Pengadilan di Ashkelon menyetujui perpanjangan penahanan dua aktivis flotila Gaza yang menjadi sorotan internasional setelah muncul tuduhan penyiksaan selama mereka ditahan Israel. Keduanya adalah Saif Abu Keshek dan Thiago Avila, dua nama yang tersisa dari 175 aktivis yang sebelumnya ditangkap saat rombongan Global Sumud Flotilla dicegat di perairan internasional dekat Yunani.
Kedua aktivis itu dilaporkan menjalani mogok makan selama ditahan, meski masih minum air. Organisasi hak asasi manusia dan pusat hukum Israel, Adalah, menyebut keduanya memberi kesaksian yang mengarah pada kekerasan fisik serta posisi stres yang berkepanjangan.
Adalah mengatakan Abu Keshek diikat tangan dan matanya ditutup, lalu dipaksa telungkup sejak penangkapan hingga pagi hari. Kondisi itu disebut menimbulkan memar di wajah dan tangannya.
Untuk Avila, Adalah menyebut ia mengalami kekerasan ekstrem, diseret telungkup di lantai, lalu dipukuli hingga dua kali pingsan. Dalam penahanan terbaru di Shikma Prison, kedutaan Brasil juga menyatakan Avila melaporkan adanya penyiksaan, pemukulan, dan perlakuan buruk.
Global Sumud Flotilla menambahkan bahwa pejabat kedutaan melihat bekas luka yang jelas di wajah Avila. Ia juga mengeluhkan nyeri hebat, terutama di bahu.
Kedua nama ini bukan aktivis biasa dalam jaringan solidaritas Palestina. Saif Abu Keshek berbasis di Barcelona dan telah aktif mengorganisir gerakan solidaritas Palestina di Eropa selama lebih dari 20 tahun, menurut situs Global Sumud Flotilla.
Abu Keshek juga memiliki tiga anak bersama istrinya, masing-masing berusia satu, empat, dan tujuh tahun. Sebelum bergabung dalam flotila tahun ini, ia disebut menjadi pengorganisir utama Global March to Gaza dan kini memimpin Global Coalition Against the Occupation in Palestine.
Thiago Avila berusia 38 tahun dan juga telah mendedikasikan diri untuk solidaritas dengan Palestina selama lebih dari 20 tahun. Ia memiliki seorang putri berusia satu setengah tahun bersama istrinya dan menjadi anggota Steering Committee Freedom Flotilla Coalition.
Jejak aktivismenya juga berkaitan erat dengan berbagai jaringan advokasi. Abu Keshek mewakili Intersindical Alternativa de Catalunya atau IAC, duduk di General Secretariat of the Popular Conference for Palestinians Abroad, dan menjadi bagian dari dewan European Trade Union Network for Justice in Palestine.
Avila sendiri sebelumnya dikenal dalam misi Freedom Flotilla. Ia pernah menjadi salah satu koordinator misi Madleen dan namanya kembali muncul dalam pelayaran Global Sumud Flotilla.
Penahanan Avila juga bukan yang pertama. Ia pernah ditempatkan dalam sel isolasi di Israel’s Ayalon Prison selama beberapa hari setelah ditahan pada 11 Juni 2025 dalam misi sebelumnya.
Global Sumud Flotilla berangkat dari Prancis, Spanyol, dan Italia pada 12 April dengan lebih dari 50 kapal. Misi itu bertujuan menembus blokade Israel atas Gaza dan membawa pasokan ke wilayah Palestina yang porak-poranda.
Gaza telah berada di bawah blokade laut, darat, dan udara Israel sejak 2005. Sejak 7 Oktober 2023, Israel juga memperketat kontrol atas arus keluar-masuk wilayah yang dihuni 2,3 juta orang itu.
Pada hari Minggu, pengadilan di Ashkelon menyetujui tambahan dua hari penahanan terhadap Abu Keshek dan Avila. Pihak Israel sebelumnya meminta perpanjangan penahanan selama empat hari.
Tekanan diplomatik pun ikut menguat. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan pesan kepada Benjamin Netanyahu dan menegaskan Spanyol akan selalu melindungi warganya serta membela hukum internasional.
Turkiye menyebut tindakan Israel sebagai “act of piracy”. Sementara itu, flotila menilai pemindahan paksa warga sipil dari perairan internasional ke dalam tahanan, disertai tuduhan penyiksaan dan tidak adanya proses hukum yang semestinya, merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.







