Kemensos kini menempatkan desil kesejahteraan sebagai dasar utama dalam menentukan penerima PKH dan BPNT. Karena itu, warga yang merasa miskin belum tentu otomatis masuk daftar bantuan jika posisinya tidak berada pada kelompok prioritas dalam data resmi.
Sistem ini bersandar pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN. Di dalamnya, kondisi keluarga dinilai lewat sejumlah indikator sosial dan ekonomi sebelum diperingkat ke dalam kelompok desil.
Desil 1 sampai 4 jadi prioritas utama
Kementerian Sosial menetapkan desil 1 hingga 4 sebagai kelompok utama penerima bansos PKH dan Program Sembako atau BPNT. Artinya, bantuan dipusatkan lebih dulu pada keluarga dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
Desil sendiri adalah pengelompokan kesejahteraan keluarga yang dibagi ke dalam 10 tingkat. Desil 1 berada di posisi terbawah dan mewakili 10 persen keluarga dengan kesejahteraan paling rendah, sedangkan desil 10 berada di tingkat tertinggi.
Penilaian ini tidak berdiri pada perkiraan pribadi warga. Status penerima ditentukan dari data resmi yang tersimpan dalam sistem dan dipakai untuk memastikan bantuan mengalir ke keluarga yang paling membutuhkan.
Warga di luar prioritas bisa gugur
Karena memakai pemeringkatan kesejahteraan, tidak semua warga miskin otomatis lolos sebagai penerima. Warga yang berada di luar desil 1 sampai 4 dapat gugur meski merasa layak menerima bantuan.
Kemensos menggunakan sejumlah indikator untuk menghitung desil keluarga. Indikator itu mencakup pekerjaan, pendidikan, kondisi rumah, daya listrik, dan kepemilikan aset keluarga.
Skema ini membuat penyaluran bantuan tidak dibagi secara seragam. Pemerintah memilih kelompok yang dinilai paling membutuhkan agar bantuan lebih tepat sasaran sesuai kondisi sosial ekonomi tiap keluarga.
Desil 5 masih punya peluang di bantuan lain
Di luar PKH dan BPNT, Kemensos masih memberi ruang bagi desil 5 untuk masuk ke Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan atau PBI-JK. Pembagian ini menunjukkan bahwa setiap program punya sasaran yang berbeda.
Dengan pola tersebut, status dalam DTSEN menjadi penentu penting bagi jenis bantuan yang bisa diterima. Karena itu, posisi desil keluarga perlu dipahami agar masyarakat tahu peluang mereka dalam masing-masing program.
Cara cek status penerima lewat situs resmi
Masyarakat dapat memeriksa status penerima bansos dan kelompok desil melalui situs cekbansos.kemensos.go.id. Pengguna cukup memasukkan NIK 16 digit sesuai KTP dan kode verifikasi yang muncul di layar.
Setelah data diisi, tekan tombol “Cari Data” untuk melihat status penerima dan kelompok desil. Jika kode verifikasi sulit terbaca, pengguna bisa menekan tombol refresh untuk mendapatkan kode baru.
Layanan ini penting karena data di sistem menjadi dasar utama penentuan penerima. Melalui pemeriksaan mandiri, warga bisa mengetahui posisi desil tanpa harus menunggu informasi dari pihak lain.
Nominal bantuan disesuaikan dengan kategori
Untuk Program Sembako atau BPNT, bantuan diberikan sebesar Rp200 ribu per bulan. Jika dicairkan per tahap tiga bulanan, jumlahnya menjadi Rp600 ribu.
Bantuan PKH dibagi menurut kategori penerima manfaat. Ibu hamil dan ibu nifas menerima Rp750 ribu, anak usia dini 0-6 tahun juga Rp750 ribu, sementara lansia di atas 60 tahun dan penyandang disabilitas berat masing-masing memperoleh Rp600 ribu.
Kategori siswa juga memiliki nominal berbeda sesuai jenjang pendidikan. Siswa SD sederajat mendapat Rp225 ribu, siswa SMP sederajat Rp375 ribu, dan siswa SMA sederajat Rp500 ribu.
Ada pula kategori korban pelanggaran hak asasi manusia berat yang menerima bantuan tertinggi sebesar Rp2,7 juta. Pembagian nominal ini memperlihatkan bahwa nilai bantuan disusun mengikuti kelompok sasaran dan kebutuhan masing-masing.
Penyaluran dilakukan bertahap dan data bisa diperbarui
Bansos disalurkan bertahap melalui bank Himbara dan PT Pos Indonesia. Karena itu, jadwal pencairan bisa berbeda antar daerah meski program yang diterima sama.
Jika masyarakat merasa data bansos tidak sesuai, pembaruan dapat diajukan melalui desa, kelurahan, dinas sosial, atau aplikasi Cek Bansos. Jalur ini dipakai agar data penerima tetap menyesuaikan kondisi terbaru di lapangan.
Dengan sistem berbasis desil, Kemensos menempatkan bantuan pada keluarga yang dinilai paling membutuhkan berdasarkan data kesejahteraan. Sementara itu, masyarakat tetap bisa memeriksa dan memperbarui status mereka lewat layanan resmi yang tersedia.







