Rupiah bergerak hati-hati di pasar spot dan sempat menyentuh Rp17.150 per dolar AS saat pembukaan perdagangan. Setelah sempat menguat lebih besar, mata uang domestik masih berada di zona positif meski ruang penguatannya mulai menyempit seiring tekanan dari sentimen global.
Berdasarkan data yang dikutip dari Bloombergtechnoz, rupiah kemudian tercatat di Rp17.168 per dolar AS atau menguat 0,15 persen. Perubahan arah yang tidak terlalu jauh dari level pembukaan ini menunjukkan pasar masih menimbang dorongan positif dari dalam negeri dengan tekanan eksternal yang belum mereda.
Dolar AS kembali menjadi penekan utama
Salah satu faktor yang menahan pergerakan rupiah datang dari penguatan indeks dolar AS ke level 98,35. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi antara AS dan Iran, yang membuat pelaku pasar cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman.
Saat minat terhadap aset aman naik, mata uang di kawasan Asia ikut bergerak beragam. Dalam kondisi seperti ini, rupiah masih mampu bertahan, tetapi pergerakannya tetap sensitif terhadap perubahan sentimen global yang berlangsung cepat.
Harga minyak menambah beban sentimen pasar
Selain dolar AS, kenaikan harga minyak mentah dunia turut membebani pasar. Harga minyak tercatat naik 5,51 persen menjadi US$95,36 per barel, dan kondisi ini memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko yang datang dari sektor energi.
Bagi Indonesia, level harga minyak seperti ini menjadi perhatian karena sudah melampaui asumsi dalam APBN. Jika harga energi bertahan tinggi lebih lama, tekanan terhadap ruang fiskal dapat meningkat dan memengaruhi neraca perdagangan energi.
Risiko fiskal dan inflasi impor ikut naik
Pasar juga mencermati bahwa harga minyak yang terus berada di atas asumsi anggaran bisa mempersempit ruang pengelolaan fiskal pemerintah. Di saat yang sama, kondisi tersebut dapat memicu kekhawatiran atas inflasi impor apabila biaya energi global tidak segera turun.
Tekanan itu biasanya membuat persepsi risiko terhadap pasar keuangan domestik ikut naik. Dalam suasana global yang masih dipenuhi ketidakpastian, pelaku pasar cenderung mengambil sikap lebih defensif dan menahan langkah agresif pada aset berisiko.
Sinyal kehati-hatian juga terlihat di obligasi
Kewaspadaan investor tidak hanya tampak di pasar valuta asing, tetapi juga di pasar obligasi. Kenaikan imbal hasil pada tenor pendek dan menengah mengindikasikan adanya aksi jual saat investor membaca perkembangan global dengan lebih hati-hati.
Yield tenor 1 tahun naik 4 basis poin menjadi 5,6 persen. Sementara itu, tenor 3 tahun naik 3,4 bps ke 6,06 persen, sedangkan tenor 4 tahun dan 5 tahun masing-masing berada di 6,29 persen dan 6,32 persen.
Rupiah masih rentan terhadap arah sentimen internasional
Untuk perdagangan spot, rupiah diperkirakan masih bergerak terbatas dan cenderung melemah dalam waktu dekat. Rentang pergerakan mata uang Indonesia diperkirakan berada di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.250 per dolar AS.
Arah tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global. Selama tensi geopolitik dan tekanan harga energi belum mereda, rupiah diperkirakan tetap peka terhadap setiap perubahan sentimen pasar internasional.







