Pembahasan soal kemungkinan masuknya Danantara Indonesia ke saham Eramet di PT Weda Bay Nickel belum berujung pada keputusan apa pun. Rosan Roeslani menegaskan bahwa diskusi yang berjalan masih sangat awal dan belum bisa dipastikan arahnya.
Saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rosan menyampaikan bahwa Danantara tetap terbuka terhadap pembicaraan mengenai investasi strategis yang berkembang di Indonesia. Sikap itu juga menunjukkan bahwa Danantara belum menutup pintu bagi kerja sama baru yang dinilai penting bagi proyek-proyek di dalam negeri.
Rosan menempatkan Danantara sebagai mitra lokal yang kuat untuk mendukung investasi yang membutuhkan dukungan jangka panjang. Namun, ia menegaskan bahwa kabar akuisisi saham Eramet di Weda Bay Nickel belum dapat dipastikan karena komunikasi yang berlangsung masih berada dalam tahap pembahasan.
Pembicaraan masih bergerak di tahap awal
Dalam penjelasannya, Rosan menekankan bahwa dialog dengan Eramet masih berjalan. Hingga saat ini, diskusi tersebut belum menghasilkan keputusan akhir dan belum mengarah pada kepastian transaksi.
Pernyataan itu penting karena Weda Bay Nickel termasuk proyek nikel yang sangat strategis di Indonesia. Setiap pembahasan mengenai investor baru di proyek ini wajar menarik perhatian karena berkaitan langsung dengan arah pengembangan industri nikel nasional.
Keterlibatan Eramet, Danantara, dan INA sudah lebih dulu dibahas
Pembicaraan antara Danantara, Eramet, dan Weda Bay Nickel bukan hal yang benar-benar baru. Sejak 2025, isu tersebut sudah mendapat sorotan setelah CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet, mengungkap adanya pembahasan intens mengenai investasi strategis di sektor nikel bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority atau INA.
Dalam skema yang dibicarakan, Danantara dan INA disebut menggandeng Eramet untuk menjajaki pembentukan platform investasi strategis di sektor nikel dari hulu hingga hilir. Arah pembahasannya tidak hanya soal kepemilikan saham, tetapi juga menyentuh penguatan rantai nilai industri nikel secara lebih luas.
Fokus kerja sama diarahkan ke ekosistem baterai
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, sebelumnya menjelaskan bahwa kolaborasi itu ditujukan untuk membangun ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik yang berkelanjutan dan terintegrasi di Indonesia. Dari situ terlihat bahwa kerja sama yang dibahas memiliki cakupan yang lebih besar daripada satu proyek semata.
Pembagian peran dalam kolaborasi tersebut juga dibuat jelas. Danantara dan INA disebut akan mengelola pembiayaan jangka panjang untuk mendukung pengembangan investasi, sementara Eramet akan menyumbang keahlian teknis dan pengalaman dalam menjalankan proyek pertambangan skala besar dengan standar keberlanjutan internasional.
Weda Bay Nickel tetap jadi titik perhatian
Nama Weda Bay Nickel terus muncul karena proyek ini erat kaitannya dengan pengembangan industri nikel dan rantai pasok baterai kendaraan listrik. Tidak heran jika setiap pembahasan terkait investor strategis di dalamnya langsung menjadi perhatian pasar dan pelaku industri.
Di tengah minat yang meningkat terhadap industri nikel nasional, sikap Danantara memperlihatkan bahwa ruang untuk kerja sama tetap terbuka selama mendukung kepentingan investasi strategis di tanah air. Meski begitu, seluruh proses tetap harus melewati kajian, kesepakatan, dan kejelasan peran dari masing-masing pihak sebelum ada keputusan yang benar-benar final.
Source: www.viva.co.id






