Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai belum mendekati titik selesai. Pakar Hubungan Internasional Binus University, Dinna Prapto Raharja, menilai eskalasi militer masih berpotensi berlanjut karena para pihak belum menunjukkan tanda-tanda beralih dari jalur serangan ke jalur damai.
Menurut Dinna, perang itu bahkan masih bisa berlangsung setidaknya sampai pemilu Israel berikutnya. Ia melihat Israel tetap berada pada jalur serangan militer terhadap Hizbullah di Libanon, kelompok yang juga menjadi sekutu Iran di Timur Tengah.
Negosiasi masih buntu
Dinna menyebut perundingan yang dimediasi Pakistan antara AS dan Iran juga belum memperlihatkan peluang kesepakatan dalam waktu dekat. Ia menilai masing-masing pihak masih bertahan pada tuntutan yang sulit dipenuhi lawan, sehingga ruang kompromi belum terbuka memadai.
Dalam pandangannya, kondisi itu membuat situasi tetap berada dalam keadaan deadlock. Iran disebut tidak merasa berada dalam posisi lemah, sementara AS dinilai belum memperhitungkan kekuatan Iran secara utuh.
Ia juga menyoroti bahwa amunisi AS mulai menipis setelah perang yang telah berlangsung sekitar 100 hari. Faktor itu, menurut dia, ikut memengaruhi dinamika konflik yang belum menunjukkan arah mereda.
Aset beku dan isu nuklir
Selain tekanan militer, kebuntuan juga dipicu isu ekonomi dan nuklir. AS masih membekukan miliaran dolar aset Iran di sejumlah negara dan terus menjatuhkan sanksi kepada Teheran.
Iran, di sisi lain, menuntut pencairan aset itu sebagai salah satu syarat utama penyelesaian konflik. Dinna menilai persoalan tersebut membuat jalan menuju kesepakatan semakin rumit.
Ia juga meyakini Iran tidak akan menghentikan program nuklirnya seperti yang diminta Washington. Situasi itu kian sensitif karena Israel terus meningkatkan tekanan di Libanon dan kawasan Timur Tengah.
“Justru dengan Israel makin agresif di Libanon dan negara-negara Timur Tengah, Iran makin tidak mau melepas program nuklirnya,” ujar Dinna.
Dampak regional makin melebar
Eskalasi yang terjadi tidak berhenti pada hubungan tiga pihak tersebut. Serangan Israel ke Libanon memperluas dampak konflik dan menambah ketegangan di kawasan, terutama karena Hizbullah memiliki kaitan erat dengan kepentingan Iran.
Dinna bahkan menyebut Israel ingin menjadikan Beirut sebagai simbol kejatuhan Libanon. Pernyataan itu menunjukkan bahwa konflik kini tak hanya bergerak di ranah militer, tetapi juga menyentuh dimensi politik dan simbolik.
Perseteruan itu juga masih berkaitan dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi memicu gangguan yang lebih luas terhadap keamanan energi global.
Dengan berbagai faktor itu, Dinna menilai prospek perdamaian masih jauh. Selama tuntutan utama belum berubah dan tekanan militer terus berlangsung, peluang tercapainya kesepakatan tetap kecil dalam waktu dekat.
