Diseksi Aorta Bisa Maut Dalam Hitungan Jam, Layanan Cepat Menentukan Peluang Selamat

Author: Redaksi Android62

Kecepatan menjadi faktor paling menentukan saat dinding aorta robek. Pada fase akut, keterlambatan penanganan disebut dapat menaikkan risiko kematian sekitar 1–2 persen setiap jam dalam 24 hingga 48 jam pertama bila pasien belum segera mendapat tindakan.

Itulah sebabnya kasus aorta tidak memberi banyak ruang untuk menunggu. Diagnosis cepat, alur layanan yang rapi, dan kesiapan tim medis dari awal hingga akhir perawatan menjadi penentu utama keselamatan pasien.

Aorta sendiri merupakan pembuluh darah terbesar yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh organ tubuh. Gangguan pada pembuluh ini, termasuk aneurisma dan diseksi aorta, dapat berkembang perlahan tanpa gejala khas sebelum berubah menjadi keadaan gawat.

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Dicky Aligheri Wartono, Sp.BTKV(K), FIHA, FICA, menjelaskan diseksi aorta terjadi saat lapisan dinding aorta robek lalu darah masuk ke lapisan pembuluh darah. Kondisi ini membutuhkan diagnosis dan tindakan cepat karena berkaitan dengan risiko kematian mendadak.

Alur layanan yang cepat ikut menentukan hasil

Penanganan penyakit aorta tidak berhenti pada tindakan operasi. Rumah sakit juga perlu menyiapkan alur layanan yang cepat sejak pasien tiba di unit gawat darurat sampai masuk ke ruang tindakan dan perawatan intensif.

Menurut dr. Dicky, penanganan optimal membutuhkan koordinasi segera antara Unit Gawat Darurat, radiologi, dokter bedah, anestesi, ICU, tim kardiologi, hingga rehabilitasi dalam satu protokol terintegrasi. Dengan sistem seperti itu, pasien tidak kehilangan waktu pada tahap yang paling krusial.

Kasusnya tidak sedikit, aksesnya masih terbatas

Secara global, angka kejadian acute aortic syndromes diperkirakan sekitar 4,8 kasus per 100.000 penduduk setiap tahun. Beban penyakit aneurisma aorta juga disebut terus meningkat, termasuk di Indonesia.

Di sisi lain, akses layanan untuk kasus aorta kompleks masih terbatas. Dari lebih dari 2.500 rumah sakit di Indonesia, hanya sekitar 120 hingga 150 rumah sakit yang memiliki layanan bedah jantung, dan jumlah fasilitas yang mampu menangani kasus aorta kompleks dengan teknologi serta tim khusus bahkan lebih sedikit.

Teknologi modern untuk kasus aorta kompleks

Siloam Hospitals Lippo Village menjadi salah satu fasilitas yang memperkuat penanganan aorta kompleks melalui pendekatan multidisiplin dan teknik bedah modern. Rumah sakit ini menerapkan Frozen Elephant Trunk atau FET, yaitu metode bedah untuk menangani kasus aorta kompleks yang melibatkan area dada hingga perut.

Teknik tersebut disebut sebagai salah satu standar terbaru dalam penanganan bedah aorta di berbagai pusat layanan kardiovaskular dunia. Dukungan lain juga tersedia, mulai dari Endovascular Aortic Repair atau EVAR/TEVAR, CT Scan kardiovaskular 24 jam, ICU khusus pascaoperasi kardiovaskular, hingga tim multidisiplin dari berbagai spesialis terkait.

Deteksi dini tetap tidak bisa ditunda

Melalui pengembangan Aortic & Advanced Cardiovascular Center, rumah sakit berharap akses masyarakat terhadap penanganan penyakit aorta berstandar tinggi bisa semakin luas. Upaya ini juga menegaskan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin agar kondisi yang tumbuh diam-diam tidak terlambat diketahui.

Dalam kasus diseksi aorta, waktu tidak memberi ruang untuk menunggu. Karena itu, layanan yang terintegrasi sejak diagnosis hingga pemulihan menjadi kunci untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien dengan penyakit aorta kompleks.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru