Gambut Ternyata Mengatur Hujan, Temuan BRIN Ini Mengubah Cara Pandang

Riset terbaru BRIN menunjukkan bahwa hutan rawa gambut bukan hanya menyimpan karbon, tetapi juga membantu mengatur siklus hujan di wilayah tropis. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa gambut memiliki peran ekologis yang jauh lebih luas daripada yang selama ini dikenal.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Climate Dynamics terbitan Springer Nature pada 2026. Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, menyebut gambut bekerja seperti mesin uap alami yang memperkuat sirkulasi angin darat laut dan ritme hujan harian di pesisir tropis.

Bengkalis Dijadikan Laboratorium Alam

Penelitian dilakukan di Pulau Bengkalis, Riau, yang hampir seluruh wilayahnya masih didominasi ekosistem rawa gambut alami. Lokasi itu dipilih karena dinilai cocok untuk melihat hubungan langsung antara lahan gambut dan atmosfer.

Tim gabungan yang terlibat terdiri atas BRIN, Kyoto University, Kobe University, Hokkaido University, IPB University, dan GMIT Mongolia. Sejak Februari 2020, mereka memasang radar cuaca polarimetrik X band buatan Jepang di kompleks STAIN Bengkalis untuk memetakan hujan setiap lima menit dengan resolusi ratusan meter dalam radius sekitar 50 kilometer.

AspekDetail
Lokasi studiPulau Bengkalis, Riau
KolaborasiBRIN, Kyoto University, Kobe University, Hokkaido University, IPB University, dan GMIT Mongolia
Instrumen utamaRadar cuaca polarimetrik X band buatan Jepang
Detail pengamatanSetiap lima menit, resolusi ratusan meter, radius sekitar 50 kilometer

Pengamatan sepanjang Mei hingga Desember 2024 memperlihatkan pola hujan harian yang konsisten. Curah hujan di pedalaman Bengkalis umumnya muncul pada siang hingga sore hari, sedangkan wilayah pesisir dan laut mendapat hujan pada tengah malam hingga menjelang subuh.

Uap Air dari Gambut Memperkuat Awan

Untuk menjelaskan pola itu, peneliti membangun model matematika atmosfer dengan tiga skenario. Skenarionya mencakup wilayah pantai tanpa pulau, wilayah dengan pulau dan selat, serta wilayah pulau gambut yang memasukkan pengaruh kelembapan khas gambut.

Simulasi menunjukkan keberadaan Pulau Bengkalis menciptakan konvergensi angin dari laut dan selat secara bersamaan. Kondisi itu memperkuat pembentukan awan hujan, sementara kelembapan alami gambut menyediakan pasokan uap air dalam jumlah besar.

Ketika uap air mengembun, panas laten yang dilepaskan membantu menguatkan arus udara naik dan menarik lebih banyak udara lembap dari laut ke daratan. Albertus menjelaskan, mekanisme ini membuat sirkulasi atmosfer di pulau gambut menjadi lebih kuat dibandingkan wilayah non-gambut.

Implikasi bagi Iklim dan Pengelolaan Gambut

Temuan di Bengkalis juga memberi dukungan ilmiah baru bagi konsep biotic pump atau pompa biotik. Hipotesis itu menyebut hutan melalui evapotranspirasi dapat membantu menggerakkan sirkulasi atmosfer dan memengaruhi distribusi hujan regional.

Menurut Albertus, hasil di Bengkalis memperlihatkan pola yang konsisten antara teori, model, dan pengamatan radar. Karena itu, menjaga gambut tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan karbon, tetapi juga dengan keberlanjutan hujan dan kestabilan iklim regional.

“Menjaga gambut bukan hanya menjaga karbon, tetapi juga menjaga hujan,” kata Albertus. Ia menegaskan bahwa jika gambut dikeringkan, ditebang, atau terbakar, yang hilang bukan cuma cadangan karbon, tetapi juga fungsi ekologis sebagai pengatur hujan.

Tim peneliti merekomendasikan pengukuran langsung fluks panas laten di lapangan dengan metode eddy covariance. Mereka juga mendorong mekanisme pengaruh gambut terhadap pembentukan hujan dimasukkan ke model iklim global agar prediksi curah hujan di Benua Maritim Indonesia bisa lebih akurat.

Albertus menilai pulau-pulau gambut di tepi Pantai timur Sumatera, Kalimantan, dan Papua memang tampak kecil di peta. Namun kontribusinya terhadap sistem iklim tropis sangat besar karena ikut menjaga air, hujan, dan ketahanan Indonesia menghadapi perubahan iklim.

Berita Terkait