Dari Limbah Kain Hingga Kaleng Bekas, Mutiara Craft Raup Omzet Lebih Dari Rp1 Miliar

Author: Redaksi Android62

Omzet Mutiara Craft kini sudah menembus lebih dari Rp1 miliar per tahun, padahal banyak produknya lahir dari bahan yang kerap dipandang tak bernilai. Dari limbah kain, botol plastik bekas, hingga kaleng minuman, Lilis Suryani membangun usaha kerajinan yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga membuka ruang kerja bagi ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya.

Di pameran UMKM di Jakarta, booth sederhana milik Lilis justru menarik perhatian karena memamerkan tas, tote bag, kain batik, ecoprint, dan aksesori daur ulang. Semua itu menjadi bukti bahwa barang bekas bisa berubah menjadi produk bernilai jual tinggi jika diolah dengan keterampilan dan kreativitas yang tepat.

Dari usaha rumah tangga ke kerajinan daur ulang

Sebelum fokus pada produk daur ulang, Lilis lebih dulu menjalankan usaha bantalan kursi untuk rotan dan kayu. Arah usahanya berubah ketika ia aktif di organisasi dan dipercaya menjadi ketua UKM, lalu terdorong memiliki produk usaha kecil sendiri.

Dari situ lahirlah Mutiara Craft, merek yang kini identik dengan tas, ecoprint, dan souvenir. Lilis memadukan produk ecoprint dan souvenir, termasuk tas-tas yang dibuat untuk keperluan suvenir.

Di tangan Lilis, limbah cushion diubah menjadi tas, botol plastik bekas dihancurkan lalu dipintal menjadi benang, dan kaleng minuman bekas disulap menjadi aksesori maupun bingkai cermin. Produk-produk itu memperlihatkan cara pandang bahwa bahan sisa masih bisa masuk ke pasar dengan nilai jual yang baik.

Modal ditekan, nilai jual tetap dijaga

Bagi Lilis, daur ulang bukan sekadar soal lingkungan. Ia melihatnya sebagai model usaha yang efisien karena modal bisa lebih ditekan, sementara harga jual tetap dapat dijaga lewat ide dan pengolahan yang tepat.

Ia menilai produk recycle punya keunggulan ganda karena membantu mengurangi limbah sekaligus mendukung semangat go green. Dalam praktiknya, botol plastik bekas bisa menjadi bros dan kalung, sedangkan kaleng minuman bekas dapat berubah menjadi bingkai cermin berbentuk daun.

Lilis juga menekankan bahwa kerajinan tangan tidak selalu memiliki harga yang baku. Karena itu, ruang kreativitas menjadi pembeda penting saat produk handmade dipasarkan ke pembeli.

Pola kerja dari rumah untuk ibu rumah tangga

Di balik produk yang rapi, Mutiara Craft juga dibangun dengan pola kerja yang memberi ruang bagi perempuan untuk tetap berada di rumah. Lilis memilih melibatkan ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya agar mereka tetap bisa mengurus keluarga sambil mendapat penghasilan tambahan.

Ia menempatkan mesin jahit di rumah para pekerja, menaikkan daya listrik, lalu mengajari mereka menjahit dengan standar yang lebih rapi. Setelah itu, pesanan dikerjakan dari rumah dan hasil jahitan diantar pada sore hari.

Saat ini, sedikitnya 15 ibu rumah tangga terlibat dalam produksi tas dan kerajinan Mutiara Craft. Mereka menerima gaji setiap Sabtu, dan dari pola kerja ini muncul dampak langsung seperti kemampuan mencicil motor hingga membayar daftar ulang sekolah anak.

Ecoprint menjadi daya tarik tambahan

Selain daur ulang, ecoprint juga menjadi salah satu pembeda utama produk Mutiara Craft. Motif daun asli yang tercetak di kain maupun kulit membuat setiap produk terlihat unik.

Lilis menjelaskan bahwa proses ecoprint bergantung pada alam. Karena itu, susunan daun yang sama pun bisa menghasilkan corak berbeda, sehingga tiap produk memiliki karakter masing-masing.

Keunikan tersebut memberi nilai jual tersendiri di pasar yang makin kompetitif. Karakter visual dan cerita di balik proses pembuatan menjadi kekuatan tambahan bagi produk Mutiara Craft.

Naik kelas lewat pembinaan dan pasar yang lebih luas

Perjalanan usaha Lilis juga didorong oleh pembinaan BRI. Ia aktif mengikuti kurasi, pelatihan, dan pameran UMKM, bahkan pernah masuk 15 besar program Brilianpreneur.

Dari pameran-pameran itu, Lilis mendapatkan pelanggan baru yang tetap datang setelah acara selesai. Menurutnya, pembinaan seperti ini penting karena membantu pelaku usaha naik kelas sekaligus memperluas jaringan pasar.

Di tingkat yang lebih luas, LKPP mencatat kontribusi UMKM dalam belanja negara melalui pengadaan telah mencapai sekitar 44%. Sekretaris Utama LKPP Iwan Herniwan menyebut peningkatan itu didukung penguatan mekanisme pasar, termasuk lewat katalog elektronik atau e-katalog.

Wakil Menteri UMKM Helvi Moraza juga menegaskan pemerintah terus membuka akses pembiayaan dan pasar seluas-luasnya bagi pelaku usaha. Namun, tantangan terbesar tetap ada pada kesiapan internal UMKM, terutama legalitas, manajemen usaha, dan literasi keuangan.

Bagi Lilis, semua itu kembali pada satu hal sederhana: limbah bisa berubah menjadi peluang ekonomi jika diolah dengan ide, keterampilan, dan jaringan yang tepat. Dari sebuah booth kecil di pameran, pesan itu terlihat lewat tas, ecoprint, dan kerajinan yang lahir dari kerja banyak tangan, termasuk tangan para ibu rumah tangga yang kini ikut berdaya.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru