Pemerintah Kuba langsung mengecam dakwaan baru Amerika Serikat terhadap Raul Castro dan menyebutnya sebagai langkah politis. Presiden Miguel Diaz-Canel menegaskan bahwa Kuba akan tetap berjalan di jalur kedaulatan dan pembangunan sosialis meski berada di bawah embargo, sanksi, dan ancaman penggunaan kekuatan.
Tuduhan itu kembali membuka luka lama dari insiden penembakan dua pesawat sipil pada 1996, yang menewaskan empat orang. Di Washington, langkah tersebut dibaca sebagai sinyal bahwa pemerintahan Donald Trump makin keras menekan Havana, bukan hanya lewat jalur ekonomi, tetapi juga lewat tekanan hukum dan politik.
Dakwaan pidana terhadap Raul Castro diajukan dari Miami, wilayah yang menjadi pusat besar komunitas pengasingan Kuba. Jaksa agung sementara AS Todd Blanche menyebutnya sebagai momen bersejarah, karena untuk pertama kalinya dalam hampir 70 tahun seorang pimpinan senior Kuba didakwa di Amerika Serikat atas tindakan kekerasan yang menewaskan warga AS.
Castro kini berusia 94 tahun, tetapi namanya masih punya bobot besar dalam politik Kuba. Ia tetap dipandang sebagai salah satu figur paling berpengaruh setelah kematian Fidel Castro pada 2016, sehingga dakwaan ini menyasar tokoh yang memiliki nilai simbolik kuat bagi kedua negara.
Kasus ini terkait penembakan dua pesawat milik kelompok pengasingan Kuba, Brothers to the Rescue. Kelompok itu dikenal kerap mencari migran Kuba di Selat Florida dan sering terbang dekat wilayah Kuba.
Empat orang yang tewas dalam peristiwa tersebut ialah Carlos Costa, Armando Alejandre Jr, Mario de la Pena, dan Pablo Morales. Saat kejadian, Raul Castro menjabat sebagai menteri pertahanan Kuba dan kini didakwa dengan satu tuduhan konspirasi untuk membunuh warga AS, empat tuduhan pembunuhan, serta dua tuduhan penghancuran pesawat.
Pemerintah Kuba saat itu menyebut serangan itu sebagai respons sah atas pelanggaran berulang terhadap wilayah udaranya. Fidel Castro juga mengatakan militer bertindak berdasarkan “standing orders” untuk menembak jatuh pesawat yang memasuki wilayah Kuba.
Washington mengecam serangan itu dan menjatuhkan sanksi, tetapi dakwaan pidana terhadap kedua bersaudara Castro baru muncul kemudian. Pada 2003, Departemen Kehakiman AS sudah lebih dulu mendakwa tiga perwira militer Kuba terkait insiden yang sama, sementara Organisasi Penerbangan Sipil Internasional menyimpulkan pesawat itu ditembak jatuh di atas perairan internasional.
Tekanan terhadap Kuba tidak berhenti di ranah hukum. Sejak kembali menjabat untuk masa kedua, Trump memperketat sanksi dan menerapkan blokade bahan bakar de facto untuk menekan perubahan kepemimpinan di Havana.
Pada hari yang sama, Trump juga mengirim sinyal keras dengan mengatakan Amerika tidak akan mentolerir negara nakal yang menjalankan operasi militer, intelijen, dan teror asing hanya 90 mil dari wilayah AS. Pernyataan itu menambah kesan bahwa Washington sedang mengencangkan kembali cengkeraman terhadap Kuba.
Tekanan ekonomi ikut meningkat bersamaan dengan dakwaan tersebut. Sejak 1960-an, AS sudah memberlakukan embargo dagang terhadap Kuba, yang menjadi embargo terpanjang terhadap negara mana pun dalam sejarah modern.
Pada Januari, Trump memutus pertukaran dana dan bahan bakar antara Venezuela dan Kuba. Ia juga mengancam sanksi ekonomi terhadap negara mana pun yang memasok bahan bakar ke Kuba, yang pada praktiknya memperkuat blokade atas pasokan minyak asing pulau itu.
Dampaknya terasa langsung di Kuba yang sangat bergantung pada impor minyak. Infrastruktur yang sudah tua membuat pulau itu mengalami pemadaman listrik di berbagai wilayah dalam beberapa bulan terakhir, di tengah krisis ekonomi yang berat.
Marco Rubio, menteri luar negeri AS yang juga keturunan Kuba, ikut merespons lewat video di X. Ia menyalahkan kepemimpinan saat ini atas masalah ekonomi dan kemanusiaan di Kuba, sekaligus menegaskan kembali tawaran bantuan kemanusiaan AS senilai 100 juta dolar sebagai imbalan atas reformasi.
Raul Castro sendiri memiliki riwayat panjang dalam hubungan tegang dengan Washington. Ia lahir pada 1931 dan berperan sentral bersama Fidel dalam gerakan pemberontakan yang menggulingkan Fulgencio Batista, pemimpin yang didukung AS.
Ia juga membantu menahan invasi Teluk Babi pada 1961 dan kemudian menjadi tokoh utama Revolusi Kuba. Dari 1959 hingga 2008, ia menjabat sebagai menteri angkatan bersenjata Kuba, salah satu masa jabatan terpanjang di dunia untuk posisi itu, sambil menjadi anggota Politbiro Partai Komunis dari 1965 hingga 2021.
Setelah menggantikan Fidel sebagai presiden pada 2008, Raul Castro sempat memimpin masa pencairan hubungan dengan Washington di bawah Barack Obama. Pada 2013, Castro dan Obama berjabat tangan di upacara peringatan Nelson Mandela di Johannesburg, lalu setahun kemudian kedua pemerintah mengumumkan rencana memulihkan hubungan diplomatik dan membuka kembali kedutaan setelah lebih dari lima dekade permusuhan.
Obama kemudian mengunjungi Havana pada 2016 dan menjadi presiden AS yang sedang menjabat pertama yang datang ke Kuba dalam 88 tahun. Namun, hubungan itu kembali memburuk pada masa jabatan pertama Trump, yang pada 2019 menjatuhkan sanksi terhadap Castro dan melarangnya masuk ke AS karena dukungan Kuba terhadap pemerintahan Maduro di Venezuela serta dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
Di Havana, pemerintah tetap memandang dakwaan baru ini sebagai manuver tanpa dasar hukum. Diaz-Canel menyebut penembakan pesawat pada 1996 sebagai tindakan pembelaan diri yang sah dan menuduh AS tahu betul bahwa tidak ada tindakan ceroboh maupun pelanggaran hukum internasional.
Ia juga menilai dakwaan itu sebagai upaya politik untuk menyusun berkas yang dapat dipakai membenarkan gagasan agresi militer terhadap Kuba. Di saat yang sama, sejumlah laporan menyebut Trump ingin melihat Diaz-Canel disingkirkan dari jabatan presiden Kuba.
Washington disebut juga telah berbicara dengan sejumlah tokoh, termasuk Raul “Raulito” Rodriguez Castro, cucu Raul Castro, dan Alejandro Castro Espin, putranya. Dakwaan terhadap Raul Castro turut berpotensi menyulitkan negosiasi lanjutan dengan elit Kuba, sementara AS masih mempertahankan kebijakan yang memungkinkan ekspor solar ke sektor swasta kecil Kuba dan tetap membatasi entitas milik negara.







