Harga emas dunia menembus US$ 4.125,5100 per ons troi pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Kenaikan tersebut menunjukkan kuatnya minat investor terhadap aset aman ketika konflik Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat berjalan bersamaan.
Posisi emas kini berada di tengah dua dorongan yang berlawanan. Ketegangan geopolitik mendukung pembelian logam mulia, sedangkan risiko inflasi dari kenaikan harga energi dapat membuat suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Level US$ 4.000 Menjadi Batas Penting
Area US$ 4.000 per ons menjadi perhatian utama pelaku pasar setelah harga emas sebelumnya terkoreksi dari rekor tertinggi pada Januari. Analis Senior ActivTrades Ricardo Evangelista menilai level tersebut masih menjadi dukungan teknikal yang kuat.
Ketahanan emas di atas area itu penting karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga tinggi dipertahankan, instrumen berbunga dapat menjadi lebih menarik dibandingkan emas.
Evangelista menilai pasar sedang menghadapi keseimbangan yang rapuh antara risiko inflasi dan kebutuhan atas aset aman. “Kekhawatiran bahwa harga minyak yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama diimbangi oleh permintaan aset aman,” kata Evangelista.
Minyak Menambah Tekanan terhadap Inflasi
Risiko energi meningkat setelah tiga kapal tanker pembawa minyak mentah Arab Saudi menuju China dan India dilaporkan berbalik arah di Laut Merah. Perubahan rute itu dikaitkan dengan ancaman kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.
Gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut mendorong harga minyak dunia naik dan memperbesar kekhawatiran mengenai inflasi. Kondisi ini dapat membatasi ruang penurunan suku bunga, meskipun situasi konflik tetap menopang permintaan emas.
Harapan de-eskalasi melalui diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran dapat mengurangi tekanan pada harga minyak. Namun, reli emas tetap berisiko tertekan apabila volatilitas pasar energi meningkat.
Pasar Menunggu Keputusan The Fed
Pelaku pasar akan mencermati pertemuan The Fed pada pekan depan untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya. Jajak pendapat Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuannya hingga akhir 2026.
Pasar juga memperhitungkan peluang dua kali kenaikan suku bunga hingga akhir Maret tahun depan. Data CME FedWatch mencatat peluang kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 68%.
Di tengah ekspektasi tersebut, harga emas spot telah menguat tajam dalam dua hari perdagangan. Data Bloomberg mencatat emas spot berada di US$ 4.125,5100 per ons troi pada Kamis, setelah mendekati level tertinggi dua pekan pada sesi sebelumnya.
| Komoditas | Perubahan | Harga per Ons |
|---|---|---|
| Emas spot | Naik sekitar 1% | US$ 4.115,89 |
| Perak spot | Naik 1% | US$ 59,35 |
| Platinum | Naik 1,1% | US$ 1.646,63 |
| Paladium | Naik 1,8% | US$ 1.305,41 |
Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus juga ditutup naik 1,1% menjadi US$ 4.120,60 per ons pada Rabu (22/7/2026). Penguatan serentak pada perak, platinum, dan paladium memperlihatkan sentimen positif meluas di pasar logam mulia.
Arah berikutnya bagi harga emas dunia akan bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan minyak, dan keputusan suku bunga The Fed. Ketiga faktor itu akan menentukan apakah dukungan di US$ 4.000 mampu tetap menahan tekanan pasar.
Source: www.beritasatu.com






