Gempa M 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah tidak hanya menimbulkan kerusakan dan puluhan gempa susulan, tetapi juga membuka perdebatan soal sumber utamanya. Badan Geologi dan BMKG sama-sama menyorot patahan yang berbeda, sehingga Sesar Sausu dan Sesar Palolo sama-sama disebut dalam penjelasan awal.
Hingga laporan terakhir, sedikitnya 90 gempa susulan tercatat di sekitar tenggara Palu. Pola itu memperlihatkan bahwa pelepasan energi di bawah permukaan masih berlangsung setelah guncangan utama, sementara kondisi gempa yang dangkal membuat dampaknya lebih mudah terasa di permukaan.
Perbedaan Peta Sumber Gempa
Badan Geologi Kementerian ESDM dan BMKG menempatkan episenter gempa di darat, tenggara Palu, pada kawasan tektonik aktif yang sama. Badan Geologi mencatat koordinat 1,04 derajat lintang selatan dan 120,23 derajat bujur timur, sedangkan GFZ Jerman menyebut magnitudo 6,3 di koordinat 1,156 derajat lintang selatan dan 120,27 derajat bujur timur.
Perbedaan angka antar lembaga itu tidak mengubah gambaran besarnya. Semua data tetap menunjukkan gempa terjadi di wilayah dengan aktivitas sesar yang intens dan struktur geologi yang rumit.
Persoalan utama muncul pada penentuan patahan sumber. Badan Geologi mengaitkan gempa dengan aktivitas Sesar Palolo yang berarah baratlaut–tenggara dan bermekanisme sesar normal, sedangkan BMKG menyebut keterkaitannya dengan Sesar Sausu.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa sebaran gempa susulan cenderung mengikuti kelurusan Sesar Palolo. Namun episenter utama lebih dulu dikaitkan dengan Sesar Sausu, sehingga muncul dua pembacaan tentang patahan yang memicu guncangan awal.
Menurut BMKG, peristiwa ini juga mungkin melibatkan lebih dari satu segmen sesar. Istilah yang digunakan mencakup multi-fault rupture dan kemungkinan coulomb stress transfer, yakni perambatan tekanan yang dapat memicu patahan lain di sekitarnya.
“Distribusi gempa susulan menunjukkan pola yang mengikuti sesar Palolo. Ini bisa mengindikasikan adanya multi-fault rupture atau pergeseran yang melibatkan lebih dari satu segmen sesar,” kata Wijayanto kepada Beritasatu.com.
Tanah Lunak Memperbesar Guncangan
Daya rusak gempa tidak hanya ditentukan oleh sumber patahan, tetapi juga oleh kondisi tanah di atasnya. Wilayah sekitar episenter memiliki morfologi beragam, mulai dari dataran, perbukitan bergelombang, hingga pegunungan, dengan susunan batuan metamorf, batuan terobosan, dan batuan sedimen kuarter.
Data Vs30 menunjukkan adanya variasi kelas tanah C, D, hingga E di kawasan itu. Tanah yang lebih lunak dapat memperkuat getaran melalui amplifikasi gelombang seismik, sehingga guncangan terasa lebih besar dibandingkan wilayah dengan batuan keras.
Pengamat gempa bumi Daryono menyebut kawasan Palolo dan Sausu berada dalam sistem pull-apart basin akibat aktivitas Sesar Palu-Koro. Ia menjelaskan bahwa peregangan kerak bumi membentuk sesar-sesar turun dan cekungan sedimen yang membuat wilayah tersebut sangat rentan terhadap amplifikasi guncangan.
Lapisan sedimen lunak di atas cekungan itu kemudian dapat memperbesar dampak gempa. Kerusakan yang muncul, termasuk ratusan rumah di Kabupaten Sigi dan terputusnya jalur Palu–Sigi–Poso, memperlihatkan pengaruh kuat kondisi tanah terhadap tingkat kerusakan.
Zona Tektonik Kompleks dengan Rekam Gempa Panjang
Perdebatan soal sumber gempa menunjukkan bahwa sistem sesar di Sulawesi Tengah tidak sederhana. Sejumlah ahli menilai gempa ini mungkin tidak dipicu oleh satu patahan tunggal, melainkan interaksi antar-sesar yang saling memengaruhi.
Daryono menilai peristiwa di Sulawesi Tengah memperlihatkan karakter khas zona tektonik yang kompleks. Kawasan ini telah berulang kali mengalami pelepasan energi, sehingga setiap gempa baru kerap dibaca dalam konteks jaringan patahan yang saling terhubung.
Rekam jejak gempa besar di wilayah ini juga panjang. Catatan yang disebut mencakup kejadian pada 1983, 1995, 2005, hingga 2017, yang memperkuat gambaran bahwa Sulawesi Tengah berada di wilayah seismik aktif.
Pola berulang itu tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan trauma kolektif di masyarakat. Karena itu, setiap gempa baru sering memunculkan respons psikologis yang kuat, meski kekuatannya berbeda dari kejadian sebelumnya.
Mitigasi Masih Menjadi Pekerjaan Besar
Dalam konteks risiko yang berulang, para ahli menekankan pentingnya mitigasi yang lebih rinci dan berbasis data lokal. Salah satu yang dianggap mendesak adalah mikrozonasi seismik hingga tingkat wilayah yang lebih detail.
Daryono juga menyoroti pentingnya memasukkan data kerawanan ke dalam tata ruang. Pembangunan di area yang dilintasi sesar aktif perlu dikendalikan lebih ketat agar risiko jangka panjang bisa ditekan.
Standar bangunan tahan gempa juga menjadi perhatian utama, terutama di wilayah dengan dominasi tanah lunak. Tanpa penguatan struktur yang memadai, guncangan dangkal seperti di Sulawesi Tengah berpotensi menimbulkan dampak yang lebih besar dari perkiraan awal.
Gempa M 6,7 di Sulawesi Tengah pada akhirnya memperlihatkan bahwa pertanyaan tentang Sesar Sausu atau Sesar Palolo tidak bisa dijawab hanya dari satu parameter. Sebaran susulan, karakter gempa dangkal, kondisi tanah, dan kompleksitas sistem tektonik di kawasan Palu–Sigi–Poso harus dibaca bersama untuk memahami sumber guncangan secara utuh.
