Harga aluminium dan tembaga di London Metal Exchange (LME) sama-sama bergerak kuat di tengah kekhawatiran pasar terhadap pasokan global. Dalam beberapa pekan terakhir, reli ini bahkan ikut mendorong indeks LME yang melacak enam logam utama naik hampir 12 persen.
Kondisi tersebut terjadi ketika pelaku pasar masih memantau gangguan pengiriman akibat perang di Timur Tengah. Kekhawatiran utama bukan lagi hanya soal permintaan, melainkan apakah logam dasar bisa tetap mengalir lancar ke pasar dunia.
Aluminium menjadi titik tekan terbesar
Di antara berbagai logam dasar, aluminium muncul sebagai sorotan utama karena kenaikan harganya paling menonjol. Sejak perang yang melibatkan Iran dimulai, harga aluminium sudah naik sekitar 15 persen.
Pasar menilai tekanan pasokan semakin berat karena Timur Tengah menyumbang 9 persen produksi global aluminium. Situasi ini membuat gangguan kecil dalam produksi atau distribusi langsung memicu reaksi harga yang lebih besar dari biasanya.
JPMorgan Chase & Co. bahkan mengingatkan adanya potensi defisit besar di pasar aluminium. Peringatan itu menguat setelah serangan militer menyasar pusat produksi utama dan memperburuk jalur distribusi komoditas.
Laporan lembaga tersebut juga menyoroti serangan Iran yang mengenai dua pabrik peleburan utama di Abu Dhabi dan Bahrain pada akhir bulan lalu. Di saat yang sama, pengiriman komoditas ikut terhenti total akibat blokade ganda di Selat Hormuz oleh Amerika Serikat dan Iran.
Pasar menimbang risiko pasokan, bukan hanya arah harga
Dalam kondisi seperti ini, perhatian pelaku pasar bergeser tajam ke ketersediaan barang. Ketika pasokan dipandang tidak aman, harga bisa bergerak cepat meski perubahan permintaan belum terlihat terlalu besar.
Itulah sebabnya gangguan logistik yang semula tampak kecil dapat langsung tercermin ke pasar logam. Tekanan dari sisi suplai menjadi faktor yang terus membayangi perdagangan aluminium dan logam dasar lain.
Laju kenaikan indeks LME memperlihatkan bahwa pasar sedang merespons risiko fisik di jalur distribusi global. Dalam penutupan perdagangan Kamis, kenaikan itu menegaskan betapa sensitifnya komoditas terhadap konflik yang belum mereda.
Tembaga ikut memperkuat reli
Selain aluminium, tembaga juga ikut menyumbang penguatan pada indeks LME. Dalam empat pekan terakhir, harganya sudah naik 11 persen dan kini hanya sekitar 3 persen di bawah rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah.
Sejumlah institusi, termasuk Mercuria Energy Group dan BMO Capital Markets, memperkirakan harga tembaga bisa menembus rekor tertinggi yang sebelumnya tercapai pada Januari. Dorongan itu datang dari kembalinya pembeli asal China ke pasar serta rencana kebijakan tarif dari Gedung Putih.
Gao Yin, analis di Shuohe Asset Management Co., menilai para pedagang membangun kembali posisi di logam dasar lebih cepat daripada pergerakan harga. Ia juga menyebut pasar masih tetap responsif selama perang Iran belum benar-benar selesai dan gangguan pasokan aluminium masih berlangsung.
Sinyal diplomatik belum cukup meredakan kekhawatiran
Di tengah tekanan itu, muncul harapan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran bisa diperpanjang. Sentimen tersebut sempat membantu menopang harga logam lain yang sebelumnya tertekan oleh biaya energi tinggi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyampaikan pernyataan terkait situasi diplomatik dengan Teheran pada Kamis waktu setempat. Namun, klaim mengenai kesepakatan itu belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pemerintah Iran.
Ketidakpastian tersebut membuat pasar tetap berhati-hati. Pelaku pasar masih menimbang kabar diplomatik sekaligus risiko nyata di jalur distribusi, sehingga volatilitas harga diperkirakan belum akan cepat mereda.
Pergerakan harga belum seragam
Meski indeks LMEX naik 3,6 persen dalam sepekan hingga Kamis, arah pergerakan di masing-masing logam tidak selalu sama. Pada perdagangan Jumat pukul 11:54 pagi di Shanghai, harga aluminium turun 0,3 persen menjadi US$3.632,50 per ton, sementara tembaga juga melemah 0,3 persen.
Di sisi lain, nikel justru menguat 1,8 persen pada hari yang sama. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa pasar masih menilai risiko setiap komoditas secara terpisah, terutama ketika konflik geopolitik terus memberi tekanan pada arus perdagangan global.







