Flying Caduceus mencatat capaian yang sulit diabaikan dalam sejarah kecepatan darat. Dalam pengujian, jet car ini melaju hingga 359,7 mph atau 579 km/jam, sebuah hasil yang membuktikan bahwa mobil balap darat bertenaga jet benar-benar bisa bekerja.
Capaian itu mungkin belum menyamai ambisi awal pembuatnya, tetapi pengaruhnya jauh melampaui angka kecepatan semata. Mobil ini kemudian menjadi salah satu fondasi penting bagi proyek-proyek berikutnya seperti Spirit of America milik Craig Breedlove, program Thrust milik Richard Noble, hingga Thrust SSC yang dikemudikan Andy Green.
Mesin bomber yang menjadi sumber tenaga
Tenaga Flying Caduceus datang dari turbojet General Electric J47-19. Varian mesin ini awalnya dipakai untuk memberi dorongan tambahan saat lepas landas pada Convair B-36 Peacemaker.
B-36 sendiri merupakan bomber nuklir utama Amerika pada awal 1950-an. Pesawat itu membawa empat mesin J47-19 di samping enam mesin piston, dan satu unit mesin tersebut menghasilkan dorongan 5.200 pounds, setara sekitar 6.930 hp.
Mesin itulah yang kemudian menggerakkan jet car unik ini. Paket penggeraknya dipasang ke sasis tubular berdiameter empat kaki dengan bodi aluminium, lengkap dengan suspensi independen empat roda, rem cakram, dan parasut sepanjang delapan kaki untuk membantu pengereman.
Proyek yang menantang batas teknik
Flying Caduceus bukan sekadar eksperimen memasang mesin jet ke rangka mobil. Dr. Nathan Ostich mengembangkan konsep ini pada akhir 1950-an dengan target menembus lebih dari 500 mph atau 805 km/jam, ketika mesin piston masih mendominasi upaya kecepatan ekstrem.
Target itu juga tercermin pada speedometer mobil yang dibuat dengan batas di atas 700 mph. Namun kendala terbesar justru bukan tenaga, melainkan ban yang harus mampu bertahan dari putaran roda pada kecepatan sangat tinggi.
Menurut catatan era tersebut yang dikutip Bonhams, ban konvensional akan hancur pada putaran roda yang dibutuhkan untuk lari 500 mph. Karena itu, Firestone ikut terlibat dan mengembangkan paket roda serta ban khusus agar mobil ini mampu menghadapi gaya ekstrem tersebut.
Mobil bersejarah yang sempat masuk daftar lelang
Bonhams sempat menawarkan Flying Caduceus dalam National Automobile Museum Auction di Reno, Nevada, dengan estimasi harga 70.000 hingga 90.000 dolar AS. Mobil tahun 1960 itu dijadwalkan dijual tanpa reserve, tetapi statusnya kemudian berubah menjadi withdrawn sebelum lelang berlangsung.
Langkah penarikan itu membuat mobil legendaris tersebut kembali menjadi bahan perhatian, bukan karena harga lelangnya semata, melainkan karena posisinya yang unik dalam sejarah. Flying Caduceus dianggap luas sebagai mobil balap darat bertenaga jet pertama yang memang dirancang sejak awal untuk memecahkan rekor kecepatan.
Meski tidak pernah mencapai target utamanya, Flying Caduceus tetap menempati tempat penting di antara kendaraan paling berpengaruh yang jarang dikenal publik. Kombinasi mesin bomber nuklir, sasis khusus, dan paket roda yang dirancang untuk batas ekstrem membuatnya berbeda dari mobil kencang lain pada zamannya.
Entah kembali muncul di lelang berikutnya atau tetap berada di tangan pribadi, warisan Flying Caduceus dalam sejarah kecepatan darat sudah sulit digantikan.
