Nilai ekspor burung hias Indonesia pada 2025 mencapai Rp 12,5 miliar, naik sekitar 237 persen dibandingkan 2024. Kenaikan ini menunjukkan bahwa budidaya dalam negeri mulai memberi dorongan nyata bagi perdagangan luar negeri, meski jalur distribusinya masih rentan terhadap guncangan global.
Dorongan itu kini berhadapan dengan hambatan dari konflik di Timur Tengah. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut gangguan pengiriman sempat terjadi pada awal 2026 dan dampaknya masih terasa hingga Maret 2026.
Masalah utama muncul karena pasar tujuan burung hias Indonesia banyak terkonsentrasi di Singapura dan kawasan Timur Tengah. Saat situasi keamanan di wilayah tersebut memburuk, pengiriman ikut tersendat dan ritme distribusi menjadi lebih lambat.
Budi menyampaikan hal itu di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta. Ia menilai faktor keamanan di negara tujuan ekspor menjadi salah satu penekan utama yang membuat distribusi komoditas ini tidak bergerak normal.
Pasar tujuan yang sempit jadi titik rawan
Ketergantungan pada beberapa pasar membuat ekspor burung hias lebih mudah terkena dampak ketika terjadi gejolak geopolitik. Begitu perang memanas, jalur pengiriman langsung merasakan imbasnya karena arus barang menuju negara tujuan utama tidak berjalan lancar.
Hambatan tersebut belum sepenuhnya hilang pada periode Maret. Pemerintah melihat kondisi itu sebagai pengingat bahwa ekspor komoditas ini masih bergantung pada stabilitas pasar luar negeri.
Meski begitu, pemerintah belum menutup peluang pemulihan. Jika perdagangan internasional membaik, arus ekspor burung hias masih dinilai bisa kembali bergerak naik.
Budidaya domestik masih jadi tumpuan
Di tengah tekanan geopolitik, pemerintah melihat ruang tumbuh yang besar untuk sektor ini pada sisa 2026. Budi memperkirakan permintaan dapat meningkat lagi seiring meluasnya pasar dan membaiknya kualitas peternakan di dalam negeri.
Ia juga menekankan bahwa kenaikan pasar luar negeri akan berdampak langsung pada usaha ternak burung di Indonesia. Artinya, penguatan ekspor bukan hanya soal nilai dagang, tetapi juga menyangkut kokohnya rantai usaha di hulu.
Capaian 2025 menjadi modal penting ketika sektor ini menghadapi tekanan dari luar. Lonjakan nilai ekspor yang bersumber dari burung hias hasil ternak menunjukkan bahwa budidaya domestik sudah masuk ke dalam rantai perdagangan internasional.
Pemantauan ketat atas dinamika global
Pemerintah kini memantau perubahan situasi internasional agar momentum ekspor tidak hilang. Pemantauan ini dianggap penting karena gangguan geopolitik dapat langsung memukul distribusi dan ritme pengiriman ke pasar tujuan.
Saat pengiriman terganggu, pelaku usaha di hulu ikut merasakan efeknya. Kondisi pasar yang melambat menahan arus penjualan, meski pasokan burung hias dari hasil ternak di dalam negeri tetap tersedia.
Situasi ini juga memperlihatkan risiko besar dari ketergantungan pada pasar tertentu, terutama Singapura dan Timur Tengah. Jika permintaan di dua kawasan itu kembali normal, pemerintah berharap ekspor burung hias bisa ikut pulih setelah Maret.







