Jejak DNA Malaria pada Tulang Francesco de Medici Mengguncang Tuduhan Racun

Jejak genetik Plasmodium pada tulang rusuk Francesco I de Medici memberi bukti baru dalam misteri kematian Grand Duke Tuscany yang bertahan selama berabad-abad. Temuan ini menguatkan malaria sebagai faktor penting di balik wafatnya Francesco, meski dugaan keracunan arsenik belum sepenuhnya tersingkir.

Analisis DNA dilakukan pada sisa kerangka Francesco dan dibandingkan dengan sampel dari salah satu saudaranya, Giovanni. Penelitian itu dipimpin Serena Tucci dari Universitas Yale bersama tim Universitas Pisa.

Berbeda dari pemeriksaan antigen, metode DNA mencari tanda genetik penyakit secara langsung pada sampel kuno. Tim menemukan material genetik parasit penyebab malaria pada salah satu tulang rusuk Francesco.

Bukti Baru dari Sisa Kerangka

Valentina Giuffra, profesor sejarah kedokteran Universitas Pisa yang terlibat dalam penelitian tersebut, menilai hasil DNA memperjelas perdebatan lama. “DNA adalah sesuatu yang pasti. Ini menyelesaikan masalah dan keraguan,” ujarnya, seperti dikutip inet.detik.com.

Penelitian terhadap makam keluarga Medici telah berlangsung sejak 2004 dan mencakup penggalian serta analisis sisa kerangka dari 49 makam. Sejumlah kajian sebelumnya juga mengarah pada malaria sebagai kemungkinan pemicu kematian Francesco.

PeriodeMetode atau TemuanArti bagi Kasus Francesco
Sejak 2004Analisis 49 makam keluarga MediciSejumlah penelitian mengarah pada malaria
2006Investigasi toksikologiMengarah pada keracunan arsenik
Studi terbaruDNA tulang rusuk FrancescoMenemukan jejak Plasmodium

Francesco meninggal pada 1587 bersama istrinya, Bianca Cappello, setelah keduanya mengalami sakit berat selama beberapa hari. Pasangan itu wafat hanya dalam selang beberapa jam di vila Medici di Poggio a Caiano, dekat Florence.

Lokasi vila tersebut berada dekat rawa dan area persawahan yang mendukung keberadaan nyamuk pembawa malaria. Catatan mengenai demam yang datang dan pergi pada Francesco serta Bianca juga selaras dengan gambaran penyakit tersebut.

Kematian yang Dibayangi Perebutan Takhta

Kematian mendadak pasangan Medici segera memunculkan kecurigaan politik di lingkungan keluarga penguasa Tuscany. Ferdinando, adik Francesco yang kemudian menjadi pewaris takhta, pernah dituduh meracuni kakak dan iparnya dengan arsenik.

Kecurigaan itu menguat karena Ferdinando disebut mengunjungi keduanya sebelum sakit. Posisi pewaris juga dikaitkan dengan Antonio, putra tidak sah Francesco, yang dipandang dapat memengaruhi garis suksesi.

Donatella Lippi, profesor sejarah kedokteran Universitas Florence dan penulis studi toksikologi 2006, masih mempertahankan kemungkinan pembunuhan. Menurutnya, seseorang dapat terjangkit malaria tanpa harus meninggal akibat penyakit tersebut.

Lippi merujuk catatan Perpustakaan Vatikan yang menyebut ruam kulit, demam, dan pembengkakan pada Francesco. Ia menilai gejala itu juga dapat sesuai dengan keracunan arsenik akut.

Perdebatan Arsenik Belum Berakhir

Lippi juga menyoroti keadaan jasad Francesco ketika makamnya dibuka sekitar 300 tahun setelah kematiannya. Tangan yang mengerut dan kondisi tubuh yang relatif terawetkan, menurutnya, dapat dijelaskan oleh paparan arsenik.

Giuffra menanggapi bahwa bukti dalam studi 2006 tidak berasal dari kerangka di makam Francesco. Sampel tersebut berupa jaringan biologis dari lokasi lain yang diyakini menyimpan organ tubuhnya setelah autopsi.

Giuffra juga mengingatkan bahwa Francesco dikenal sebagai alkemis yang sering bereksperimen dengan zat kimia. Karena itu, ruam kulit tidak otomatis menjadi bukti bahwa ia diracun.

Dokumen dokter keluarga Medici mencatat perawatan yang kini dianggap berisiko, termasuk bloodletting atau pengeluaran darah secara sengaja. Praktik yang dahulu diyakini membantu penyembuhan itu berpotensi memperburuk kondisi pasien yang telah melemah akibat malaria.

Nama malaria sendiri berasal dari istilah Italia abad pertengahan, mal aria, yang berarti udara buruk. Istilah tersebut lahir dari keyakinan lama bahwa penyakit datang dari bau tidak sedap di sekitar rawa dan genangan air.

Malaria tetap menjadi penyakit mematikan hingga masa kini dan pada 2024 menyebabkan sekitar 610.000 kematian. Dalam kasus Francesco de Medici, temuan DNA kini memperkuat penjelasan medis tanpa sepenuhnya menutup perdebatan mengenai arsenik.

Berita Terkait