Gelombang Peretasan Kripto Menekan Wall Street, Adopsi Blockchain Institusi Mulai Hati-Hati

Serangan terbaru di sektor kripto membuat Wall Street semakin berhati-hati terhadap risiko yang berasal dari keuangan terdesentralisasi atau DeFi. Kekhawatiran itu muncul karena gangguan tidak hanya menimbulkan kerugian besar, tetapi juga menyentuh infrastruktur lintas rantai yang selama ini dianggap penting bagi pertumbuhan ekosistem berikutnya.

Dari sudut pandang institusi, situasi ini memaksa pasar membedakan antara penggunaan blockchain yang terbuka di DeFi dan penerapan blockchain yang lebih tertutup untuk kebutuhan korporasi. Jalur kedua dinilai masih punya ruang tumbuh, tetapi proses adopsinya kini terlihat lebih selektif dan tidak lagi bergerak secepat narasi optimistis sebelumnya.

DeFi terpukul, tokenisasi belum tentu ikut terseret

Analis makro kripto Noelle Acheson menilai gelombang serangan itu memang merusak cerita besar tentang DeFi. Dalam podcast The Wolf of All Streets yang dipandu Scott Melker, Acheson mengatakan, “Saya sepenuhnya setuju bahwa ini akan merugikan cerita DeFi. Ini tidak akan merugikan cerita tokenisasi sama sekali.”

Pernyataan itu penting karena tokenisasi aset masih menjadi salah satu tema yang terus didorong kalangan institusi. Meski sama-sama berbasis blockchain, tokenisasi tidak selalu mengikuti pola risiko yang sama dengan protokol DeFi terbuka, sehingga pasar mulai memandang keduanya secara lebih terpisah.

Sorotan terhadap risiko ini juga diperkuat oleh laporan Jefferies pada 21 April. Laporan tersebut memperingatkan bahwa serangan besar bisa memperlambat ambisi blockchain milik Wall Street, terutama setelah menyoroti dua kasus besar, yaitu eksploitasi KelpDao senilai $293 juta dan serangan pada Drift Protocol senilai $280 juta.

Institusi cenderung memilih jalur yang lebih tertutup

Di tengah meningkatnya kekhawatiran, Acheson menilai sebagian besar aktivitas institusional sebenarnya tidak langsung masuk ke protokol DeFi publik. Banyak lembaga keuangan justru memakai jaringan berizin atau permissioned blockchain yang lebih mudah diawasi dan lebih cocok dengan kebutuhan kepatuhan.

Pilihan itu, menurut Acheson, bukan hal kebetulan. Jalur tersebut sudah melalui persetujuan bagian hukum dan kepatuhan, sehingga lebih aman digunakan oleh institusi yang harus menjaga kontrol risiko dalam setiap langkah operasionalnya.

Perbedaan jalur ini membuat adopsi blockchain institusional tidak otomatis ikut terseret oleh masalah yang terjadi di ekosistem DeFi terbuka. Namun, serangan yang terus berulang tetap memberi sinyal bahwa keamanan masih menjadi faktor utama yang menentukan seberapa jauh teknologi ini bisa digunakan secara luas.

Stablecoin ikut masuk ke area perhatian baru

Dampak serangan kripto tidak berhenti pada protokol yang menjadi target utama. Perhatian pasar kini juga mengarah ke infrastruktur pendukung, termasuk stablecoin yang banyak dipakai untuk transaksi lintas rantai.

Kekhawatiran itu menguat setelah sebuah gugatan class-action pada 14 April diajukan terhadap Circle Internet Group. Gugatan tersebut menuduh perusahaan gagal membekukan dana saat peretasan Drift Protocol berlangsung, sementara sekitar $230 juta disebut berhasil dipindahkan lintas blockchain oleh para peretas.

Kasus ini memunculkan pertanyaan yang lebih luas tentang peran penerbit stablecoin ketika insiden keamanan terjadi. Pasar mulai menimbang apakah pihak penerbit cukup bersikap netral sebagai perantara, atau justru perlu bergerak lebih aktif untuk menghentikan aliran dana yang dianggap mencurigakan.

Risiko kepatuhan makin menonjol

Acheson menyebut perkembangan tersebut bisa membuka “kotak masalah regulasi yang sama sekali baru”. Persoalannya berkaitan dengan ekspektasi terhadap intervensi pihak tertentu saat dana bergerak cepat melintasi beberapa jaringan sekaligus.

Bagi Wall Street, tantangan ini menambah lapisan risiko di luar ancaman teknis yang selama ini sudah akrab dibicarakan. Risiko hukum, tanggung jawab operasional, dan tuntutan kepatuhan kini ikut masuk dalam penilaian ketika lembaga keuangan mempertimbangkan penggunaan blockchain.

Meski tekanan terhadap DeFi semakin besar, minat institusi pada blockchain tidak hilang. Hanya saja, jalur adopsi kini terlihat lebih berhati-hati karena serangan terhadap protokol terbuka dan sorotan pada stablecoin membuat pasar menimbang ulang cara paling aman untuk melangkah.

Berita Terkait