Empat Dari Sepuluh Pemimpin Senior OCBC NISP Perempuan, Stereotip Lama Mulai Pudar

Di Bank OCBC NISP, perempuan tidak hanya hadir dalam jumlah besar, tetapi juga memegang posisi penting dalam struktur kepemimpinan. Data bank tersebut menunjukkan keterwakilan perempuan di posisi pemimpin senior mencapai 40 persen, sementara total karyawan perempuan mencapai 52 persen.

Angka itu menjadi penanda bahwa peran perempuan di sektor perbankan semakin kuat, bukan lagi sekadar mengisi fungsi pendukung. Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa stereotip lama tentang peran perempuan di dunia kerja mulai dipatahkan lewat kontribusi nyata di lapangan.

Perempuan dinilai perlu berani mengambil kesempatan

Direktur Bank OCBC NISP, Lili Surjani Budiana, menilai perempuan tidak semestinya dibatasi oleh pandangan lama yang masih kerap melekat di lingkungan kerja. Menurut dia, keberanian untuk mengambil peluang justru menjadi kunci agar perempuan bisa berkembang, baik dalam karier maupun dalam pilihan hidup yang mereka tentukan sendiri.

Lili juga menekankan bahwa emansipasi tidak bisa dipersempit hanya pada soal bekerja di perusahaan. Baginya, emansipasi berarti perempuan memiliki kebebasan untuk mengaktualisasikan diri, termasuk memilih untuk berkarier atau menjadi ibu rumah tangga, selama keputusan itu lahir dari kesadaran pribadi.

“Secara pribadi, makna emansipasi adalah setiap Perempuan harus memiliki kebebasan untuk mengaktualisasikan diri. Dalam hal ini berani untuk memilih dan mengambil kesempatan,” ujar Lili Surjani Budiana.

Pengalaman kerja yang tidak selalu lurus

Pandangan itu sejalan dengan perjalanan karier Lili yang tidak selalu berada di jalur yang mudah. Ia memulai dari fungsi legal, lalu mendapat tanggung jawab baru di Deutsche Bank pada bidang operasional pinjaman, sebuah area yang awalnya terasa asing baginya.

Lili mengaku sempat ragu karena tugas tersebut berada di luar keahlian utamanya. Namun, ia memilih tetap melangkah karena melihat tantangan itu sebagai peluang belajar yang berharga.

“Memang tidak mudah, bahkan struggling. Tapi ternyata, itu adalah salah satu kesempatan yang paling berharga untuk saya,” katanya.

Dari pengalaman itu, Lili memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai proses kredit dan cara kerja bank secara menyeluruh. Baginya, pertumbuhan karier sering kali lahir dari keberanian masuk ke wilayah yang belum dikenal.

Pelajaran dari krisis yang membentuk cara pandang

Pengalaman Lili juga diuji ketika krisis ekonomi 1998 mengguncang sektor perbankan. Saat itu, bank menghadapi tekanan besar, mulai dari lonjakan kredit macet hingga perubahan suku bunga yang bergerak cepat dan sulit diprediksi.

Ia menyebut periode tersebut penuh pelajaran dan bahkan menggambarkannya sebagai “blessing in disguise”. Menurut Lili, masa sulit itu justru memperkaya pemahamannya tentang bagaimana bank bertahan di tengah krisis.

Setelah itu, Lili bergabung dengan OCBC Indonesia yang kemudian merger dengan Bank OCBC NISP pada 2011. Perjalanan panjang itu memperkuat keyakinannya bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses yang membutuhkan waktu dan kemauan.

“Memang perlu waktu dan kemauan, karena menurut saya keberhasilan yang berkelanjutan tidak ada yang instan. Untuk mencapainya membutuhkan proses,” kata Lili.

Stereotip lama belum hilang sepenuhnya

Meski partisipasi perempuan di perbankan terus meningkat, Lili mengakui bahwa stereotip gender masih belum sepenuhnya hilang. Masih ada pandangan yang menilai perempuan kurang tegas, kurang berani, atau lebih mengandalkan perasaan ketimbang logika.

“Kadang di hal tertentu, perempuan dianggap kurang tegas, dan laki-laki lebih cocok untuk melakukannya. Perempuan dianggap kurang berani, lebih menggunakan perasaan instead of logika,” ungkapnya.

Menurut Lili, cara paling efektif untuk menjawab anggapan seperti itu adalah menunjukkan hasil kerja yang nyata. Kompetensi, kata dia, berbicara lebih keras daripada stereotip yang bertahan lama.

Kualitas yang dibutuhkan industri perbankan

Lili melihat bahwa sektor perbankan justru sangat membutuhkan kualitas yang kerap dikaitkan dengan perempuan. Empati, ketelitian, kemampuan komunikasi, dan kepekaan terhadap risiko menjadi modal penting dalam industri yang mengandalkan kepercayaan serta prinsip kehati-hatian.

“Semua keunggulan ini sangat dibutuhkan dalam sektor perbankan yang membutuhkan kolaborasi, kepekaan terhadap risiko, serta mengutamakan kepercayaan dan prinsip kehati-hatian,” tutur Lili.

Dalam konteks itu, isu gender bukan hanya soal jumlah perempuan yang hadir di organisasi. Isu yang lebih penting adalah bagaimana mereka mendapat ruang untuk mengambil peran strategis dan membawa sudut pandang yang memperkaya proses pengambilan keputusan.

Data OCBC NISP menunjukkan bahwa hal itu mulai terlihat jelas. Dengan 40 persen pemimpin senior perempuan dan 52 persen karyawan perempuan, bank tersebut memperlihatkan bahwa keterlibatan perempuan sudah merata hingga ke level kepemimpinan, sekaligus menegaskan bahwa stereotip lama semakin sulit bertahan ketika dihadapkan pada kontribusi yang konkret.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer