Gempa bumi bermagnitudo 8,1 melumpuhkan Mindanao dan memutus banyak layanan dasar di wilayah selatan Filipina. Jaringan listrik padam, komunikasi nirkabel terganggu, dan warga di sejumlah titik harus bertahan dengan akses informasi yang sangat terbatas.
Di General Santos, dampaknya terlihat dari bangunan yang runtuh, kerusakan berat pada sebuah pusat perbelanjaan, hingga kerugian besar di sektor usaha. Sebuah restoran hidangan laut di dekat Teluk Sarangani kehilangan hampir seluruh persediaannya, meski bangunannya masih berdiri.
Warga Bertahan di Tengah Kondisi Darurat
Cathy Velez, karyawan restoran tersebut, mengatakan, “Restoran kami masih berdiri, tetapi hampir seluruh persediaan kami hancur.” Ia menambahkan bahwa seluruh pekerja selamat dan kini berada di rumah singgah karyawan.
Sejumlah warga juga merasakan langsung kuatnya guncangan yang terjadi. Tomas Alon, warga General Santos, mengatakan kepada DZBB, “Saya bahkan tidak bisa berdiri, guncangannya sangat kuat,” seraya menyebut seluruh barang di rumahnya jatuh.
Layanan Publik dan Transportasi Terganggu
Gangguan tidak berhenti pada pemukiman dan pusat usaha. Bandara General Santos ditutup sementara, yang berujung pada pembatalan sedikitnya 17 penerbangan domestik.
Aktivitas birokrasi di beberapa kota besar, termasuk Davao, juga berhenti total. Situasi ini menunjukkan luasnya dampak gempa terhadap mobilitas warga, layanan publik, dan koordinasi pemerintahan di Mindanao.
Evakuasi di Rumah Sakit dan Pesisir
Di fasilitas kesehatan, manajemen rumah sakit memindahkan para pasien ke area terbuka di luar gedung utama. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi risiko dari bangunan yang rusak dan mengantisipasi gempa susulan.
Di kawasan pantai, aparat penanggulangan bencana menyisir wilayah pesisir dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk evakuasi darurat. Kepala Kantor Penanggulangan Bencana Provinsi Sarangani, Rene Punzalan, mengatakan kepada DZBB bahwa “tidak ada listrik dan sinyal telepon hanya tersedia secara terbatas.”
Pemerintah Filipina Turun Tangan
Presiden Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan seluruh kementerian terkait untuk membantu penanganan dampak gempa. Ia menegaskan, “Pemerintah nasional tengah bergerak dan kami tidak akan meninggalkan Mindanao.”
Marcos Jr. juga menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak tanpa batas waktu. Kebijakan itu diambil demi menjaga keselamatan para pelajar di tengah situasi yang belum stabil.
Mindanao memang berada di salah satu kawasan paling rawan bencana seismik di dunia. Letaknya di jalur patahan aktif Cincin Api Pasifik membuat wilayah ini kerap menghadapi ancaman gempa besar dan kerusakan berlapis pada infrastruktur penting.
