Rupiah kembali berada di bawah tekanan kuat hingga nyaris menyentuh Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup di level Rp17.952 per dolar AS, melemah 45 poin atau 0,25 persen dari perdagangan sebelumnya.
Pergerakan itu terjadi ketika dolar AS menguat di tengah serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang solid. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kondisi tersebut membuat mata uang Asia ikut tertekan, termasuk rupiah yang sejak awal perdagangan sudah bergerak rapuh.
Tekanan Dari Amerika Serikat Menguat
Lukman menjelaskan bahwa data pekerjaan AS yang solid mendorong pelemahan mata uang regional Asia. Pasar juga menilai kepala the Fed berpeluang memberi sinyal hawkish dalam pidato malam hari, yang biasanya dibaca sebagai dorongan tambahan bagi penguatan dolar AS.
Jika nada hawkish itu benar-benar muncul, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut pada perdagangan berikutnya. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati karena arah kebijakan moneter AS masih menjadi faktor utama pergerakan mata uang.
Defisit Perdagangan Domestik Menambah Beban
Selain tekanan eksternal, rupiah juga terbebani oleh data perdagangan domestik yang melemah. Lukman menyebut penurunan ekspor dan munculnya defisit untuk pertama kali sejak April 2020 sebagai faktor tambahan yang menekan nilai tukar.
Kombinasi data eksternal yang kuat dan kabar domestik yang mengecewakan membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas. Dalam situasi seperti ini, sentimen pasar lebih mudah bergeser ke arah defensif karena dua sumber tekanan datang hampir bersamaan.
| Mata Uang | Perubahan terhadap Dolar AS | Keterangan |
|---|---|---|
| Baht Thailand | -0,48 persen | Pelemahan terdalam di Asia |
| Peso Filipina | -0,47 persen | Turun tajam |
| Won Korea | -0,41 persen | Masuk kelompok pelemah terbesar |
| Rupee India | -0,29 persen | Tertekan bersama kawasan |
| Ringgit Malaysia | -0,24 persen | Ikut melemah |
| Dolar Singapura | -0,18 persen | Koreksi terbatas |
| Dolar Taiwan | -0,12 persen | Turun tipis |
| Yuan China | -0,10 persen | Masih bergerak lemah |
| Dolar Hong Kong | -0,01 persen | Nyaris datar |
Sejalan Dengan Pelemahan Mata Uang Asia
Pelemahan rupiah tidak terjadi sendirian karena hampir seluruh mata uang Asia juga terkoreksi terhadap dolar AS. Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,48 persen, disusul peso Filipina 0,47 persen dan won Korea 0,41 persen.
Di kelompok lain, rupee India turun 0,29 persen, ringgit Malaysia melemah 0,24 persen, dan dolar Singapura terkoreksi 0,18 persen. Dolar Taiwan turun 0,12 persen, yuan China melemah 0,10 persen, sedangkan dolar Hong Kong turun tipis 0,01 persen.
Pergerakan serentak di kawasan menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen regional yang sedang tidak berpihak pada mata uang Asia. Pasar kini menunggu sinyal lanjutan dari the Fed dan arah data ekonomi berikutnya untuk membaca peluang pergerakan rupiah selanjutnya.
