Seluruh 252 murid baru kelas X SMAN 28 Bandung dinyatakan lulus Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS tahun pelajaran 2026/2027. Kegiatan tersebut berlangsung tertib, edukatif, dan disebut jauh dari praktik perpeloncoan.
Di tengah hasil positif itu, Wakil Wali Kota Bandung Erwin menyampaikan peringatan penting bagi para siswa. Ia meminta pelajar tidak hanya mengejar nilai akademik hingga menjadi kutu buku di sekolah.
Erwin menilai kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, bekerja sama, serta menghargai orang lain harus dibangun sejak masa pendidikan. Bekal tersebut diperlukan agar siswa siap mengambil peran di lingkungan masyarakat pada masa depan.
Akademik Harus Berjalan Seiring dengan Karakter
Menurut Erwin, sekolah bukan semata ruang untuk mengejar kecerdasan berpikir dan penguasaan ilmu pengetahuan. Sekolah juga menjadi tempat pembentukan diri bagi calon pemimpin, pengusaha, ilmuwan, hingga tenaga medis.
Ia menekankan perlunya pertumbuhan yang seimbang pada tiga kualitas utama siswa. Keseimbangan intelektual, emosional, dan spiritual dinilainya penting untuk membentuk pelajar yang utuh.
| Kualitas | Fokus Pengembangan |
|---|---|
| Intelektual | Kecerdasan berpikir dan penguasaan ilmu pengetahuan |
| Emosional | Kemampuan mengelola perasaan, berempati, dan bekerja sama |
| Spiritual | Kedekatan dengan Tuhan sebagai kompas moral |
Pengembangan kecerdasan emosional dapat dilakukan melalui pergaulan yang baik dan aktivitas bersama teman. Sementara itu, penguatan spiritual dipandang sebagai dasar untuk menjaga arah moral dalam kehidupan sehari-hari.
Organisasi Menjadi Ruang Belajar Kepemimpinan
Erwin mendorong murid baru untuk aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah maupun organisasi kepemudaan di lingkungan tempat tinggal. Kegiatan tersebut dapat menjadi ruang belajar kepemimpinan sekaligus membangun pergaulan yang sehat.
Peserta didik juga diminta membiasakan diri memilih lingkungan pertemanan yang positif. Selain belajar di kelas, mereka perlu terus menuntut ilmu dan mengambil bagian dalam kegiatan yang melatih tanggung jawab.
Dalam pesannya, Erwin membagikan konsep Lima Kesadaran sebagai pegangan bagi pelajar. Kesadaran beragama atau al wa’yu addini ditempatkan sebagai pondasi utama pembentukan karakter.
Ia menilai pendidikan spiritual perlu menjadi perhatian bersama keluarga dan sekolah. Guru pun diminta terus membiasakan peserta didik menjalankan ibadah dalam kehidupan di lingkungan pendidikan.
Tantangan AI Menanti Generasi Baru
Setelah MPLS berakhir, para siswa dinilai baru memasuki proses pendidikan yang lebih panjang. Erwin meminta mereka menjalani proses itu secara sungguh-sungguh untuk meraih cita-cita dan membanggakan orang tua.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, menjadi tantangan yang harus dihadapi generasi muda. Karena itu, siswa didorong menjadi pribadi yang inovatif dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zamannya.
“Pemuda-pemudi hari ini adalah calon pemimpin di masa depan. Kalau kalian ingin menjadi pemimpin, pengusaha, ilmuwan, atau dokter, kalian harus menjadi generasi yang sesuai dengan zamannya,” kata Erwin saat menutup MPLS murid baru kelas X di SMAN 28 Bandung.
Kepala SMAN 28 Bandung Ai Sumiati melaporkan rangkaian MPLS berjalan lancar tanpa kendala berarti. Kehadiran, keaktifan, dan kedisiplinan para murid menjadi catatan positif selama kegiatan berlangsung.
Source: mediaindonesia.com






