Serangan udara Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 17 warga dan memicu gelombang baru ketegangan politik di Timur Tengah. Di saat yang sama, pernyataan Donald Trump bahwa perundingan damai Amerika Serikat dengan Iran sudah memasuki fase akhir membuat langkah militer Israel terlihat semakin berseberangan dengan arah diplomasi Washington.
Operasi di wilayah Tyre menjadi salah satu titik yang paling disorot setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi besar-besaran sebelum serangan dimulai. Seluruh warga, termasuk mereka yang berada di kawasan Kristen yang selama ini menjadi tempat perlindungan pengungsi, diminta segera meninggalkan wilayah tersebut.
Badam berita resmi Lebanon melaporkan serangan udara di kawasan al-Masaken, Tyre, menewaskan delapan orang dan melukai 35 lainnya. Dari jumlah korban luka itu, tiga di antaranya adalah anak-anak, yang memperlihatkan kuatnya dampak serangan terhadap warga sipil.
Serangan terpisah di wilayah el-Buss menambah tiga korban tewas dan sembilan orang luka-luka. Dalam beberapa hari terakhir, Tyre memang berkali-kali menjadi sasaran, sehingga situasi keamanan di kawasan itu terus memburuk.
Diplomasi Washington dan sikap Israel yang berlawanan arah
Trump mengatakan kepada wartawan bahwa negosiasi dengan Iran sudah berada pada tahap akhir. Ia menyebut, “Kami berada di tahap akhir dari apa yang akan menjadi kesepakatan yang sangat baik.”
Trump juga menilai Selat Hormuz akan segera dibuka setelah penandatanganan kesepakatan, yang menurut perkiraannya bisa terjadi dalam dua hingga tiga hari. Baginya, tekanan melalui blokade laut lebih efektif daripada serangan militer untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan.
Pernyataan itu muncul pada saat eskalasi di Lebanon justru meningkat. Ketika Gedung Putih mencoba menjaga jalur diplomasi dengan Iran, Israel tetap melanjutkan operasi militer yang berisiko memperluas konflik regional.
Netanyahu menegaskan hak Israel untuk membela diri
Benjamin Netanyahu menanggapi situasi itu dengan menegaskan bahwa Israel memiliki hak penuh untuk mempertahankan diri. Ia menyatakan, “Israel memiliki hak penuh untuk mempertahankan diri, dan kami akan melakukannya sesuai kebutuhan,” seperti dilansir dari Ynet.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Israel belum berniat menghentikan operasi militernya di Lebanon selatan. Meski kedua pihak sempat menyatakan akan menghentikan serangan, Israel tetap menegaskan operasi akan berjalan sesuai penilaian keamanan mereka.
Kondisi ini memperkuat dugaan adanya perbedaan pandangan antara Trump dan Netanyahu. Bagi Trump, kesepakatan dengan Iran tampak menjadi prioritas, sedangkan Israel masih mengandalkan tekanan militer sebagai alat utama menghadapi ancaman di kawasan.
Eskalasi meluas dan korban terus bertambah
Serangan Israel tidak hanya menghantam Tyre, tetapi juga menyebar ke sejumlah wilayah lain di Lebanon. Serangan dilaporkan terjadi di Habboush, Adshit, dan Kfar Reman, sehingga cakupan kerusakan dan korban jiwa makin luas.
Selain itu, dua warga Suriah tewas dalam rentetan serangan di antara Ansariyeh dan Adloun, distrik Sidon. Rangkaian serangan ini menunjukkan bahwa dampak konflik tidak lagi terbatas pada satu wilayah, melainkan menyebar ke berbagai titik dalam waktu singkat.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat total korban sejak konflik meningkat pada awal Maret telah mencapai 3.666 orang tewas dan lebih dari 11.000 orang luka-luka. Pemerintah Lebanon juga menyebut ribuan serangan udara Israel telah menghancurkan sejumlah wilayah dan desa.
Iran memberi peringatan keras
Situasi makin rumit setelah serangan Israel ke Beirut pada Minggu memicu balasan rudal Iran ke wilayah utara Israel. Balasan itu menambah tekanan pada upaya diplomasi yang sedang dibicarakan Washington dan memperluas ancaman konflik regional.
Iran memperingatkan bahwa setiap agresi lanjutan akan dibalas dengan tindakan yang lebih keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga menyebut Amerika Serikat ikut bertanggung jawab atas eskalasi yang terjadi.
Dengan kondisi seperti itu, hubungan Trump dan Netanyahu tampak memasuki babak baru yang lebih tegang. Di satu sisi, Washington mendorong jalur kesepakatan dengan Iran, sementara di sisi lain Israel terus memilih tekanan militer di lapangan.
