Friendster Kembali Dengan Tanpa Iklan Dan Tanpa Algoritma Yang Mengatur Arus Konten

Author: Redaksi Android62

Friendster kembali hadir dalam bentuk yang sangat berbeda dari masa kejayaannya dulu. Versi barunya datang tanpa iklan dan tanpa algoritma yang mengatur apa yang harus dilihat pengguna, sehingga fokusnya diarahkan ke privasi dan interaksi langsung antar pengguna.

Kehadiran ini juga memutus jarak panjang antara nama lama yang sempat tenggelam dan kebutuhan pengguna akan ruang digital yang lebih sederhana. Friendster versi terbaru dibuat sebagai aplikasi iOS dan dapat dipakai oleh pengguna berusia 13 tahun ke atas, dengan ukuran sekitar 5,9 MB.

Langkah kebangkitan ini dilakukan oleh programmer asal Philadelphia, Mike Carson. Ia menghidupkan kembali Friendster pada April 2026 setelah mengakuisisi domain Friendster.com sekaligus hak merek dagangnya.

Nilai transaksi itu sekitar US$ 30.000. Carson menyebut dirinya membayar US$ 20.000 dalam bentuk Bitcoin dan menukar sebuah domain yang menghasilkan sekitar US$ 9.000 per tahun dari iklan, lalu Friendster.com masuk dalam kesepakatan tersebut.

Dalam blog pribadinya, Carson mengaku ingin menghadirkan ruang digital yang lebih positif. Ia menilai jejaring sosial saat ini banyak memicu hal negatif, sementara Friendster dulu memberi pengalaman yang menyenangkan bagi penggunanya.

Nama Friendster sendiri punya tempat penting dalam sejarah internet. Platform ini didirikan Jonathan Abrams pada 2002 dan diluncurkan pada Maret 2003 sebagai layanan untuk membuat profil, terhubung dengan teman, serta berbagi foto, tautan, dan minat pribadi.

Di masa awal, Friendster tidak hanya dipakai untuk mencari pertemanan baru. Layanan ini juga berkembang menjadi ruang untuk mengatur acara, mencari pasangan, hingga menemukan komunitas musik dan minat tertentu.

Pertumbuhannya sempat sangat cepat. Dalam waktu singkat setelah peluncuran, jumlah pengguna naik dari ratusan menjadi jutaan, dan pada awal 2003 sudah melampaui 3 juta pengguna.

Lonjakan itu membuat perusahaan besar mulai meliriknya. Google sempat mengajukan tawaran akuisisi senilai US$ 30 juta pada 2003, tetapi tawaran tersebut tidak diterima.

Sebagai gantinya, Friendster memilih pendanaan dari Kleiner Perkins Caufield & Byers senilai US$ 13 juta. Keputusan itu ikut mengubah arah kepemimpinan perusahaan karena Jonathan Abrams kemudian digantikan, dan posisi CEO sempat diisi Tim Koogle, mantan eksekutif Yahoo.

Pada masa jayanya, Friendster mencatat lebih dari 115 juta pengguna terdaftar dan sempat mencapai valuasi sekitar US$ 53 juta pada 2003. Meski begitu, pamornya di Amerika Serikat perlahan memudar, sementara basis pengguna di Asia-Pasifik, terutama Asia Tenggara, justru lebih bertahan.

Masalah teknis ikut mempercepat penurunannya. Bug dan keterbatasan sistem membuat layanan terasa kurang stabil ketika jumlah pengguna terus bertambah, sedangkan Facebook dan MySpace datang dengan pembaruan yang lebih menarik.

Fokus perusahaan yang lebih mengejar pertumbuhan ketimbang pembenahan teknis membuat situasi semakin sulit. Banyak pengguna akhirnya berpindah ke platform lain yang dianggap lebih nyaman dan konsisten.

Pada 2009, Friendster diakuisisi MOL Global, perusahaan layanan internet asal Malaysia, dengan nilai sekitar US$ 26,4 juta. Setelah akuisisi, arah layanan lebih banyak difokuskan ke pengguna di Asia, tetapi langkah itu tidak cukup untuk mengembalikan Friendster sebagai media sosial utama.

Pada 2010, platform ini mulai kehilangan relevansi dan menghentikan fungsi jejaring sosialnya. Setahun kemudian, Friendster berubah menjadi platform permainan sosial, dan berbagai data pengguna seperti foto serta konten lain ikut dihapus meski akun masih sempat bertahan untuk sementara.

Pengguna juga pernah diberi kesempatan mengekspor data mereka sebelum penghapusan penuh dilakukan melalui Friendster Exporter. Pada 31 Mei 2011, Friendster menghapus seluruh konten pengguna, termasuk foto, komentar, blog, dan grup.

Setelah itu, Friendster resmi ditutup pada 14 Juni 2015. Karena penghapusan total sudah dilakukan, tidak ada fitur resmi untuk mencari atau memulihkan akun lama di layanan yang baru ini.

Itulah sebabnya pengguna yang ingin mencoba Friendster versi baru harus membuat akun baru. Kini Friendster kembali sebagai merek lama yang dibangun ulang, bukan sebagai kelanjutan langsung dari jejaring sosial yang dulu pernah populer.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru