El Nino Membuat Risiko DBD Meningkat, Rumah Tangga Tak Lagi Bisa Lengah

Author: Redaksi Android62

Risiko demam berdarah dengue atau DBD di Indonesia kini makin sulit diprediksi karena perubahan iklim dan fenomena El Nino ikut mempercepat perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Kondisi cuaca yang berubah-ubah tidak hanya memicu lebih banyak tempat perkembangbiakan, tetapi juga memperbesar peluang penularan di lingkungan tempat tinggal.

Ancaman itu tidak lagi terbatas pada musim hujan. Saat musim kering, warga justru cenderung menyimpan air di berbagai wadah, dan situasi tersebut dapat menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.

Cuaca hangat mempercepat siklus penularan

Suhu yang lebih hangat membuat siklus hidup Aedes aegypti berlangsung lebih cepat, dari telur hingga menjadi dewasa. Pada saat yang sama, suhu itu juga mempercepat replikasi virus dengue di tubuh nyamuk, sehingga potensi penularan ikut meningkat.

Curah hujan yang tidak menentu memperburuk keadaan karena genangan air setelah hujan deras sama berisikonya dengan wadah penampungan air saat cuaca kering. Dua kondisi itu sama-sama membuka peluang nyamuk berkembang biak di sekitar rumah.

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, MKM, menyebut perubahan iklim sebagai faktor yang perlu diwaspadai. Ia mengatakan, “Perubahan iklim dan pola cuaca yang semakin tidak menentu berpotensi meningkatkan risiko penyebaran DBD.”

Beban kesehatan dan ekonomi berjalan bersamaan

DBD juga membawa beban ekonomi yang tidak kecil bagi keluarga dan sistem kesehatan. Sebuah studi dari Universitas Gadjah Mada memperkirakan beban ekonomi akibat DBD di Indonesia mencapai hampir Rp9 triliun pada 2024.

Perhitungan itu mencakup biaya layanan kesehatan, pengeluaran langsung pasien, serta hilangnya pendapatan selama masa sakit. Karena itu, pencegahan DBD tidak hanya penting untuk kesehatan, tetapi juga untuk perlindungan ekonomi keluarga.

Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan dampak penyakit ini masih luas. Kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, yang mencapai 41 persen dari total kematian akibat DBD pada 2025.

Kelompok usia 15–44 tahun menyumbang kasus terbanyak, yakni 42 persen dari total kasus pada tahun yang sama. Data ini menunjukkan bahwa DBD dapat menyerang berbagai kelompok usia, bukan hanya anak-anak.

Pencegahan harus dimulai dari rumah

Pemerintah terus mendorong pengendalian dengue dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Upaya itu mencakup edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, serta pemanfaatan inovasi pencegahan yang tersedia, termasuk vaksinasi.

Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), menegaskan bahwa banyak orang tua masih menganggap DBD sebagai penyakit musiman. Menurut dia, penularan dapat terjadi kapan saja dan dalam sebagian kasus bisa berkembang menjadi syok dengue yang mengancam jiwa.

Ia menekankan pentingnya mengenali gejala sejak awal dan menjalankan perlindungan yang lengkap. Selain 3M Plus, vaksinasi juga disebut dapat membantu menurunkan risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD.

Edukasi publik dan kolaborasi makin dibutuhkan

Di tengah ancaman yang terus berubah, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dari pencegahan. PT Takeda Innovative Medicines menggelar kegiatan edukasi publik bertajuk “ABCD Land – Ayo Bersama Cegah DBD!” pada 20–21 Juni 2026 di Urban Forest, Jakarta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari inisiatif Langkah Bersama Cegah DBD dan hadir bertepatan dengan peringatan ASEAN Dengue Day. Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan bahwa kolaborasi menjadi kunci menghadapi dengue.

Melalui edukasi, konsultasi kesehatan, permainan interaktif, dan sesi bersama para ahli, kegiatan tersebut mendorong keluarga menjadikan pencegahan DBD sebagai kebiasaan sehari-hari. Dalam situasi ketika pola penyebaran penyakit makin sulit diprediksi, kewaspadaan terhadap DBD perlu dijaga sejak lingkungan rumah.

Langkah sederhana seperti 3M Plus, pemantauan jentik, dan perlindungan tambahan melalui vaksinasi menjadi bagian penting untuk menekan risiko penularan. Dengan ancaman yang tidak lagi bergantung pada satu musim, rumah tangga diminta tetap waspada sepanjang waktu.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru