China Siap Memasuki Era Listrik Fusi Pada 2027, EAST Dan BEST Jadi Kunci Penentu

China tidak hanya mengejar reaktor fusi yang lebih stabil, tetapi juga sedang membidik tonggak yang lebih besar: menghasilkan listrik dari fusi. Target itu kini mengarah ke 2027 lewat proyek Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak atau BEST, yang diproyeksikan menjadi reaktor pertama di dunia yang berhasil menyalurkan listrik dari proses fusi.

Dorongan itu membuat 2027 dipandang sebagai tahun penting bagi ambisi energi China. Jika EAST dan BEST mencapai sasaran masing-masing, Beijing bisa berada di posisi terdepan dalam perlombaan membangun sumber energi masa depan yang selama ini masih menjadi janji sains.

Langkah paling maju datang dari EAST

Di Beijing, reaktor Experimental Advanced Superconducting Tokamak atau EAST menjadi ujian paling maju dalam program fusi China. Proyek yang dikelola Institute of Plasma Physics ini ditargetkan mencatat eksperimen ignition fusi pertamanya pada 2027.

Keberhasilan itu akan sangat penting karena EAST dirancang untuk menjadi reaktor pertama di dunia yang mampu mempertahankan plasma tanpa sumber pemanasan eksternal. Dalam dunia fusi, kemampuan seperti itu menjadi salah satu pembuktian paling krusial sebelum teknologi ini benar-benar bisa diarahkan ke pembangkit listrik.

Mengapa fusi begitu sulit dikuasai

Fusi nuklir lama dipandang sebagai jalur paling menjanjikan menuju energi bersih berskala besar dan berbiaya rendah. Namun tantangannya jauh dari sederhana, karena reaktor harus meniru kondisi inti matahari dalam sistem berbentuk silinder yang jauh lebih rumit daripada pembangkit listrik biasa.

Dalam fusi, dua inti atom bermuatan positif digabungkan untuk menghasilkan energi dan panas. Karena sama-sama bermuatan positif, keduanya saling tolak, sehingga tokamak harus mengubah hidrogen menjadi plasma padat lalu menahannya dengan medan magnet yang sangat kuat agar reaksi terus berlangsung.

Tugas itu menuntut kondisi ekstrem. Tokamak harus mencapai suhu sekitar 150 juta derajat Celsius, atau kira-kira 10 kali lebih panas dari inti matahari, sambil memakai medan magnet yang ratusan ribu kali lebih kuat daripada medan magnet Bumi.

Rekor yang memperkuat posisi China

Sejak berdiri pada 2006, EAST terus mencatat kemajuan yang dinilai penting menuju fusi berkelanjutan. Pada Januari 2025, reaktor ini membukukan “high-quality burn” terlama dalam sejarah fusi plasma, yakni 1.066 detik.

Catatan itu lebih dari dua kali rekor sebelumnya yang juga dibuat EAST pada 2023. Dalam eksperimen tersebut, EAST mencapai suhu 100 juta derajat Celsius, lalu setahun kemudian peneliti menembus Greenwald limit, yaitu batas matematis jumlah atom dalam plasma sebelum reaksi menjadi tidak stabil.

Pencapaian itu penting karena menunjukkan plasma bisa tetap stabil pada densitas yang sangat tinggi. Stabilitas semacam ini menjadi syarat utama agar fusi dapat berjalan dalam skala luas.

BEST dan ambisi menghasilkan listrik

Meski EAST menjadi simbol besar ambisi fusi China, fokus Beijing kini juga bergerak ke reaktor lain yang lebih ambisius. BEST ditargetkan selesai dibangun pada 2027 dan diproyeksikan menjadi reaktor pertama di dunia yang berhasil menghasilkan listrik dari fusi.

BEST akan lebih besar dari EAST dan pada tahap awal akan memakai pasokan deuterium serta tritium dari luar. Tritium tergolong sangat langka dan sulit dipertahankan, sehingga menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan fusi.

Para ilmuwan berharap BEST nantinya dapat memproduksi tritium sendiri melalui lapisan lithium di dalam reaktor. Jika itu berhasil, langkah tersebut akan memperkuat kemampuan fusi untuk berjalan secara mandiri.

Dana besar, tapi tantangan industri masih nyata

China telah menggelontorkan perkiraan dana $6,5 miliar ke teknologi fusi sejak 2023. Industri ini juga masuk dalam rencana lima tahun terbaru China, dengan pendekatan top-down yang menggabungkan prioritas nasional, pendanaan riset, dan penguatan rantai pasok.

Pada Juli 2025, Beijing membentuk perusahaan milik negara China Fusion Energy untuk memimpin upaya riset, dengan suntikan dana publik $2,1 miliar. Lalu pada Maret 2026, fusion energy masuk dalam 15 teknologi frontier yang diprioritaskan dalam 15th Five-Year Plan.

Namun kendala China tidak berhenti pada fisika reaktor. Produksi komponen khusus dalam skala besar masih menjadi pekerjaan besar, dan Beijing masih bergantung pada produsen asing untuk sejumlah komponen kunci.

Salah satu contohnya adalah Hastelloy (C276), substrat logam penting untuk pembuatan magnet super yang dipakai dalam proses fusi. China baru mulai memproduksinya secara massal pada Oktober 2025, yang menunjukkan bahwa fondasi industri pendukung masih menyisakan celah.

Persaingan global ikut memanas

China juga bergerak di tengah kompetisi internasional yang semakin padat. Di Amerika Serikat, sekitar 42 perusahaan telah mengumpulkan $8 miliar untuk mengejar teknologi ini, atau sekitar setengah dari investasi global.

Secara global, setidaknya 77 startup yang berfokus pada fusi telah mengamankan investasi $15 miliar. Sebagian memilih tokamak, sementara yang lain mengembangkan stellarator atau fusi inersial berbasis laser.

Di sisi proyek besar negara, International Thermonuclear Experimental Reactor atau ITER yang melibatkan 34 negara di Prancis selatan masih dalam tahap pengembangan dan diperkirakan belum akan beroperasi setidaknya sampai 2039. Di tengah peta persaingan itu, target 2027 membuat langkah China kian disorot karena hasilnya dapat ikut menentukan arah perlombaan energi fusi dunia.

Berita Terkait