di tengah upaya menjaga hubungan strategis kedua negara.

Kementerian Perdagangan China mendesak pemerintahan Donald Trump menghentikan praktik yang dinilai keliru dan kembali ke jalur yang benar. Pernyataan itu disampaikan setelah daftar hitam baru AS memuat nama-nama besar dari sektor teknologi, kendaraan listrik, hingga energi surya.

Nama-nama besar yang ikut terseret

Langkah terbaru Washington menyasar perusahaan yang dinilai membantu memajukan militer dan industri domestik China. Dalam daftar itu terdapat Alibaba, Baidu, BYD, NIO, Trina Solar, dan JA Solar Technology.

Masuknya sejumlah perusahaan besar tersebut menunjukkan bahwa kebijakan AS tidak hanya berhenti pada sektor pertahanan. Tekanan kini juga merambah teknologi, otomotif listrik, dan industri panel surya yang selama ini menjadi bagian penting dari ambisi industri China.

Aturan baru memperketat hubungan bisnis

Berdasarkan aturan yang berlaku, Departemen Pertahanan AS dilarang melakukan kontrak langsung dengan perusahaan yang masuk daftar hitam. Mulai tahun depan, pembelian produk atau layanan dari perusahaan tersebut hanya bisa dilakukan secara terbatas melalui pihak ketiga.

Kebijakan baru itu menggantikan aturan yang diterbitkan pada awal 2025. Langkah tersebut juga muncul sebulan setelah Trump dan Xi Jinping mempertahankan gencatan senjata perang dagang.

Beijing melihatnya sebagai sinyal politik

Pemerintah China menegaskan sangat tidak puas dan menentang keputusan tersebut. Beijing menilai tindakan Pentagon mengabaikan konsensus yang sebelumnya dicapai dalam pertemuan Trump dan Xi Jinping.

Dalam pandangan China, sanksi baru ini bukan sekadar urusan bisnis. Kebijakan itu dinilai berpotensi memperlebar jarak di saat kedua negara seharusnya menjaga kestabilan hubungan strategis.

Dampak yang menjalar ke teknologi dan industri

Daftar hitam tersebut menempatkan perusahaan teknologi dan industri dalam posisi yang semakin sensitif. Alibaba dan Baidu menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa target kebijakan AS tidak terbatas pada manufaktur berat.

Di sisi lain, keberadaan BYD, NIO, Trina Solar, dan JA Solar Technology menegaskan bahwa kendaraan listrik dan energi surya juga ikut berada di bawah pengawasan ketat. Pola ini memberi sinyal bahwa Washington semakin memperluas sorotan pada perusahaan yang dianggap punya kaitan dengan kepentingan industri dan militer China.

Tensi antara dua ekonomi terbesar dunia pun kembali meningkat. Dengan nada yang lebih keras, Beijing menandakan bahwa sanksi tambahan dari AS berpotensi memicu balasan yang juga lebih keras.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru