Dana Asing Tetap Masuk ke IHSG, Tekanan Geopolitik Belum Memadamkan Peluang Naik

Aliran dana asing masih menjadi penopang utama pergerakan IHSG di tengah pasar yang belum benar-benar tenang. Pada perdagangan kemarin, investor asing tercatat membukukan pembelian bersih sekitar Rp243 miliar, meski indeks sempat terkoreksi tipis.

Daya tarik itu terlihat terutama pada saham-saham berbasis komoditas dan energi. Minat asing banyak mengalir ke EMAS, INDY, UNTR, BNBR, dan BULL, yang menunjukkan bahwa sektor terkait sumber daya masih dipandang punya peluang ketika pasar mencari area yang lebih tahan terhadap gejolak.

Saham komoditas masih jadi incaran

Pola pembelian tersebut menegaskan bahwa minat investor global tidak selalu tercermin dari gerak IHSG secara keseluruhan. Saat indeks utama tampak bergerak lebih hati-hati, sejumlah saham justru menerima aliran modal yang cukup jelas di level individu.

Kondisi ini juga memberi sinyal bahwa pasar masih membedakan mana saham yang dianggap menarik dan mana yang masih menunggu kepastian sentimen. Dalam situasi seperti ini, arus dana asing kerap dipantau sebagai petunjuk awal untuk membaca saham yang berpotensi bergerak lebih kuat dibanding indeksnya.

Tekanan global belum mereda

Di sisi eksternal, kehati-hatian pasar masih dipicu memanasnya ketegangan geopolitik AS-Iran. Wall Street menutup perdagangan dengan pelemahan, setelah S&P 500 turun 0,63%, sementara Nasdaq Composite dan Dow Jones Industrial Average masing-masing terkoreksi 0,59%.

Pasar juga menangkap sinyal bahwa proses damai belum menunjukkan kepastian dalam waktu dekat. Penundaan rencana kunjungan Wakil Presiden AS, JD Vance, ke proses negosiasi dengan Teheran ikut menambah sikap waspada investor global.

Selain itu, Presiden Donald Trump disebut memperpanjang masa gencatan senjata sampai ada proposal resmi. Namun, ia juga menegaskan militer AS tetap siaga tempur apabila pembicaraan tidak menghasilkan titik temu.

Bursa Asia lebih tahan dibanding Wall Street

Berbanding terbalik dengan Amerika Serikat, mayoritas bursa Asia justru ditutup menguat. Kospi Korea Selatan memimpin penguatan dengan lonjakan 2,7%, disusul Taiex Taiwan yang naik 1,75% dan Nikkei 225 Jepang yang menguat 0,9%.

Penguatan itu ditopang optimisme terhadap saham teknologi, terutama euforia seputar kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. Pasar Asia juga mencermati sidang konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon pimpinan The Fed, yang menegaskan komitmen menjaga independensi kebijakan moneter bank sentral AS.

IHSG masih berpeluang bergerak mendatar

Secara teknikal, IHSG diperkirakan cenderung sideways pada perdagangan hari ini. Area support berada di kisaran 7450-7500 dan menjadi batas penting yang perlu dipertahankan agar indeks tidak kehilangan pijakan jangka pendek.

Jika area tersebut mampu bertahan, IHSG masih memiliki peluang menguji resistance di rentang 7570-7600. Meski begitu, selama sentimen eksternal belum stabil sepenuhnya, ruang kenaikan indeks masih diperkirakan terbatas.

Strategi selektif masih lebih relevan

Dalam kondisi pasar yang bergerak terbatas, strategi trading cepat dinilai lebih relevan dibanding mengejar pergerakan besar. Investor juga perlu lebih selektif dan memperhatikan level teknikal sebelum masuk ke saham tertentu.

BNI Sekuritas mencermati BUMI di area 238-240 dengan target 246-250 dan cut loss di bawah 236. CUAN juga masuk pantauan speculative buy di area 1500-1530 dengan target 1560-1600, sementara BUVA berada di area beli 1285-1300 dan MBMA di rentang 715-730.

Untuk trader yang lebih agresif, VKTR menarik jika mampu menembus 990 dengan target 1005-1030. RLCO dan BDMN juga dipantau, meski likuiditas saham berkapitalisasi kecil tetap perlu diperhitungkan dengan hati-hati.

Dengan dana asing yang masih masuk, tekanan geopolitik yang belum reda, dan bursa Asia yang relatif lebih kuat, IHSG tetap berada dalam fase yang layak dicermati ketat. Pasar kini menunggu apakah indeks mampu bertahan di area support sambil memanfaatkan arus beli asing sebagai penopang gerak berikutnya.

Source: www.suara.com

Berita Terkait