Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 keluar sebagai pilihan nomor satu Daniel Radcliffe ketika ia diminta menyusun peringkat delapan film waralaba itu lewat format adu langsung. Hasil tersebut langsung mencuri perhatian karena banyak penggemar selama ini lebih sering menjagokan judul lain sebagai film terbaik di semesta Harry Potter.
Pilihan Radcliffe muncul dalam sesi di SP!VIN, tetapi cara pemilihan yang dipakai bukan daftar biasa dari peringkat delapan sampai satu. Ia harus membandingkan film secara berpasangan, sehingga setiap keputusan lahir dari duel singkat yang membuat hasil akhirnya sangat dipengaruhi oleh bracket yang terbentuk.
Bagaimana Deathly Hallows – Part 2 mencapai puncak
Di jalur menuju final, Deathly Hallows – Part 2 terlebih dulu mengalahkan Deathly Hallows – Part 1. Film itu kemudian kembali menang saat berhadapan dengan Order of the Phoenix di semifinal, lalu menutup turnamen dengan kemenangan atas Goblet of Fire pada partai final.
Format seperti ini membuat tiap pilihan Radcliffe terasa spontan karena ia tidak menilai semua film dalam satu daftar utuh. Setiap judul hanya bertemu lawan yang ada di hadapannya saat itu, sehingga hasil akhirnya sangat bergantung pada urutan pertandingan yang tersaji.
Sejumlah pilihan awal ikut mengejutkan penggemar
Sebelum sampai ke puncak, ada beberapa hasil yang memicu perdebatan lebih dulu. Chamber of Secrets berhasil menyingkirkan Philosopher’s Stone pada putaran awal, sedangkan Goblet of Fire mengalahkan Prisoner of Azkaban setelah Radcliffe disebut tidak mudah mengambil keputusan.
Di sisi lain, Order of the Phoenix juga melaju dengan menyingkirkan Half-Blood Prince. Hasil-hasil itu memperlihatkan bahwa penilaian Radcliffe tidak selalu sejalan dengan dugaan umum penggemar yang sudah punya favorit masing-masing.
Kenapa hasil ini terasa tidak biasa
Banyak penggemar selama ini lebih sering menempatkan Prisoner of Azkaban atau Goblet of Fire sebagai kandidat kuat Film Harry Potter terbaik. Karena itu, ketika Deathly Hallows – Part 2 keluar sebagai juara, respons publik pun terbagi antara yang setuju dan yang merasa hasilnya mengejutkan.
Salah satu eliminasi yang paling banyak disorot adalah tersingkirnya Half-Blood Prince pada babak pembuka. Sebagian penggemar menilai film itu punya nuansa yang lebih gelap dan pengembangan karakter yang kuat, sehingga pantas bertahan lebih lama dalam turnamen tersebut.
Di kolom komentar Instagram yang dikutip dalam referensi, reaksi penonton memang beragam. Ada yang menganggap pilihan Radcliffe masuk akal, tetapi ada juga yang merasa Half-Blood Prince seharusnya tidak cepat tersingkir.
Bracket membuat penilaian terasa berbeda
Hal penting dari hasil ini adalah formatnya memang bukan daftar favorit biasa. Dalam sistem turnamen head-to-head, sebuah film hanya diuji melawan lawan yang muncul pada babak itu, jadi hasil akhir bisa berubah jika susunan duel berbeda.
Karena itu, posisi nomor satu Deathly Hallows – Part 2 sebaiknya dibaca sebagai hasil dari rangkaian pilihan cepat, bukan penilaian mutlak yang menutup semua kemungkinan lain. Referensi juga menegaskan bahwa hasil seperti ini bisa saja berbeda jika Radcliffe diminta menyebut film favoritnya secara langsung tanpa mekanisme adu langsung.
Berikut urutan duel yang membentuk hasil akhir: Chamber of Secrets menang atas Philosopher’s Stone, Goblet of Fire menang atas Prisoner of Azkaban, Order of the Phoenix menang atas Half-Blood Prince, Deathly Hallows – Part 2 menang atas Deathly Hallows – Part 1, Goblet of Fire menang atas Chamber of Secrets, Deathly Hallows – Part 2 menang atas Order of the Phoenix, lalu Deathly Hallows – Part 2 menang atas Goblet of Fire.
Perdebatan soal film Harry Potter terbaik tampaknya memang belum akan selesai. Namun pilihan Daniel Radcliffe memberi sudut pandang lain, terutama karena film penutup saga justru muncul sebagai juara di tengah ekspektasi banyak penggemar yang selama ini lebih sering menjagokan judul berbeda.
