Digital Yuan Didorong Untuk Transaksi Lintas Batas, Beijing Perluas Uji Lawan Dominasi Dolar

China semakin agresif mendorong digital yuan keluar dari peran awalnya sebagai alat bayar ritel. Bank sentralnya kini memperluas pemakaian e-CNY ke lotere, belanja fiskal, hingga transaksi lintas batas, sambil memberi tekanan yang lebih besar kepada bank-bank agar ikut mempercepat adopsinya.

Perluasan itu menunjukkan bahwa digital yuan tidak lagi diposisikan hanya sebagai fitur pembayaran domestik. Beijing kini memakainya sebagai instrumen yang lebih strategis, termasuk untuk memperkuat penggunaan yuan di luar negeri dan menguji ruang perlawanan terhadap dominasi dolar.

Tekanan ke bank dan target adopsi yang lebih luas

Dorongan dari People’s Bank of China tidak hanya muncul lewat kebijakan terbuka. Sejumlah sumber industri menyebut bank-bank juga menerima arahan dari belakang layar agar meningkatkan penggunaan digital yuan, terutama untuk transaksi lintas batas.

Lembaga pemberi pinjaman ikut berlomba menyiapkan produk yang kompatibel, mulai dari pinjaman, letter of credit, hingga bills. Di sisi lain, bank di berbagai daerah juga dinilai berdasarkan saldo deposito digital yuan dan jumlah akun, sehingga ada dorongan untuk membentuk massa kritis pengguna.

Di beberapa wilayah, otoritas bahkan menetapkan target adopsi numerik dan menjalankan use case internal untuk memperluas ekosistemnya. Cara ini membuat digital yuan tidak sekadar hadir sebagai alat pembayaran, tetapi juga sebagai ukuran yang dipakai dalam evaluasi lembaga keuangan.

Dari lotere sampai pembiayaan rantai pasok

Di dalam negeri, otoritas menguji banyak skenario berbasis smart contracts. Penggunaannya mencakup undian lotere, kartu prabayar, belanja fiskal pemerintah, pembiayaan rantai pasok, pembayaran gaji, hingga pencairan layanan kesehatan.

Pemerintah juga memakai e-CNY untuk menekan penipuan asuransi kesehatan dan melacak konsumsi listrik hijau. Penggunaan yang makin beragam ini menunjukkan bahwa digital yuan mulai masuk ke ranah administrasi dan layanan publik, bukan hanya transaksi harian.

Langkah itu berjalan seiring dengan upaya memperluas fungsi uang digital dalam sistem keuangan domestik. Dengan cakupan yang lebih luas, otoritas punya lebih banyak ruang untuk mendorong pemakaian aktif di berbagai sektor.

Perubahan insentif bagi bank

Momentum terbaru menguat setelah China mulai mengizinkan pembayaran bunga atas kepemilikan digital yuan pada awal tahun ini. Pada April, otoritas juga lebih dari dua kali lipat jumlah bank operasional yang berwenang menjadi 22.

Perubahan itu membuat digital yuan secara efektif menjadi liabilitas deposito di neraca bank. Menurut sumber industri dan analis, posisi baru ini menaikkan insentif bank karena aset tersebut masuk dalam target penilaian deposito dan membuka ruang untuk pengembangan produk kredit serta wealth management.

Seorang pelaku industri fintech yang menyediakan layanan IT untuk bank menilai pemerintah terlihat lebih serius mendorong adopsi yang lebih luas. Ia juga menyebut progres digital yuan memang sempat lambat dalam beberapa tahun terakhir, tetapi pendekatan kali ini berbeda.

Arah ke luar negeri dan dorongan de-dolarisasi

Di luar negeri, fokus China mengarah ke jalur perdagangan yang lebih strategis. Bank-bank didorong memperbesar penggunaan digital yuan dalam transaksi lintas batas, sementara perhatian juga tertuju pada negara-negara di sepanjang rute Belt and Road Initiative.

Sejumlah sumber industri menilai dorongan ini berkaitan dengan keinginan mengurangi ketergantungan pada sistem pembayaran global yang didominasi lembaga Barat dan berporos pada dolar. Dalam pandangan mereka, digital yuan menjadi cadangan teknologi untuk menjaga arus perdagangan China tetap berjalan saat terjadi guncangan geopolitik.

Kekhawatiran itu ikut menguat di tengah instabilitas eksternal yang dikaitkan dengan perang di Timur Tengah. China Securities Co dalam laporan risetnya menyebut perang tersebut memperlihatkan risiko “weaponization” dolar dan mempercepat internasionalisasi yuan.

Masih kecil dibanding sistem yang sudah mapan

Meski ambisinya besar, skala pemakaian digital yuan masih jauh dari dominan. Data resmi terbaru menunjukkan transaksi kumulatif e-CNY mencapai 16,7 triliun yuan per November sejak debutnya pada 2019.

Jumlah itu masih jauh di bawah transaksi kartu UnionPay yang mencapai 279 triliun yuan pada 2025 saja. Artinya, ruang pertumbuhan digital yuan masih besar, tetapi tantangan untuk menembus kebiasaan pembayaran yang sudah mapan juga tidak kecil.

Seorang CEO Sign, Xin Yan, mengatakan China dan AS adalah dua mesin ekonomi global yang sama-sama mendorong standar mereka sendiri dalam pembayaran digital lintas batas. Ia menambahkan digital yuan lebih kompatibel dengan sistem perbankan, tetapi tidak ramah bagi orang asing.

Di dalam negeri, dompet digital populer seperti Alipay dan WeChat Pay masih mendominasi pembayaran ritel. Karena itu, fokus ekspansi digital yuan dinilai lebih realistis jika diarahkan ke penyelesaian transaksi antarperusahaan di tingkat internasional.

Mendorong koneksi lintas batas baru

Shanghai Financial Commission Office, melalui Zhou Xiaoquan, mengatakan Shanghai mendorong institusi mengadopsi mBridge. Platform yang didukung bank sentral itu menghubungkan China, Hong Kong, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Dalam konferensi bulan lalu, Zhou menyebut aplikasi bisnis terkait sudah mencakup perdagangan barang dan jasa serta asuransi pengiriman. Salah satu sumber yang mendapat pengarahan dari regulator juga mengatakan pembayaran lintas batas dengan negara-negara ASEAN menjadi prioritas utama.

Namun, hambatan tetap besar karena mitra luar negeri masih menunjukkan minat yang terbatas untuk mengadopsi digital yuan. Meski begitu, tekanan untuk memperluas penggunaannya terus meningkat, dan internasionalisasi yuan masih dipandang menempuh jalan yang panjang.

Berita Terkait