Semarang semakin menghadapi tekanan ganda dalam urusan banjir dan rob, sementara beban air dari wilayah hulu ikut menentukan seberapa berat kondisi di hilir. Di tengah situasi itu, Sungai Babon muncul sebagai salah satu titik paling penting karena alirannya tidak berhenti di batas administrasi kota.
Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh Pemerintah Kota Semarang. Hulu Sungai Babon berada di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal, sehingga pengendalian banjir membutuhkan kerja lintas daerah yang nyata.
Arus dari hulu yang membebani hilir
Iswar menjelaskan, Sungai Babon punya karakter aliran yang ganas karena sudut kemiringannya besar. Saat hujan deras mengguyur wilayah hulu, debit air dapat bergerak sangat cepat dan memperparah banjir di kawasan hilir.
Kondisi itu paling terasa di wilayah seperti Genuk dan Muktiharjo. Karena itu, banjir di Semarang disebut sebagai tantangan klasik yang terus berulang dan tidak bisa diatasi dengan pendekatan sempit.
Anggaran kota tidak cukup bila masalahnya lintas wilayah
Menurut Iswar, beban banjir di Semarang terlalu besar jika hanya dipikul dengan fiskal kota. Ia menilai dana daerah tidak akan pernah memadai bila dipakai terus-menerus untuk mengatasi persoalan yang dipengaruhi banyak wilayah sekaligus.
Selain aliran sungai, Semarang juga harus berhadapan dengan penurunan muka tanah di kawasan Pantura. Iswar menyebut laju land subsidence itu mencapai 10-12 sentimeter per tahun dan tetap memerlukan penanganan yang komprehensif.
Genangan makin sering muncul
Tahun ini, Semarang juga menghadapi anomali cuaca yang cukup menonjol. Di Muktiharjo, genangan besar yang biasanya muncul satu hingga dua kali setahun justru sudah terjadi lima kali banjir.
Iswar menyebut normalisasi sungai dan pengerukan tetap bisa dilakukan sebagai langkah teknis. Namun, biaya untuk pekerjaan fisik seperti itu jauh lebih besar dibandingkan upaya memperbaiki kondisi lingkungan dari sektor hulu.
Reboisasi kembali didorong di wilayah atas
Karena itu, Pemkot Semarang sepakat menghidupkan lagi reboisasi dan penanaman pohon di wilayah atas. Usulan tersebut juga sejalan dengan dorongan Bupati Demak dalam forum yang sama, karena langkah penghijauan dinilai dapat membantu menahan laju air sebelum masuk ke hilir.
Dorongan kerja bersama itu menguat dalam Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 di Pendopo Kabupaten Grobogan. Forum tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, jajaran kepala OPD Pemprov Jateng, serta para kepala daerah se-Kedungsepur.
Kerja bersama jadi syarat utama
Iswar menilai arah kolaborasi itu penting untuk menjawab ancaman banjir, rob, dan penurunan tanah yang terus membayangi Semarang. Ia juga melihat kerja lintas daerah itu sejalan dengan visi jangka panjang menjadikan kawasan Kedungsepur sebagai pusat pariwisata berkelanjutan.
Di tengah tekanan dari hulu, penurunan tanah, dan cuaca yang kian tidak menentu, Semarang membutuhkan dukungan wilayah sekitar agar beban banjir tidak terus jatuh sendirian ke kota pesisir ini. Sungai Babon menjadi pengingat bahwa urusan air di Semarang selalu melampaui batas kota.
Source: jateng.antaranews.com