Gejala Hantavirus Sering Disangka Flu, Kenali Tanda Awal Dan Sumber Tularannya

Gejala hantavirus kerap muncul seperti penyakit ringan, padahal infeksinya bisa berkembang cepat dan memerlukan penanganan medis segera. Karena keluhannya sering menyerupai flu biasa pada awal kemunculan, banyak orang baru menyadari bahayanya saat kondisi sudah mulai mengganggu pernapasan.

Ancaman utama dari hantavirus justru ada pada keterlambatan mengenali paparan dan tanda awalnya. Penyakit ini tidak menular lewat kontak biasa, melainkan umumnya berkaitan dengan lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat, terutama di area rumah, gudang, atau ruangan tertutup yang jarang dibuka.

Virus ini ditemukan di wilayah Amerika Utara dan Amerika Selatan, lalu dibawa oleh beberapa jenis hewan pengerat. Penularan dapat terjadi melalui partikel dari urine, kotoran, atau sarang tikus yang terinfeksi, sehingga membersihkan area yang diduga tercemar tanpa perlindungan bisa meningkatkan risiko.

Risiko juga muncul saat makanan yang terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran tikus dikonsumsi tanpa disadari. Selain itu, virus bisa masuk ketika seseorang menyentuh benda yang terkena virus lalu memegang mata, hidung, atau mulut sebelum mencuci tangan.

Gigitan atau cakaran tikus yang terinfeksi juga termasuk jalur penularan yang diwaspadai. Beberapa hewan pengerat yang disebut membawa virus ini antara lain tikus rusa, tikus padi, tikus kapas, tikus kaki putih, dan tikus vesper.

Meski begitu, penularan antarmanusia sangat jarang terjadi. Kasus langsung yang pernah tercatat hanya pada jenis Andes virus di Amerika Selatan, sehingga sumber paparan lingkungan tetap menjadi perhatian utama.

Keluhan awal sering mengecoh

Pada fase awal, hantavirus bisa terasa seperti gangguan umum yang mudah diabaikan. Gejala biasanya muncul sekitar dua hingga tiga minggu setelah infeksi, lalu berkembang menjadi demam dan menggigil mendadak, nyeri otot, sakit kepala berkepanjangan, mual, sakit perut, muntah, dan diare.

Karena pola keluhannya mirip flu biasa atau sekadar kelelahan, banyak orang tidak segera mengaitkannya dengan infeksi serius. Situasi ini membuat pemeriksaan sering terlambat dilakukan, terutama bila ada riwayat berada di area yang banyak tikus atau jarang dibersihkan.

Saat infeksi berlanjut, penderita dapat mulai mengalami batuk dan sesak napas. Pada kondisi yang lebih berat, tekanan darah bisa turun dan detak jantung menjadi tidak teratur.

Mengapa penanganan cepat sangat penting

Hantavirus termasuk penyakit langka yang bisa memburuk cepat, terutama jika sudah mengarah ke gangguan pernapasan. Infeksi yang semakin parah dapat merusak jaringan paru-paru dan memicu penumpukan cairan, sehingga penderita makin sulit bernapas.

Dalam kondisi seperti itu, bantuan medis tidak boleh ditunda. Hingga kini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan hantavirus, sehingga perawatan difokuskan pada menjaga kondisi tubuh tetap stabil melalui istirahat, cairan, dan bantuan untuk meredakan gejala.

Pada hantavirus pulmonary syndrome atau HPS, gangguan pernapasan dapat menjadi sangat serius. Pasien bisa memerlukan oksigen tambahan, dan pada keadaan tertentu dokter mungkin melakukan intubasi dengan memasang selang ke paru-paru melalui mulut agar oksigen dapat diberikan lebih maksimal.

Dampak lain yang perlu diwaspadai

Selain paru-paru, beberapa jenis hantavirus juga dapat mengganggu fungsi ginjal. Jika kerusakan ginjal memburuk, pasien mungkin memerlukan dialisis untuk membantu menyaring racun dan menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Karena kondisi berat tidak bisa ditangani sendiri di rumah, kewaspadaan menjadi langkah paling penting. Kebersihan rumah, gudang, dan area yang jarang dibersihkan perlu dijaga agar risiko dari hewan pengerat bisa ditekan sejak awal.

Pemahaman tentang sumber penularan dan gejala awal membantu mencegah kepanikan sekaligus mendorong pemeriksaan lebih cepat. Saat keluhan mirip flu muncul setelah paparan lingkungan yang berisiko, langkah terbaik adalah segera mencari pertolongan medis.

Source: www.beautynesia.id

Berita Terkait