Dinas Kesehatan Bali menekankan kewaspadaan terhadap hantavirus dengan fokus pada pencegahan paparan dari tikus. Hingga saat ini, Bali belum mencatat kasus maupun suspek, tetapi pemantauan tetap diperketat di sejumlah titik yang dinilai berisiko.
Pengawasan itu terutama diarahkan ke area masuk Bali seperti bandara dan pelabuhan. Selain itu, pemantauan juga menyasar lokasi kerja yang dianggap rawan terpapar tikus agar potensi penularan bisa ditekan sejak awal.
Kepala Dinas Kesehatan Bali I Nyoman Gede Anom menyebut langkah tersebut dilakukan menyusul adanya temuan hantavirus di beberapa wilayah Indonesia. Meski begitu, ia menegaskan belum ada warga Bali yang terindikasi klinis positif dan fasilitas kesehatan setempat juga belum melaporkan kasus maupun suspek.
Hantavirus sendiri termasuk penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia. Dalam penjelasan Dinas Kesehatan Bali, penularannya terjadi melalui tikus yang terinfeksi, terutama lewat kotoran, urine, air liur, atau debu yang sudah tercemar.
Penyakit ini tidak menyebar antarmanusia seperti covid-19. Namun, debu yang terkontaminasi tetap berbahaya jika terhirup saat membersihkan area yang lama tidak dibuka.
Gejala yang perlu diwaspadai
Keluhan awal hantavirus disebut mirip flu berat. Gejalanya bisa berupa demam, pusing, dan nyeri otot.
Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius. Karena itu, warga yang mengalami demam tinggi disertai nyeri otot setelah berada di lingkungan yang banyak tikus diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Pemeriksaan lebih cepat dinilai penting agar kondisi tidak memburuk. Pemantauan juga difokuskan pada pasien dengan gejala flu berat yang memiliki riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan yang kurang bersih.
Cara mencegah paparan di rumah dan tempat kerja
Dinas Kesehatan Bali meminta masyarakat menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar populasi tikus tidak berkembang. Saat membersihkan rumah, gudang, atau ruangan yang lama tidak dipakai, warga disarankan memakai masker dan sarung tangan.
Petugas kesehatan juga mengingatkan agar kotoran tikus tidak disapu dalam keadaan kering. Cara itu bisa membuat debu beterbangan dan meningkatkan risiko masuk ke saluran pernapasan.
Selain di lingkungan rumah, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS juga digencarkan. Upaya ini ditujukan agar masyarakat lebih paham cara mengurangi risiko paparan hantavirus di rumah maupun di tempat kerja.
Skrining terus diperketat
Pengawasan kesehatan tidak hanya menyasar warga umum. Dinas Kesehatan Bali juga memperketat skrining terhadap pekerja migran dan kru kapal pesiar yang kembali ke Bali.
Koordinasi terus dijalankan dengan dinas kesehatan kabupaten dan kota serta fasilitas kesehatan di seluruh wilayah. Dengan begitu, setiap temuan gejala yang mengarah pada paparan tikus bisa segera ditangani tanpa menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Di tengah belum ditemukannya kasus di Bali, pesan utama Dinkes tetap sama: hindari kontak langsung dengan tikus, jaga kebersihan area, dan segera mencari pertolongan medis saat gejala mencurigakan muncul. Pendekatan sederhana ini dinilai menjadi langkah paling penting untuk menjaga Bali tetap waspada.
Source: mediaindonesia.com






