Demam AI Menekan Penjualan PC, Produsen Motherboard Pangkas Target Hingga 28%

Pasar motherboard global sedang menghadapi tekanan besar di saat permintaan chip untuk kecerdasan buatan terus melonjak. Di tengah pergeseran itu, banyak pembeli laptop dan perakit PC justru menahan belanja karena harga komponen inti makin tinggi dan pilihan produk baru belum cukup menggoda.

Situasi ini membuat pasar komputer konsumen kehilangan daya tarik. Bagi banyak pengguna, membeli laptop baru atau merakit PC baru tidak lagi terasa mendesak ketika RAM, SSD, dan prosesor naik dalam enam bulan terakhir.

Prioritas industri chip bergeser

Dorongan terbesar datang dari kelangkaan chip global yang ikut mengubah arah produksi para produsen semikonduktor. Nvidia, Intel, dan AMD disebut lebih fokus menggarap chip untuk server AI ketimbang komponen untuk komputer konsumen.

Perubahan prioritas itu berdampak langsung ke pasar perangkat tradisional. Saat pasokan komponen semakin ketat, harga ikut terdorong naik dan pembeli pun semakin berhati-hati.

Di saat yang sama, inovasi produk baru belum cukup kuat untuk memicu gelombang pembaruan perangkat. Kondisi ini membuat banyak pengguna memilih bertahan dengan laptop atau PC lama mereka lebih lama dari biasanya.

Pembeli menahan upgrade

Penundaan upgrade menjadi salah satu efek paling terasa di pasar. Ketika komponen inti untuk rakitan baru tidak lagi murah, keputusan membeli motherboard atau perangkat pendukung lain ikut tertahan.

Di sisi ritel, situasinya juga tidak sederhana. Harga komponen PC terus tertekan oleh demam AI, tetapi sejumlah retailer justru mulai memberi diskon motherboard untuk mengurangi stok yang menumpuk.

Tekanan itu menunjukkan bahwa pasar konsumen dan pasar AI bergerak ke arah yang berlawanan. Satu sisi menyerap pasokan komponen, sementara sisi lain kehilangan pembeli karena biaya masuk yang makin tinggi.

Produsen motherboard ikut menyesuaikan target

Dampak pelemahan permintaan membuat empat produsen motherboard terbesar dunia menurunkan proyeksi penjualan. Asus, Gigabyte, MSI, dan ASRock sama-sama merevisi target mereka ke bawah, menurut Digitimes.

Asus diperkirakan hanya menjual sekitar 10 juta motherboard pada 2026, turun 33% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 15 juta unit. Gigabyte juga memangkas target menjadi 9 juta unit dari sebelumnya 11,5 juta unit.

MSI menurunkan proyeksi menjadi 8,4 juta unit dari 11 juta unit pada tahun lalu. ASRock menghadapi tekanan paling berat karena pengirimannya diprediksi turun 37% dari 4,3 juta unit menjadi hanya 2,7 juta unit sepanjang tahun ini.

Pasar global diperkirakan menyusut tajam

Secara keseluruhan, pasar motherboard global diperkirakan menyusut hingga 28% pada 2026. Angka itu menegaskan bahwa lonjakan kebutuhan chip AI tidak hanya menciptakan peluang besar di pusat data, tetapi juga menekan segmen komputer konsumen.

Bagi pembeli, masalah utamanya bukan sekadar harga yang lebih mahal. Nilai pembaruan perangkat juga terasa kurang menarik karena belum ada lompatan besar dari produk baru yang tersedia saat ini.

Kondisi tersebut membuat banyak orang memilih mempertahankan perangkat lama, terutama mereka yang memiliki anggaran terbatas. Selama tekanan biaya masih tinggi dan jadwal produk baru belum memberi kejutan besar, pasar laptop dan PC konsumen diperkirakan tetap berjalan dengan ritme yang lebih lambat.

Produsen mulai mengalihkan arah bisnis

Sejumlah pemain motherboard juga mulai mencari peluang di luar pasar konsumen. Asus, Gigabyte, dan ASRock disebut mulai mengalihkan bisnis ke server AI untuk ikut memanfaatkan pembangunan pusat data raksasa oleh perusahaan hyperscaler global.

Arah ini memperlihatkan perubahan besar dalam industri komputer. Saat pasar AI terus menyedot pasokan komponen, segmen laptop dan PC harus berusaha keras mempertahankan minat pembeli di tengah biaya yang terus naik.

Source: www.cnbcindonesia.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer