Laporan dugaan kekerasan seksual dan penganiayaan berat terhadap aktivis Global Sumud Flotilla memicu gelombang kecaman internasional setelah mereka dideportasi Israel. Sejumlah aktivis yang baru kembali dari tahanan menggambarkan pengalaman yang mereka sebut sebagai perlakuan merendahkan martabat, disertai pemukulan dan intimidasi selama penahanan.
Kelompok flotilla menyebut sedikitnya ada 15 kasus kekerasan seksual, termasuk dugaan pemerkosaan. Mereka juga mengatakan puluhan aktivis mengalami patah tulang setelah dipukuli selama masa penahanan yang kini menjadi sorotan luas.
Kesaksian para aktivis
Beberapa aktivis yang telah dipulangkan lalu menguatkan tuduhan itu dengan cerita langsung. Meriem Hadjal, aktivis asal Prancis, menyebut dirinya menjadi sasaran kekerasan seksual dan perabaan paksa saat ditahan.
“Saya dipukul, ditampar, disentuh, dilutut di bagian tulang rusuk, dan rambut saya ditarik. Saya trauma selama berjam-jam,” ujar Hadjal setibanya di Paris.
Jurnalis Italia Alessandro Mantovani juga memberi gambaran keras tentang tempat penahanan tersebut. Ia menyebut fasilitas itu sebagai “tempat teror” dan menilai para tahanan mengalami pola intimidasi yang serius selama berada dalam pengawasan otoritas Israel.
Dari Inggris, aktivis Richard Johan Anderson menyampaikan kesan yang tak kalah keras. Ia mengatakan para aktivis “disiksa dan didehumanisasi secara sistematis” selama penahanan.
“Kami telah dipukuli, disiksa, didehumanisasi secara sistematis, dan kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami warga Palestina setiap hari,” kata Anderson.
Protes dari luar Israel
Reaksi keras datang dari sejumlah pihak setelah laporan itu muncul. Pemerintah Kanada menjadi salah satu yang paling tegas menanggapi dugaan pelecehan terhadap warganya yang ikut dalam misi tersebut.
Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, menegaskan bahwa perlakuan seperti itu tidak bisa dibenarkan dan harus dipertanggungjawabkan. “Kanada mengutuk keras perlakuan buruk terhadap warga Kanada di Israel. Mereka yang bertanggung jawab atas pelecehan mengerikan ini harus dimintai pertanggungjawaban,” kata Anand, dikutip BBC.
Sementara itu, kelompok hak asasi manusia Adalah menyebut ada cedera luas dan parah di antara para aktivis. Kelompok itu mengatakan sedikitnya tiga orang harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan intensif akibat kekerasan ekstrem yang diduga dilakukan otoritas keamanan Israel.
Sikap Israel dan sorotan yang terus membesar
Israel membantah seluruh tuduhan tersebut. Layanan penjara Israel menyebut klaim para aktivis sebagai tuduhan palsu dan tanpa dasar faktual, serta menegaskan semua tahanan diperlakukan sesuai hukum.
Militer Israel atau IDF juga menyatakan prosedur mereka mewajibkan perlakuan hormat terhadap peserta flotilla. Bantahan itu muncul di tengah tekanan internasional yang makin besar atas penanganan para aktivis.
Kritik terhadap pejabat Israel turut menguat setelah beredar video Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir. Dalam rekaman itu, Ben Gvir tampak mengejek para aktivis saat mereka berlutut dengan tangan terikat.
Video tersebut ikut memicu kecaman, termasuk dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menyebut tindakan itu tidak sejalan dengan nilai-nilai Israel. Kasus ini kemudian menambah perhatian dunia pada pencegatan misi bantuan ke Gaza yang dilakukan pasukan komando Israel di perairan internasional.
Sebanyak 422 orang dari 41 negara dideportasi pada Kamis (23/5) setelah penahanan yang kini menuai sorotan luas. Di saat para aktivis mulai kembali ke negara masing-masing, perhatian justru tertuju pada dugaan kekerasan yang mereka klaim terjadi selama mereka berada dalam tahanan.
Source: mediaindonesia.com






