Gelombang pengungsian di Lebanon terus membesar setelah serangan udara Israel menghantam Beirut dan Tyre. Di sejumlah titik, tempat penampungan dilaporkan sudah tidak mampu lagi menampung warga yang datang dari wilayah yang terkena perintah evakuasi.
Situasi ini membuat krisis kemanusiaan di Lebanon semakin berat. Banyak keluarga bergerak tanpa kepastian, sementara ruang aman untuk berlindung kian sempit dari hari ke hari.
Tyre dan Beirut jadi titik serangan paling mematikan
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 11 orang tewas dalam rentetan bom yang menghantam gedung pemukiman. Kerusakan meluas dari pusat kota Tyre hingga wilayah pinggiran timur yang berdekatan dengan zona konflik.
Di lapangan, warga melihat asap tebal membubung di antara kompleks apartemen yang padat penduduk. Api yang muncul sejak malam hari juga merembet ke fasilitas publik dan kendaraan yang terparkir di jalan.
Operasi penyelamatan ikut terganggu oleh situasi keamanan yang memburuk. Seorang anggota Hezbollah di Tyre mengatakan kepada BBC bahwa kru penyelamat berhenti bekerja setelah menerima peringatan dari militer Israel untuk meninggalkan area tersebut.
Perintah evakuasi mempersempit ruang aman
Tekanan terbesar datang dari perintah pengosongan wilayah di sepanjang selatan Sungai Zahrani. Area itu menjadi tempat tinggal ratusan ribu orang dan diperkirakan mencakup 14 persen dari total luas daratan Lebanon.
Arus warga yang mengungsi bergerak ke wilayah utara, termasuk ke kota besar Sidon. Namun, kapasitas penampungan di sana sudah dilaporkan penuh dan tidak sanggup lagi menerima gelombang baru.
Agnes Dhur, kepala delegasi Komite Internasional Palang Merah di Lebanon, menyebut kondisi tersebut tidak bisa dipertahankan. Ia memperingatkan bahwa permusuhan yang terus berlangsung dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang bagi warga sipil.
Warga berusaha menyelamatkan barang yang tersisa
Banyak orang baru memutuskan pergi setelah keadaan di sekitar mereka semakin memburuk. Mereka membawa barang-barang yang masih bisa diselamatkan sambil mencari tempat yang dianggap lebih aman dari serangan berikutnya.
Rida, warga berusia 52 tahun yang memiliki kafe di dekat pantai, menggambarkan suasana panik di lapangan. Ia mengatakan banyak orang berkumpul di pelabuhan dan sibuk mengemas barang-barang mereka karena rasa takut terus meningkat.
Trauma juga dirasakan warga yang rumah dan tempat usahanya sudah hancur akibat konflik berkepanjangan. Kehilangan tempat tinggal membuat banyak keluarga bergantung pada bantuan darurat, padahal ruang aman semakin terbatas.
Konflik meluas di tengah saling tuding
Eskalasi terbaru ini muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memutuskan memperluas operasi darat di perbatasan. Keputusan itu diambil menyusul serangan drone Hezbollah yang disebut menyasar tentara Israel dan permukiman warga di wilayah utara.
Israel dan Lebanon kini saling menuduh melanggar perjanjian gencatan senjata yang baru berjalan sekitar sebulan. Israel menyatakan tindakannya dilakukan untuk pertahanan diri, sedangkan Lebanon menilai serangan udara itu melanggar hukum internasional.
Data resmi Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut sejak konflik bersenjata ini pecah pada 2 Maret, jumlah korban terus bertambah. Otoritas Lebanon mencatat 3.213 orang tewas, sementara pihak Israel melaporkan kehilangan 23 tentara dan empat warga sipil, dengan tanda-tanda mereda yang belum terlihat.
Source: www.suara.com






