Emisi Metana Bantargebang Melonjak, Ancaman Iklim Dan Kesehatan Di Sekitarnya Makin Serius

TPST Bantargebang menjadi sorotan karena fasilitas ini dilaporkan melepaskan 6,3 ton gas metana per jam. Temuan tersebut menempatkannya sebagai penyumbang emisi metana terbesar kedua di dunia, hanya berada di bawah satu TPA di Argentina.

Di balik tumpukan sampah yang terus menumpuk, ancaman yang muncul tidak berhenti pada bau dan pencemaran lokal. Gas metana yang keluar dari kawasan itu juga berkaitan langsung dengan pemanasan global yang lebih cepat dan lebih kuat dalam waktu singkat.

Metana, gas yang dampaknya besar meski tidak lama bertahan

Metana sering disebut sebagai pemanas super karena kemampuan menahan panasnya sangat tinggi di atmosfer. Mengutip NASA, daya pemanasan global metana mencapai 84 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam periode 20 tahun.

Meski umur metana di atmosfer hanya sekitar 12 tahun, dampaknya tetap terasa besar selama gas itu bertahan. NASA juga menjelaskan bahwa 5 ton emisi metana per jam bisa setara dengan pemanasan dari satu juta mobil SUV atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas 500 megawatt dalam setahun.

Emisi yang terus terdeteksi dari Bantargebang

Laporan UCLA School of Law menyebut TPST Bantargebang memiliki tingkat persistensi 100 persen. Artinya, setiap kali satelit melintas, metana selalu terdeteksi keluar dari lokasi tersebut.

Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan di Bantargebang bukan sekadar soal volume sampah yang besar. Lokasi ini juga menjadi titik emisi yang terus aktif dan ikut memperburuk beban iklim di Indonesia.

Secara nasional, sektor limbah menyumbang 54 persen dari total emisi metana di Indonesia. Data itu menegaskan bahwa pengelolaan sampah memegang peran penting dalam upaya menekan gas rumah kaca di tanah air.

Sampah makanan ikut memperbesar beban

Di Bantargebang, hampir setengah dari sampah yang menumpuk disebut berupa sisa makanan. Gambaran ini sejalan dengan kondisi Indonesia yang menghasilkan 20 juta ton limbah makanan setiap tahun.

Persoalan tersebut membuat sampah tidak hanya menjadi isu kebersihan kota. Di saat yang sama, terjadi pemborosan sumber daya di tengah masih adanya anak yang mengalami stunting.

Warga sekitar menanggung risiko kesehatan paling dekat

Beban emisi dari TPST Bantargebang juga membawa risiko nyata bagi warga yang tinggal dan bekerja di sekitarnya. Paparan terus-menerus dari pencemaran sampah disebut dapat memunculkan gangguan kesehatan seperti ISPA, asma, bronkitis, dan tuberkulosis.

Ancaman lain yang ikut mengintai adalah penyakit kulit, diare, dan gangguan pencernaan. Kondisi itu dipicu lingkungan yang tidak higienis serta air yang tercemar lindi.

Air sumur di Kelurahan Sumur Batu dan wilayah sekitar dilaporkan berubah warna menjadi keruh kekuningan hingga kehitaman. Air tersebut juga berbau busuk atau seperti logam, bahkan terasa pahit, sehingga menambah berat kehidupan harian warga.

Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak dan lansia. Paparan dalam jangka panjang disebut dapat memicu kerusakan paru-paru permanen dan meningkatkan risiko penyakit kronis lainnya.

Dampaknya tidak berhenti di sekitar lokasi

Ancaman metana dari sampah juga berpengaruh pada sektor lain, termasuk pertanian. Gas ini dapat memicu pembentukan ozon troposfer yang merusak tanaman dan mengganggu hasil panen.

National Geographic Indonesia menyebut kerugian hasil panen utama akibat emisi metana diperkirakan bisa mencapai 12 persen setiap tahun. Dampak itu dapat menjalar ke produksi pangan, padang rumput, dan hutan, sekaligus memperbesar risiko kekurangan gizi.

BRIN juga menyoroti metana dari limbah ternak sebagai salah satu sumber yang kerap dikaitkan dengan perubahan iklim. Lembaga itu menekankan bahwa riset dan inovasi dapat menjadi jalan untuk menekan emisi tersebut secara lebih efektif.

Di lapangan, beban terbesar tetap berada di pundak masyarakat yang tinggal paling dekat dengan sumber polusi. Pemulung, pekerja persampahan, dan warga sekitar TPA menjalani aktivitas harian di tengah udara, air, dan lingkungan yang terus terpapar emisi yang sama.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait