Bangladesh sedang menahan tekanan besar di sektor energi setelah pemadaman listrik diperluas dan harga BBM eceran dinaikkan hingga 15 persen. Di saat yang sama, negara itu masih sangat bergantung pada pasokan energi dari luar negeri, sehingga gangguan di jalur impor langsung terasa pada listrik, bahan bakar, dan layanan publik.
Kementerian Energi Bangladesh menetapkan harga bensin baru menjadi 135 taka per liter dari sebelumnya 116 taka. Harga solar kini 115 taka per liter dan minyak tanah naik menjadi 130 taka per liter, ketika pasokan dari luar negeri ikut terganggu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak mentah serta merusak rantai pasok global.
Pasokan terbatas di tengah permintaan yang naik
Tekanan di sistem kelistrikan tidak hanya datang dari sisi impor energi. Permintaan listrik di dalam negeri ikut meningkat tajam karena gelombang panas yang membuat suhu mencapai 40 derajat Celcius.
Kebutuhan daya dilaporkan naik hingga 16.000 megawatt, sementara kapasitas produksi yang tersedia hanya sekitar 14.126 megawatt. Selisih ini mendorong pemerintah mengambil langkah pengaturan suplai agar sistem tetap berjalan dan tidak semakin terbebani.
Menteri Muda Urusan Listrik, Anindya Islam Amit, menyebut pemadaman terbatas harus dilakukan sebagai langkah sementara. Pemerintah juga menerapkan load-shedding eksperimental sebesar 110 megawatt di Dhaka untuk membantu distribusi energi berjalan lebih merata.
Warga merasakan dampaknya langsung
Di lapangan, warga menghadapi listrik yang makin tidak stabil dan pemadaman yang berulang. Situasi ini membuat aktivitas rumah tangga terganggu, terutama di tengah cuaca yang sangat panas.
Mashuka Yasmin Mishu, warga distrik Pabna, mengatakan keluarganya tidak bisa beristirahat dengan nyaman karena listrik sering padam. Ia juga menuturkan bahwa pasokan listrik tidak stabil bahkan selama dua jam berturut-turut, sehingga malam terasa semakin sulit dilalui.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis energi tidak berhenti pada angka produksi dan distribusi. Bagi masyarakat, masalah ini berubah menjadi gangguan harian yang memengaruhi kenyamanan, istirahat, dan urusan rumah tangga.
Hambatan utama ada di pasokan bahan baku
Pejabat senior Kementerian Energi, Umme Rehana, menegaskan bahwa Bangladesh sebenarnya memiliki kapasitas pembangkit listrik yang besar. Namun, kapasitas itu belum bisa dimanfaatkan penuh karena pasokan gas dan bahan bakar dari Timur Tengah menyusut.
Rehana juga menyoroti hambatan pada jalur suplai melalui Selat Hormuz di tengah ketegangan kawasan. Ia mengatakan Bangladesh memiliki kapasitas pembangkit yang besar, tetapi kekurangan gas dan bahan bakar membuat fasilitas itu tidak dapat dimaksimalkan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan semata soal infrastruktur di dalam negeri. Gangguan pasokan dari luar negeri menjadi faktor yang langsung menekan kestabilan energi nasional.
Risiko meluas ke layanan telekomunikasi
Tekanan pada pasokan diesel juga memunculkan kekhawatiran di sektor telekomunikasi. Bangladesh memiliki lebih dari 150 juta pengguna ponsel, sehingga penurunan pasokan bahan bakar dapat memengaruhi operasional menara transmisi dan jaringan digital.
Pemerintah menyebut operator telekomunikasi berpotensi memangkas cakupan jaringan hingga 40 persen jika pasokan untuk menara terus menipis. Dengan demikian, krisis energi berpotensi merambat dari rumah tangga ke layanan komunikasi publik.
Di sejumlah SPBU, antrean panjang sempat muncul selama sepekan, meski pemerintah mengatakan cadangan bahan bakar masih cukup. Menteri Energi Iqbal Hasan Mahmud menyebut kondisi itu dipicu panic buying.
Untuk menjaga pasokan impor energi tetap aman, pemerintah Bangladesh juga mengajukan pembiayaan eksternal lebih dari USD 2 miliar. Langkah ini disiapkan agar tekanan pada listrik, bahan bakar, dan infrastruktur modern tidak semakin dalam.







