Wajib militer paksa di Myanmar kini mengubah arah perang saudara, karena junta memperoleh tambahan tenaga manusia yang hampir tak terbatas sementara kelompok perlawanan terus kekurangan rekrutan dan suplai. Di banyak garis depan, tekanan itu mulai terasa lebih berat bagi para pemberontak.
Perubahan paling jelas terlihat di wilayah yang masih diperebutkan, termasuk Karen state, Hpapun, dan jalur strategis dari Mandalay ke Myitkyina di utara. Meski tentara masih menguasai kurang dari separuh negara secara penuh, mereka terus merebut titik penting dan menekan pasukan perlawanan dengan kekuatan yang semakin terorganisir.
Wajib Militer Mengisi Barisan Junta
Empat pemuda yang kini berada di kamp pemberontak memperlihatkan sisi lain dari kebijakan itu. Mereka mengaku tidak pernah ingin ikut perang saudara dan juga tidak memilih menjadi tentara militer.
Satu dari mereka bekerja sebagai chef saat ditangkap di jalan karena tidak memiliki identitas ketika pulang kerja. Seorang lain dijemput saat pulang dari karaoke larut malam, sementara yang ketiga ditangkap ketika bekerja untuk dinas kehutanan.
Pemuda keempat mengatakan ia dijebak setelah narkoba diselipkan ke sepatunya lalu dipaksa mendaftar. Keempatnya berusia 19 hingga 25 tahun, menjalani pelatihan dasar selama empat bulan, lalu dikirim ke garis depan sebelum akhirnya kabur.
Mereka melarikan diri saat hendak mandi pada suatu malam di Karen state. Namun, mereka justru masuk ke patroli People’s Defence Force atau PDF dan kemudian ditahan.
Kini mereka mengaku lebih tenang bersama PDF. Mereka mengatakan diperlakukan “seperti saudara, bukan orang asing”, dan akan dibawa ke perbatasan Thailand karena khawatir militer masih bisa melacak mereka jika kembali sekarang.
Tekanan Baru di Hpapun
Ko Kaung, komandan batalion PDF, menilai para wajib militer itu telah membawa perbedaan besar di medan tempur. Menurut dia, tentara mendapatkan akses ke tenaga manusia yang nyaris tidak terbatas, sedangkan kelompok perlawanan harus bertahan dengan dana terbatas dan kesulitan merekrut pejuang baru.
Ko Kaung memimpin patroli di Hpapun, kota di Karen state yang sempat direbut dua tahun lalu bersama sebuah pangkalan militer besar. Kota itu kini menunjukkan bekas perang, dengan papan selamat datang yang dibom, sekolah yang hancur, biara lokal yang rusak, dan banyak rumah kosong ditinggalkan penghuninya.
Situasinya tetap genting karena drone junta terus berputar di langit. Ia juga menyebut sekitar 2.000 tentara bergerak maju menuju Hpapun, sehingga para pejuang PDF bersiap menghadapi serangan yang lebih besar.
Komandan PDF lain, Da Wa, melihat tekanan serupa. Mantan aktivis politik yang pernah menjalani empat setengah tahun di penjara pemerintah itu mengatakan sebagian pasukan junta memang bukan perekrut sukarela, tetapi mereka makin efektif karena lebih disiplin dan lebih patuh pada perintah.
Perang Kian Dipengaruhi Drone dan Artileri
Da Wa menggambarkan perang yang kini bergeser dari pertempuran darat menjadi kombinasi serangan drone, artileri, dan udara. Ia menilai pasukan pemerintah memiliki lebih banyak kekuatan udara sejak junta meneken pakta keamanan dengan Rusia.
Ia juga menyoroti penggunaan drone yang meningkat, baik dari sisi teknologi maupun jumlah. Ko Kaung sependapat dan menilai ancaman drone terus bertambah, sementara kelompoknya masih kekurangan perangkat untuk melawannya seperti jammers.
Di sisi lain, perjuangan kelompok perlawanan juga dibatasi oleh ceasefire yang dimediasi China dengan sejumlah kelompok pemberontak serta pembatasan suplai senjata dan amunisi. Kondisi itu ikut menekan kemampuan mereka bertahan di lapangan.
China memiliki investasi besar di Myanmar dan juga menambang mineral tanah jarang di Karen dan Kachin states. Dampaknya terasa langsung pada kebutuhan dasar tempur, mulai dari peluru hingga komponen peralatan yang sulit didapat.
Kekurangan Senjata dan Rumah Sakit Lapangan
Kyar Soe, komandan peleton yang terluka dalam pertempuran, menyebut kekurangan senjata sebagai masalah besar. Dari ranjang rumah sakitnya di sebuah klinik tersembunyi di dalam hutan, ia menunjukkan video pertempuran ketika seorang fighter yang terlalu bersemangat ditegur agar menghemat peluru.
Kyar Soe sendiri baru saja menjalani operasi setelah menginjak ranjau darat. Myanmar termasuk salah satu negara paling banyak dipenuhi ranjau di dunia, dan pada tahun lalu 745 orang tewas atau terluka akibat ranjau, seperempat di antaranya anak-anak.
Meski kakinya masih diperban dan nyeri, ia menegaskan akan kembali bertarung. Ia mengatakan tidak ada jalan pulang baginya, sehingga pilihan satu-satunya adalah terus berjuang.
Di balik pertempuran, perlawanan juga ditopang fasilitas darurat yang jauh dari memadai. Dr Saung mengelola rumah sakit lapangan dari rangkaian gubuk bambu dan kayu, dengan ruang operasi yang berjalan memakai tenaga surya atau generator cadangan.
Rumah sakit itu kekurangan uang, suplai, dan ambulans. Meski begitu, Dr Saung tetap mendorong para pejuang muda yang datang ke sana untuk bertahan, sambil menilai mereka bertempur karena generasi sebelumnya gagal memenuhi tanggung jawab itu.
Ia juga mengingatkan bahwa jika anak muda tidak melawan diktator sekarang, mereka bisa saja menghadapi keharusan yang sama saat usia lebih tua.
Perang Menyentuh Kehidupan Sipil
Kisah perang ini juga menyentuh kehidupan sipil yang masih berjalan di sela konflik. Di salah satu ruang pemulihan rumah sakit itu, istri seorang pejuang, May Kyut Mon yang berusia 29 tahun, melahirkan bayi perempuan yang kemudian diberi nama Sue Paye, yang berarti kira-kira “keinginan yang terpenuhi”.
Suaminya, Yine Chit, berusia 24 tahun, menginginkan masa depan yang berbeda untuk anaknya. Ia berharap Myanmar menjadi negara yang bebas dan demokratis, meski keluarganya kini terpisah oleh wilayah yang dikuasai junta dan wilayah yang dikuasai perlawanan.
Di tengah perang yang terus bergeser, wajib militer, drone, ranjau darat, dan kekurangan suplai membuat medan tempur Myanmar semakin berat bagi para pemberontak. Namun, di hutan-hutan Karen state, perlawanan masih bertahan dengan perlengkapan seadanya dan harapan yang belum padam.
