Di Beberapa Negara, Ikan Sapu-Sapu Malah Jadi Lauk Harian Dan Penekan Invasif

Author: Redaksi Android62

Di sejumlah negara, ikan sapu-sapu justru masuk ke dapur dan diolah menjadi makanan lokal, meski di Indonesia ikan ini lebih sering dianggap hama perairan. Perbedaan sikap itu memperlihatkan bahwa status ikan sapu-sapu sangat bergantung pada cara tiap wilayah memandang, memanfaatkan, dan mengendalikan spesies ini.

Di Meksiko, ikan sapu-sapu dikenal sebagai pez diablo dan dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya pengendalian spesies invasif. Negara itu juga menilai dagingnya rendah lemak dan tinggi protein, sementara data setempat menyebut kandungan logam berat serta senyawa organoklorin masih berada di bawah ambang batas standar kesehatan.

Filipina mengambil jalan yang mirip di beberapa wilayah ketika populasi ikan ini meningkat di sungai tertentu. Walau tidak seterkenal nila atau bangus, ikan sapu-sapu tetap dipakai sebagai pangan alternatif sambil membantu menekan penyebaran spesies invasif.

Di India, konsumsi ikan sapu-sapu masih terbatas. Ikan ini mulai dikenal sebagai bahan pangan melalui pengaruh praktik kuliner dari Amerika Latin dan Meksiko, tetapi secara umum tetap dipandang sebagai spesies invasif.

Tradisi makan di sungai besar Amerika Selatan

Sikap yang berbeda terlihat jelas di kawasan Amazon dan sekitarnya, tempat ikan dari keluarga Loricariidae sudah lama hadir dalam tradisi makan masyarakat lokal. Dalam banyak kasus, ikan ini dipilih karena mudah ditemukan dan telah menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi setempat.

Peru termasuk negara yang cukup akrab dengan olahan ikan sapu-sapu. Di sana, ikan ini dikenal sebagai carachama dan banyak ditemukan di wilayah Amazon seperti Loreto, Ucayali, dan San Martín.

Masyarakat setempat mengolah carachama menjadi sup ikan seperti chilcano de pescado. Di kalangan masyarakat Selva, ada juga hidangan serupa bernama timbuche.

Brasil memiliki tradisi yang sejalan dengan nama lokal bodó, acari-bodó, dan cascudo. Salah satu spesies yang dikenal adalah Liposarcus pardalis atau bodó, yang dijual di pasar ikan dan dimanfaatkan sebagai sumber pangan harian di Amazon Brasil.

Ekuador mengolah ikan ini menjadi maito de carachama. Hidangan itu dibuat dengan membungkus ikan memakai daun lalu memanggangnya, dan dikenal sebagai bagian dari kekayaan gastronomi di Archidona, Napo.

Kolombia mengenal ikan keluarga Loricariidae sebagai cucha. Salah satu spesies yang diminati adalah Chaetostoma vagum atau cucha trompiblandita, terutama di Caquetá dan Amazonas karena dagingnya putih dan rasanya khas.

Venezuela menyebut ikan ini corroncho dan menggunakannya dalam sancocho. FAO juga mencatat beberapa spesies Loricariidae lain yang ikut dikonsumsi di kawasan Amazon-Orinoco, termasuk Ancistrus, Exastilithoxus, Lasiancistrus, Pseudoancistrus, dan Rineloricaria.

Antara pangan lokal dan status ekologis

Pola konsumsi di negara-negara itu menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu tidak selalu ditempatkan sebagai masalah. Di wilayah tertentu, ikan ini justru diolah menjadi lauk harian atau bagian dari hidangan tradisional yang sudah lama dikenal masyarakat.

Namun, posisi ikan sapu-sapu di Indonesia berbeda. Di sini, ikan ini tidak dianjurkan untuk dikonsumsi karena ada temuan logam berat berbahaya pada ikan di perairan tertentu, termasuk Sungai Ciliwung.

Gubernur Jakarta Pramono Anung pernah menyebut adanya timbal dan zat lain yang dinilai berbahaya bagi manusia jika dikonsumsi. Pernyataan itu menegaskan bahwa ikan yang diterima sebagai pangan di satu tempat bisa diperlakukan sebagai ancaman kesehatan di tempat lain.

Perbedaan tersebut juga memperlihatkan pentingnya kualitas air, kebiasaan makan, dan standar keamanan pangan dalam menentukan nasib sebuah spesies. Karena itu, ikan sapu-sapu bisa berubah peran dari bahan pangan alternatif menjadi spesies invasif yang perlu dikendalikan, tergantung pada konteks wilayahnya.

Source: www.beritasatu.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru