Garis Putih pada Sapi Terbukti Kurangi Lalat, Riset Ini Raih Ig Nobel Biologi

Author: Redaksi Android62

Melukis garis putih vertikal pada sapi hitam dapat menurunkan jumlah lalat yang hinggap sekaligus mengurangi gerakan hewan untuk mengusir serangga. Temuan praktis itu mengantarkan tim Jepang pimpinan Tomoki Kojima meraih Ig Nobel Prize ke-35 kategori biologi pada 18 September 2025.

Hasil pengujian menunjukkan sapi bercorak zebra menghadapi gangguan lalat lebih rendah daripada sapi dengan cat hitam maupun sapi tanpa pola. Pendekatan ini membuka kemungkinan pengendalian hama ternak secara nonkimia, meski penerapannya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Pengujian pada Tiga Perlakuan

Penelitian dilakukan pada sapi hitam, warna yang umum ditemukan pada sapi Wagyu. Setiap hewan menjalani tiga perlakuan secara bergiliran agar perbandingan hasilnya lebih adil.

Kondisi sapi Perlakuan Hasil pengamatan
Corak zebra Garis putih vertikal Lalat lebih sedikit dan gerakan mengusir lalat menurun
Corak gelap Garis hitam Pembanding untuk efek warna dan proses pengecatan
Tanpa corak Dibiarkan alami Pembanding tanpa pola garis

Cat diperbarui setiap pagi selama tiga hari berturut-turut dengan pengecatan bebas tangan sekitar lima menit untuk setiap ekor. Peneliti mengamati sapi selama 30 menit pada pagi dan sore hari.

Selama pengamatan, tim menghitung sentakan kepala, hentakan kaki, serta kibasan ekor yang digunakan sapi untuk menghalau serangga. Sapi juga dipotret pada akhir sesi untuk menghitung lalat yang hinggap pada tubuh dan kakinya.

Eksperimen diulang dua kali sehingga setiap sapi mengalami seluruh perlakuan. Setahun kemudian, tiga sapi hitam tambahan yang tidak mengikuti uji awal direkrut untuk memperbesar jumlah sampel.

Mengganggu Cara Lalat Mendarat

Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof Upik Kesumawati, menilai pola hitam-putih dapat menjadi pilihan untuk menekan gangguan serangga pada ternak. Lalat pengisap darah dapat menimbulkan rasa sakit, membawa penyakit, dan menurunkan produktivitas hewan.

Menurut Prof Upik, kontras garis seperti zebra diduga mengacaukan pemrosesan informasi visual oleh lalat. Serangga itu dapat keliru memperkirakan jarak dan kecepatan sehingga lebih sulit mendarat di tubuh sapi.

Efek tersebut terutama berkaitan dengan lalat pengisap darah yang aktif pada siang hari, termasuk Stomoxys calcitrans dan Haematobia exigua. Nyamuk serta agas yang lebih aktif pada malam hari lebih banyak memanfaatkan sinyal kimia dan panas tubuh inang, sehingga pengaruh pola garis diperkirakan lebih kecil.

Berawal dari Kajian Zebra

Gagasan Kojima muncul setelah ia menyaksikan program televisi mengenai berbagai hipotesis fungsi garis pada zebra. Ia kemudian menelusuri studi ahli biologi evolusi University of Bristol, Tim Caro, yang terbit pada 2014.

Studi Caro menelaah kaitan pola garis zebra dengan iklim, sebaran predator besar, dan keberadaan hama. Hasilnya mengarah pada kemungkinan bahwa garis zebra terutama berevolusi untuk mengusir hama, bukan sebagai kamuflase, pendingin tubuh, atau penanda sesama zebra.

Laporan sebelumnya juga memperlihatkan lalat cenderung menghindari permukaan dengan pola hitam-putih. “Makalah Caro itulah yang memberi saya ide untuk penelitian kami,” ujar Kojima seperti dikutip Kompas.com.

Alternatif Mantel Zebra

Gagasan serupa pernah diwujudkan mahasiswa IPB University melalui inovasi MANCEZ pada Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta 2021. Berbeda dari penelitian Kojima, MANCEZ menggunakan mantel bermotif zebra yang dikenakan pada sapi.

Inovasi yang dikembangkan Cahya Jupisa dan tim di bawah bimbingan Prof Upik itu dilaporkan mengurangi gigitan Stomoxys calcitrans sekitar 50 persen. Mantel tersebut juga disebut membantu menjaga kenyamanan suhu tubuh dan menekan stres akibat serangga.

Penerapan pola zebra pada peternakan Indonesia masih perlu menguji keamanan bahan cat, daya tahannya di iklim tropis, ukuran garis paling efektif, serta biayanya bagi peternak. Penghargaan Ig Nobel dari Annals of Improbable Research memang dikemas dengan humor, tetapi riset ini tetap menawarkan pendekatan nyata bagi kesehatan dan kenyamanan ternak.

Berita Terbaru