Ketika banyak orang mengaitkan mesin Jerman dengan tenaga besar, kisah paling menarik justru ada pada rentang yang sangat lebar. Dari unit satu silinder pada kendaraan yang dianggap mobil pertama di dunia, sampai mesin W16 quad-turbo 8,0 liter dengan 1.479 bhp, sejarah ini menunjukkan bahwa pengaruh sebuah mesin tidak selalu diukur dari angka tenaga semata.
Di tengah rentang itu, Jerman berkali-kali mengubah arah teknologi otomotif. Ada mesin yang membuka jalan bagi mobil pertama, ada yang membawa diesel menang di lintasan, dan ada pula yang membuat empat silinder, lima silinder, delapan silinder, hingga enam belas silinder tampil jauh melampaui batas lama.
Mesin yang membentuk sejarah, bukan hanya angka
Salah satu titik awal paling penting datang dari Benz Patent Motorwagen. Kendaraan ini memakai mesin satu silinder rancangan Karl Benz pada 1885, dengan kapasitas 954cc dan output yang bahkan belum sampai 1 bhp.
Mesin itu memang sangat sederhana, tetapi perannya sangat besar. Benz kemudian mengembangkan versi yang lebih kuat hingga 2 bhp, dan unit inilah yang menempel pada kendaraan yang luas dianggap sebagai mobil pertama di dunia.
Di sisi lain, ada Blitzen Benz yang memperlihatkan sisi paling ekstrem dari ambisi kecepatan. Mobil ini memakai mesin empat silinder setidaknya 12 liter, lalu Benz membuat versi 21,5 liter untuk mengejar rekor kecepatan tertinggi.
Mesin besar itu membantu target 200 km/jam tercapai dalam upaya Land Speed Record pada 1909. Bob Burman kemudian mencatat lari 142 mph, dan pada saat itu kendaraan itu menjadi yang tercepat yang pernah bergerak, termasuk dibanding pesawat.
Era balap brutal dan mesin raksasa
Pada 1930-an, nama Auto Union V16 ikut mendefinisikan era Grand Prix yang sangat keras. Mesin rancangan Porsche ini tidak dibangun untuk putaran tinggi, tetapi torsinya sangat besar dan tenaganya terasa brutal.
Versi terakhirnya berkapasitas 6,3 liter dan menghasilkan 545 bhp untuk rekor kecepatan. Setelah aturan berubah pada 1938, Auto Union lalu beralih ke mesin V12 3,0 liter untuk balap Grand Prix.
Mercedes juga menorehkan bab penting pada periode yang sama lewat DB603. Mesin V12 44,5 liter ini menghasilkan sekitar 3000 bhp untuk Mercedes T80 yang disiapkan mengejar Land Speed Record.
Proyek itu akhirnya dihentikan ketika target kecepatan sudah tertinggal 21 mph dari rekor yang baru. Namun, skala mesin tersebut tetap memperlihatkan betapa ekstremnya ambisi teknik pada masa itu.
Diesel, reli, dan pembuktian di lintasan
Lompatan besar berikutnya datang dari Audi R10 TDI. Mesin diesel V12 5,5 liter twin-turbo ini debut pada 2006 dan langsung menang di Le Mans 24 Hours, Sebring 12 Hours, serta kelas LMP1 American Le Mans Series.
Audi kemudian mengulang kemenangan di Le Mans dan ALMS pada 2007 dan 2008 sebelum R10 digantikan R15 TDI. Hasil itu membuktikan bahwa diesel bisa menang di balap ketahanan, meski warisan balap TDI juga meninggalkan jejak yang rumit.
Di reli, Audi R5 punya pengaruh besar lewat keluarga mesin lima silinder. Salah satu yang paling dikenal adalah versi 2,1 liter turbo pada Audi Quattro sejak 1980, yang membantu Audi mendominasi reli internasional pada awal 1980-an.
Traksi four-wheel drive membuat tenaga mesin itu lebih mudah disalurkan di permukaan kerikil. Kombinasi tersebut membuat Audi tampil sangat kuat dalam fase penting sejarah reli.
Mesin jalan raya yang ikut mengubah citra performa
BMW M20 dikenal sebagai straight-six yang halus dan fleksibel. Mesin ini hadir pada 3 Series dan 5 Series sejak 1977 sebagai unit 2,0 liter, lalu berkembang hingga 2,7 liter.
BMW M1 roadster juga sempat memakai M20 dalam bentuk 2,5 liter. Karakter mesin ini membuatnya menempati posisi penting di jalan raya tanpa kehilangan identitas khas BMW.
Berbeda dengan itu, BMW S14 lebih fokus pada putaran tinggi dan dunia motorsport. Mesin empat silinder ini dipakai pada BMW M3 generasi pertama, hadir sebagai 2,3 liter untuk mobil jalan raya, membesar menjadi 2,5 liter, dan sering diperkecil lagi menjadi 2,0 liter untuk balap agar sesuai regulasi.
Mercedes M156 membawa makna lain karena menjadi mesin pertama yang benar-benar dirancang dari nol oleh AMG. V8 hampir 6,2 liter itu dipakai pada E 63 AMG dan versi performa tinggi R-Class MPV, dengan tenaga mencapai 518 bhp.
Mercedes M196 juga penting di level balap klasik. Mesin straight-eight 2,5 liter ini dibuat untuk W196 Grand Prix dan diperbesar menjadi 2,9 liter untuk 300 SLR, lengkap dengan direct fuel injection dan desmodromic valves.
Dari empat silinder modern sampai eksperimen langka
Di era modern, Mercedes M139 membawa empat silinder ke level baru. Mesin dua liter turbo ini dipasang pada Mercedes-AMG A 45, CLA 45, dan GLA 45, dengan output 382 bhp atau 416 bhp.
Versi terkuatnya disebut sebagai mesin empat silinder produksi paling bertenaga. Itu membuat M139 menjadi contoh bagaimana kapasitas kecil tetap bisa menghasilkan performa besar.
Volkswagen EA827 juga punya pengaruh luas karena dipakai di banyak model lintas merek. Mesin ini debut di Audi 80 pada 1972, hadir dalam kapasitas 1,3 hingga 2,0 liter, dan dipakai di banyak VW, Audi, SEAT, serta Skoda.
Golf GTI generasi pertama juga ikut memakai mesin ini. Sementara itu, Volkswagen Type 1 punya umur yang jauh lebih panjang karena dipakai sepanjang hidup Volkswagen Beetle dari 1938 sampai 2003, lalu hadir juga pada Type 2, Type 3 saloon, Karmann Ghia, dan banyak pesawat ringan.
Puncak eksperimen dari Volkswagen dan Bugatti
Volkswagen juga pernah menghadirkan mesin yang sangat unik lewat W8. Mesin 4,0 liter ini menghasilkan hingga 271 bhp dan hanya dipakai pada Passat produksi.
Tidak ada penerus langsung untuk mesin tersebut sampai sekarang. Itu menjadikannya salah satu contoh paling langka dari eksperimen teknis yang benar-benar masuk jalur produksi.
Di puncak daftar, Bugatti W16 berdiri sebagai simbol ekstrem modern. Mesin quad-turbo 8,0 liter ini menggabungkan dua V8 narrow-angle 4,0 liter pada satu crankcase, dan sempat tampil di concept car Audi Rosemeyer serta Bentley Hunaudieres.
Mesin itu lalu masuk produksi lewat Bugatti Veyron, sebelum tenaganya dinaikkan menjadi 1.479 bhp pada Chiron. Pada titik ini, sejarah mesin Jerman bukan lagi sekadar soal ukuran atau silinder, tetapi soal sejauh apa performa bisa terus didorong maju.







