Dukungan Kim Jong Un Makin Terbuka untuk Rusia, Memorial Kursk Jadi Simbol Kedekatan Baru

Korea Utara kembali menegaskan dukungan penuhnya kepada Rusia di tengah perang Ukraina yang belum mereda. Sikap itu disampaikan langsung oleh Kim Jong Un saat bertemu Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov, sebagaimana dilaporkan media negara KCNA.

Dalam pertemuan tersebut, Kim menyatakan Pyongyang akan terus mendukung kebijakan Rusia untuk mempertahankan kedaulatan, integritas wilayah, dan kepentingan keamanannya. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa garis hubungan kedua negara tidak berhenti pada kedekatan politik, tetapi bergerak ke arah kerja sama yang semakin dalam.

Dukungan yang makin terbuka

KCNA menggambarkan posisi Korea Utara sebagai dukungan resmi dan konsisten terhadap Moskow. Isyarat itu juga terlihat dari pertemuan Kim dengan Ketua Parlemen Rusia Vyacheslav Volodin, sosok yang dikenal dekat dengan Presiden Vladimir Putin.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak kembali menegaskan keinginan untuk memperdalam hubungan bilateral sesuai kerangka perjanjian kemitraan strategis komprehensif yang sudah disepakati. Kerangka ini menjadi dasar yang memperkuat hubungan diplomatik dan kerja sama kedua negara di tengah situasi perang yang masih berlangsung.

Kursk menjadi simbol keterlibatan Pyongyang

Kedekatan Rusia dan Korea Utara tidak hanya muncul dalam pernyataan politik. Salah satu penanda paling jelas terlihat dari penyelesaian memorial untuk menghormati tentara Korea Utara yang tewas di wilayah Kursk, Rusia.

Delegasi Rusia hadir dalam acara tersebut, yang sekaligus memberi bobot simbolik pada pesan solidaritas antara Moskow dan Pyongyang. Kursk sendiri menjadi lokasi serangan pasukan Ukraina pada 2024, dan wilayah itu kemudian disebut sebagai tempat pengerahan pasukan Korea Utara.

Menurut laporan yang dikutip KCNA, Korea Utara telah mengirim sekitar 14.000 tentara untuk membantu pasukan Rusia di wilayah tersebut setelah kedua negara menyepakati pakta pertahanan bersama. Pejabat Korea Selatan, Ukraina, dan Barat menyebut lebih dari 6.000 tentara Korea Utara tewas dalam pertempuran itu, meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dari laporan yang sama.

Narasi pengorbanan yang ditekankan Kim

Kim tampak menempatkan para prajurit yang terlibat dalam perang di Kursk sebagai simbol pengorbanan dan loyalitas. Dalam upacara penyelesaian memorial, ia menulis pesan tangan yang berbunyi, “jiwa-jiwa yang gugur akan hidup selamanya dengan kehormatan besar yang mereka bela.”

Ungkapan itu memperlihatkan cara Pyongyang membingkai keterlibatan militernya sebagai bagian dari narasi kehormatan negara. Memorial dan upacara resmi tersebut juga memperkuat pesan bahwa dukungan terhadap Rusia dipandang bukan sekadar urusan diplomatik, melainkan bagian dari identitas politik yang ingin ditonjolkan Korea Utara.

KCNA juga melaporkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim surat dalam kesempatan itu. Putin menyampaikan bahwa lewat upaya bersama, Rusia dan Korea Utara akan terus memperkuat kemitraan strategis komprehensif mereka.

Hubungan yang meluas di tengah perang

Rangkaian pertemuan, surat, dan upacara memorial menunjukkan bahwa hubungan kedua negara kini bergerak lebih jauh dari sekadar kedekatan diplomatik. Kerja sama militer mendapat porsi yang lebih besar, sementara simbol penghormatan bagi tentara yang terlibat di Kursk ikut menguatkan pesan politik dari Moskow dan Pyongyang.

Bagi Korea Utara, dukungan kepada Rusia tampak diposisikan sebagai pembelaan terhadap tatanan keamanan yang dianggap sejalan dengan kepentingannya. Bagi Rusia, dukungan itu menegaskan bahwa kemitraan strategis dengan Pyongyang tetap terjaga di tengah tekanan perang yang masih berlanjut.

Berita Terkait