Dolar AS Menguat Lagi, Emas Dunia Terseret Turun dari Puncak Dua Pekan

Author: Redaksi Android62

Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan Senin (6/7/2026) setelah dolar AS menguat dan menahan ruang kenaikan logam mulia tersebut. Meski begitu, penurunannya tidak sedalam yang diperkirakan pasar karena investor masih membaca adanya perlambatan di pasar tenaga kerja Amerika Serikat.

Harga emas spot turun 0,3 persen menjadi 4.163,64 dollar AS per ons setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni. Di pasar berjangka, emas pengiriman Agustus justru naik 1 persen ke 4.167,50 dollar AS per ons, menunjukkan pergerakan yang belum sepenuhnya searah.

Dolar lebih kuat, emas kehilangan sebagian dorongan

Penguatan indeks dollar AS sekitar 0,1 persen menjadi tekanan utama bagi emas. Jim Wyckoff, Analis Pasar American Gold Exchange, menilai indeks dollar AS yang sedikit lebih tinggi langsung memberi efek negatif terhadap perdagangan emas harian.

Kenaikan greenback juga membuat emas lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat. Akibatnya, permintaan di pasar logam mulia ikut tertahan saat investor menimbang arah mata uang dan kebijakan moneter AS.

Data tenaga kerja masih menjaga minat beli

Tekanan pada emas tidak menjadi lebih dalam karena data terbaru AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi. Ekspansi lapangan kerja Juni dilaporkan melambat tajam, disertai revisi turun untuk angka dua bulan sebelumnya.

Perubahan itu mendorong pelaku pasar memangkas proyeksi kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Dalam kondisi seperti ini, emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai yang belum kehilangan daya tarik sepenuhnya.

Emas biasanya mendapat sokongan ketika inflasi atau ketidakpastian meningkat, tetapi kebijakan pengetatan suku bunga cenderung mengurangi minat terhadap aset tanpa imbal hasil. Karena itu, arah kebijakan bank sentral tetap menjadi faktor penentu terbesar bagi harga emas dalam waktu dekat.

Pasar menunggu risalah kebijakan The Fed

Fokus investor kini beralih ke risalah pertemuan kebijakan moneter bank sentral yang dijadwalkan terbit pada Rabu (8/7/2026). Wyckoff mengatakan pasar akan mencari petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter AS, dan setiap kejutan dari dokumen itu berpotensi menggerakkan pasar.

Indikator CME FedWatch Tool menunjukkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan pada bulan September berada di sekitar 57 persen. Angka itu menandakan investor masih melihat peluang pengetatan lanjutan, meski tidak sekuat sebelumnya.

Prospek jangka menengah masih memberi ruang, tetapi terbatas

Di tengah fluktuasi jangka pendek, proyeksi emas untuk jangka menengah masih menunjukkan ruang kenaikan. J.P. Morgan memperkirakan serapan pasar dari sektor-sektor utama kemungkinan tidak akan sekuat perkiraan awal.

Bank investasi itu menilai kondisi tersebut akan membatasi reli harga emas tahun ini di kisaran 4.300 dollar AS per ons pada kuartal III dan 4.500 dollar AS per ons pada kuartal IV. Proyeksi itu memberi sinyal bahwa emas masih punya ruang naik, tetapi tetap dibayangi tekanan dari dolar AS dan arah suku bunga.

Tekanan serupa juga terasa pada logam mulia lain. Harga perak spot turun 0,3 persen ke 62,17 dollar AS per ons setelah sempat mencapai level tertinggi sejak 23 Juni.

Platinum spot terkoreksi 0,4 persen menjadi 1.630,86 dollar AS per ons, sementara palladium justru naik tipis 0,1 persen ke 1.275,43 dollar AS per ons. Pergerakan campuran ini menegaskan bahwa pasar logam mulia masih bergerak dalam bayang-bayang penguatan dolar dan arah kebijakan moneter AS.

Berita Terbaru