Ekspansi ke pasar luar negeri kini dipandang sebagai salah satu cara paling realistis bagi UMKM untuk bertahan saat biaya produksi terus menekan. Di tengah kenaikan beban operasional, penjualan di pasar global dianggap bisa memberi ruang napas baru bagi usaha kecil agar tetap bergerak.
Gagasan itu mengemuka dalam sebuah webinar yang diikuti lebih dari 500 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Dalam forum tersebut, ekspansi internasional tidak hanya dibahas sebagai target pertumbuhan, tetapi juga sebagai strategi menghadapi kondisi usaha yang semakin menantang.
Tekanan biaya membuat UMKM dituntut bergerak lebih cepat dalam menyesuaikan diri dengan perubahan pasar. VP CSR & SMEPP Management PT Pertamina (Persero), Rudi Ariffianto, menilai bahwa daya tahan pelaku usaha kini sedang diuji, meski indikator ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang cukup baik.
“UMKM saat ini sedang diuji daya tahannya. Namun, indikator ekonomi kita menunjukkan kondisi yang cukup baik,” ujar Rudi Ariffianto. Pernyataan itu menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi UMKM bukan hanya soal situasi ekonomi secara umum, tetapi juga kecepatan adaptasi dalam merespons tekanan yang muncul di lapangan.
Dalam kondisi seperti ini, pasar luar negeri memberi peluang untuk memperluas sumber penjualan. Ketika biaya bahan baku, distribusi, dan operasional meningkat, akses ke pasar yang lebih luas dapat membantu menjaga keberlanjutan usaha dan mengurangi tekanan pada margin.
Fondasi usaha perlu dibenahi lebih dulu
Meski menarik, ekspansi ke pasar global tidak bisa dijalankan tanpa kesiapan internal yang kuat. Sumber daya manusia yang siap serta identitas merek yang jelas menjadi modal penting agar UMKM mampu bersaing di ruang yang jauh lebih kompleks.
Founder Kebab Turki Baba Rafi, Nilamsari Sahadewa, menekankan pentingnya manajemen internal yang rapi untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Jejaring usaha yang ia bangun kini telah mengoperasikan lebih dari 1.600 gerai di 10 negara.
Skala tersebut menunjukkan bahwa penetrasi ke pasar internasional menuntut sistem bisnis yang matang. Produk, layanan, dan model distribusi perlu mampu menyesuaikan diri agar peluang yang ada tidak berhenti pada tahap awal saja.
Pendampingan ikut menentukan daya saing
Di sisi lain, penguatan UMKM juga berjalan melalui pembinaan dan pendampingan yang konsisten. Selama Januari-Maret 2026, pembinaan UMKM mencatat 1.323 sertifikasi produk, 267 pelatihan UMKM, dan 179 pameran lokal.
Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa daya saing tidak dibangun hanya lewat penjualan. Sertifikasi membantu produk lebih siap memasuki pasar, pelatihan memperkuat kapasitas pelaku usaha, sedangkan pameran membuka ruang pertemuan dengan calon pembeli maupun mitra.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan komitmen pendampingan yang berkelanjutan. “Pertamina berkomitmen untuk terus mendampingi UMKM agar semakin tangguh, adaptif, dan berdaya saing,” ujarnya.
Efisiensi tetap menjadi penopang utama
Selain memperluas pasar, UMKM juga perlu menata ulang cara kerja agar lebih efisien. Salah satu langkah yang disorot adalah penghematan energi untuk menekan beban operasional tanpa mengorbankan kualitas produk.
Dorongan efisiensi menjadi semakin penting karena persaingan pasar bergerak cepat dan biaya produksi terus memberi tekanan. UMKM yang mampu beradaptasi lebih cepat akan memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan posisinya.
Karena itu, ekspansi ke pasar internasional tidak berdiri sendiri sebagai solusi tunggal. Langkah tersebut perlu ditopang pembenahan internal, sertifikasi, pelatihan, pendampingan, dan efisiensi operasional agar UMKM tetap tangguh di tengah tekanan biaya yang belum mereda.







