Indonesia kini memiliki enam wakil dalam ASEAN Smart Cities Network setelah Semarang dan Denpasar diperkenalkan sebagai anggota baru. Penambahan tersebut memperluas peluang kota-kota Indonesia untuk membangun kemitraan lintas negara dalam pengembangan layanan perkotaan.
Keanggotaan baru ini menempatkan Semarang dan Denpasar di jejaring regional yang mendorong kota cerdas, inklusif, serta berkelanjutan. Pemerintah daerah diharapkan dapat memanfaatkan jaringan tersebut untuk mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan warganya.
Agenda kota cerdas tidak hanya soal teknologi
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa pembangunan kota cerdas tidak berhenti pada pemakaian teknologi digital. Arah kebijakannya juga mencakup penguatan tata kelola, peningkatan mutu layanan publik, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, memimpin delegasi Indonesia pada pertemuan tahunan ke-9 ASEAN Smart Cities Network, Senin, 20 Juli 2026. Dalam forum itu, Safrizal bertugas sebagai Perwakilan Nasional sekaligus pengarah ASEAN Smart Cities Network Indonesia.
Ia mengoordinasikan pelaksanaan Kerangka Kota Cerdas ASEAN dan rencana aksi kota cerdas pada daerah anggota Indonesia. Medcom.id melaporkan, koordinasi tersebut meliputi 18 program kota cerdas yang berjalan di empat daerah.
Menurut Safrizal, program yang dikoordinasikan melalui jejaring tersebut mencakup digitalisasi pelayanan publik, penguatan ekonomi lokal, mobilitas perkotaan, layanan kesehatan berbasis teknologi, serta pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Sasaran akhirnya adalah manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Program smart city yang terkoordinasi melalui Asean Smart City Network kita ada 18 di 4 daerah yang isinya mencakup digitalisasi layanan publik, penguatan ekonomi lokal, mobilitas perkotaan, layanan kesehatan berbasis teknologi, hingga pengelolaan lingkungan berkelanjutan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Safrizal.
Enam daerah wakil Indonesia
Sebelum Semarang dan Denpasar bergabung, Indonesia telah diwakili oleh DKI Jakarta, Kabupaten Banyuwangi, Kota Makassar, dan Kabupaten Sumedang. Keenam daerah itu kini menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat peran dalam pembangunan perkotaan di kawasan ASEAN.
| Kota/Daerah | Status di ASCN | Keterangan |
|---|---|---|
| DKI Jakarta | Anggota Indonesia | Terlibat dalam program kota cerdas |
| Kabupaten Banyuwangi | Anggota Indonesia | Terlibat dalam program kota cerdas |
| Kota Makassar | Anggota Indonesia | Terlibat dalam program kota cerdas |
| Kabupaten Sumedang | Anggota Indonesia | Terlibat dalam program kota cerdas |
| Kota Semarang | Anggota baru | Diperkenalkan pada pertemuan tahunan |
| Kota Denpasar | Anggota baru | Diperkenalkan pada pertemuan tahunan |
Masuknya dua kota baru membuka ruang pertukaran pengalaman dan pengembangan kerja sama internasional yang lebih luas. Kemitraan itu dapat diarahkan pada solusi perkotaan yang relevan bagi karakter dan tantangan masing-masing wilayah.
Sampah berkelanjutan menjadi perhatian
Selain layanan digital, Indonesia membawa isu pengelolaan sampah berkelanjutan ke dalam agenda strategis pertemuan. Penanganannya didorong dari hulu hingga hilir melalui Gerakan Indonesia ASRI, yaitu Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
Pendekatan itu dipadukan dengan percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy. Safrizal menilai langkah tersebut dapat menjadi model kolaborasi regional untuk mewujudkan kota yang lebih bersih, tangguh, dan rendah emisi.
Kementerian Dalam Negeri menyatakan akan melanjutkan pembinaan bagi pemerintah daerah dan memfasilitasi pelaksanaan rencana aksi kota cerdas. Upaya ini juga diarahkan untuk memperluas kemitraan internasional bagi kota-kota Indonesia.
Source: www.medcom.id






