Di tengah dorongan digitalisasi yang makin kuat, PHARMAP 2026 di Amsterdam memperlihatkan bahwa smart pharma sudah masuk fase penggunaan nyata. Lebih dari 180 perusahaan berkumpul untuk membahas AI, serialisasi, smart manufacturing, dan alat digital yang kini tidak lagi berhenti di level konsep.
Pergeseran ini terasa penting karena industri farmasi masih belum sepenuhnya lepas dari hambatan implementasi. Pada 2025, proses manual memang turun menjadi 1%, tetapi 69% perusahaan masih kesulitan menerapkan solusi digital secara penuh.
Manufaktur cerdas mulai menggantikan pola batch
Salah satu fokus terbesar di kongres itu adalah continuous manufacturing. Devendra Ridhurkar, CEO dan Founder RidNova Pharmaceuticals, menyoroti teknologi inti yang membantu industri bergerak melampaui batch processing tradisional.
Ia menekankan peran Process Analytical Technology atau PAT untuk pemantauan real-time dan kontrol umpan balik dalam proses Hot Melt Extrusion. Menurut Ridhurkar, pendekatan ini meningkatkan efisiensi, reproducibility, dan keandalan produk saat near-infrared atau NIR dan Raman spectroscopy dipasang langsung ke lini ekstrusi.
Integrasi itu membuat pengukuran bisa dilakukan tanpa merusak produk. Ketika data analitik digabungkan dengan AI, produsen dapat mendeteksi deviasi proses lebih cepat dan segera mengambil tindakan korektif.
Mutu bergeser dari pemeriksaan belakang ke prediksi
Pembahasan berikutnya bergerak ke quality assurance berbasis prediksi. Bert von Garrel, CEO StatSoft GmbH, menilai industri farmasi sudah kaya data, sangat terkontrol, dan terdokumentasi ketat, tetapi pengelolaan mutunya masih sering bersifat retrospektif.
Pendekatan advanced analytics mengubah fokus dari sekadar memastikan parameter masih dalam batas menjadi memahami apakah proses berjalan sesuai perilaku idealnya. StatSoft menggabungkan root cause analysis, multivariate process monitoring, process capability, variation analysis, dan golden batch modelling untuk mempercepat pelacakan sumber deviasi.
Von Garrel juga menyoroti predictive maintenance di lingkungan GMP. Model AI dapat membaca getaran, sinyal akustik, pola tekanan, dan perilaku suhu untuk mendeteksi penyimpangan peralatan sebelum kegagalan terjadi.
Keamanan produk ikut masuk ke lapisan digital
Di saat manufaktur dan mutu makin terdigitalisasi, perlindungan merek juga ikut berubah. Pemalsuan tetap menjadi risiko penting bagi keselamatan pasien, apalagi Operation Pangea XVI oleh Interpol pada 2025 menyita 50,4 juta dosis obat yang tidak disetujui di seluruh dunia.
Nina Zehetmaier, Head of Sales Securikett, menawarkan pendekatan keamanan modular yang melampaui serialisasi tradisional. Sistem itu menggabungkan tamper-evident labels, unique QR-based identifiers, security printing, NFC/RFID integration, dan anti-cloning technologies dalam satu kerangka terintegrasi.
Smart security labelling menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut. Setiap produk mendapat identitas unik yang dapat dipindai lewat ponsel tanpa aplikasi khusus, sehingga pasien, apoteker, dan mitra rantai pasok bisa memverifikasi produk dengan cepat.
Traceability juga menyentuh kebutuhan publik
Selain untuk industri, jejak digital juga dipakai dalam skala layanan kesehatan yang lebih luas. Max Kabalisa, Manager of Digitisation & Traceability di UNICEF, memaparkan Verification and Traceability Initiative atau VTI yang dirancang membantu negara membangun rantai pasok obat yang aman dan transparan.
Program multi-stakeholder itu berdiri di atas tiga pilar, yaitu Collaborate, Educate, dan Enable. Dari inisiatif tersebut lahir TRVST, platform digital unggulan UNICEF untuk traceability.
TRVST mencakup TRVST Verify untuk verifikasi kemasan lewat ponsel, TRVST Digital Link Resolver untuk akses konten digital seperti e-leaflets, serta TRVST Hub sebagai titik integrasi ke sistem traceability nasional. UNICEF menyebut sistem itu sudah ada di 15 negara, memuat lebih dari 50 juta serialized packs dan 210 produk yang aktif diverifikasi serta terus bertambah.
Teknologi lapangan yang langsung bisa dipakai
Di area pameran fokus PHARMAP 2026, lebih dari 40 vendor menampilkan perangkat dan layanan yang ditujukan untuk mempercepat proses farmasi. ATS Automation Tooling Systems GmbH memperlihatkan PharmaScan untuk inspeksi berkecepatan tinggi dan traceability yang andal.
Identiv membawa inovasi NFC, HF, BLE, dan UHF untuk autentikasi produk dan koneksi ke ekosistem digital. Sementara itu, BWT Pharma memperkenalkan AQU@Sense MB, teknologi pemantauan mikroba cerdas untuk sistem air farmasi.
Alat tersebut memangkas waktu hasil uji dari tiga sampai lima hari menjadi 20 menit, tanpa penanganan manual dan tanpa bahan kimia. Sistem ini memantau tren mikroba secara real-time dan memberi peringatan dini sebelum kualitas air melewati batas aman.
Teknologi itu juga sudah divalidasi untuk EU GMP Annex 1, USP, dan Ph. Eur. 5.1.6. Dengan begitu, pengawasan air bergeser dari reaktif menjadi lebih proaktif, sejalan dengan arah besar smart pharma yang mulai benar-benar dipakai di lapangan.
