Dolar Menguat, Perak Kembali Terkurung Tekanan Geopolitik Dan Suku Bunga AS

Author: Redaksi Android62

Di tengah gejolak Timur Tengah, pasar perak justru bergerak hati-hati dan kehilangan tenaga. Pada perdagangan Senin, harga perak turun 0,55% ke US$ 74,86 per ons ketika pelaku pasar memilih menahan diri.

Tekanan pada logam mulia ini tidak datang dari satu arah saja. Penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat ikut mengurangi minat terhadap perak, yang memang tidak memberikan imbal hasil.

Perak biasanya lebih sensitif saat pasar memperkirakan kebijakan moneter masih ketat. Data alat FedWatch CME Group menunjukkan pelaku pasar menilai peluang sekitar 56% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga AS hingga akhir tahun.

Angka itu memperlihatkan bahwa ekspektasi pasar masih condong pada kebijakan yang lebih ketat. Dalam kondisi seperti ini, ruang pemulihan perak menjadi terbatas karena investor cenderung memilih aset yang lebih kuat saat imbal hasil tetap menjadi perhatian.

Tekanan geopolitik ikut menambah kehati-hatian

Selain faktor moneter, ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi bayangan besar bagi pasar. Konflik antara Iran dan Amerika Serikat mendorong harga minyak naik dan memunculkan kembali kekhawatiran inflasi.

Situasi tersebut membuat investor lebih berhitung dalam mengambil posisi di aset safe haven. Selama ketidakpastian geopolitik belum mereda, pasar logam mulia cenderung bergerak dengan langkah yang lebih pelan.

Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan konflik tersebut karena arah pergerakannya bisa memengaruhi sentimen global. Di saat yang sama, lonjakan minyak juga ikut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga belum sepenuhnya reda.

Logam mulia lain tidak bergerak seragam

Saat perak melemah, platinum dan palladium justru mencatat penguatan. Harga platinum naik 0,43% menjadi US$ 1.928,79 per ons, sedangkan palladium menguat 0,33% ke level US$ 1.362,68 per ons.

Morgan Stanley menilai pasar palladium mulai mendekati keseimbangan. Penilaian itu didorong pasokan yang terbatas dan mampu mengimbangi penurunan permintaan dari industri otomotif.

Pergerakan yang berbeda ini menunjukkan bahwa masing-masing logam mulia masih merespons faktor yang tidak selalu sama. Meski sama-sama berada di bawah bayang-bayang geopolitik dan suku bunga, arah harga tiap aset tetap ditentukan oleh dinamika pasokan dan permintaan masing-masing.

Pasar menunggu petunjuk berikutnya

Fokus investor belum bergeser jauh dari dua sumber tekanan utama, yakni risiko global dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Pasar kini juga menanti data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini untuk mencari petunjuk baru soal arah harga logam mulia.

Selama tekanan inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi masih bertahan, perak berisiko tetap bergerak rapuh. Kombinasi dolar AS yang kuat, kebijakan moneter yang ketat, dan ketidakpastian Timur Tengah membuat sentimen terhadap logam mulia ini sulit pulih cepat.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru