Robot dan mobil swakemudi bisa mendapat pelajaran penting dari cara lalat buah dan house fly bergerak. Peneliti di University of Sheffield melihat bahwa gerakan sederhana serangga ini membantu mereka memproses informasi visual dengan sangat cepat dan hemat energi.
Inti temuan itu ada pada hubungan erat antara gerak tubuh dan cara otak membaca lingkungan. Serangga tidak hanya menerima rangsangan secara pasif, tetapi juga menggerakkan tubuh selaras dengan apa yang terlihat agar informasi yang masuk menjadi lebih jelas.
Dalam studi yang dipublikasikan di Nature Communications, para peneliti menemukan mekanisme seperti dorongan cepat bernama high-frequency jumping. Saat serangga melakukan gerakan ini, otaknya seperti berpindah ke “gigi” yang lebih tinggi untuk menangkap informasi penting di sekitarnya.
Gerakan kecil yang tersentak, termasuk saccades atau gerakan cepat mata, ikut memperkuat proses itu. Dengan pola seperti ini, serangga seolah aktif mengambil sampel dari dunia lewat geraknya sendiri, bukan hanya menunggu sinyal datang begitu saja.
Prof Mikko Juusola dari School of Biosciences menilai temuan tersebut membuka cara pandang baru tentang bagaimana otak menghitung informasi. Ia juga menekankan bahwa otak yang sangat kecil pun mampu menyelesaikan persoalan rumit dengan kecepatan luar biasa.
Gerakan sebagai bagian dari persepsi
Hasil riset ini menempatkan gerakan sebagai bagian penting dari penglihatan, bukan sekadar efek samping dari aktivitas tubuh. Ketika lalat membuat belokan tajam, fokusnya langsung tertuju pada informasi paling relevan yang bergerak cepat di sekitarnya.
Pendekatan itu membuat serangga tetap lincah meski memiliki keterbatasan fisik dan saraf. Kemampuan tersebut membantu mereka terbang cepat sekaligus menghindari predator.
Dr Jouni Takalo, yang memimpin pengembangan model statistik realistis berbasis biofisika dalam studi itu, menyebut hasil penelitian ini menantang model tradisional pemrosesan saraf. Model lama menganggap informasi mengalir lewat jalur tetap dengan jeda bawaan.
Sebaliknya, kerangka baru yang didukung penelitian ini memandang penglihatan sebagai kerja bersama antara gerakan serangga, input visual, dan respons otak. Dalam pandangan ini, persepsi bukan proses satu arah, melainkan interaksi aktif yang terus berubah.
Mengapa penting untuk AI dan robot
Bagi dunia teknologi, pola kerja serangga ini sangat menarik karena menunjukkan bahwa pemrosesan informasi tidak harus dipisahkan dari gerakan. Jika gerakan ikut dipakai untuk mengumpulkan data, sistem bisa bereaksi lebih cepat dan lebih efisien.
Itulah alasan mengapa prinsip ini dinilai relevan untuk robot dan mobil otonom. Sistem pintar masa depan berpotensi menjadi lebih cerdas sekaligus lebih hemat energi jika mampu meniru cara serangga menggabungkan gerak dan penglihatan.
Pendekatan semacam itu juga cocok untuk pengambilan keputusan real-time, bidang yang menuntut respons terhadap perubahan lingkungan yang sangat cepat. Alih-alih hanya mengandalkan perhitungan pasif, mesin dapat belajar memakai gerakan sebagai alat untuk membaca situasi.
Penelitian pada lalat buah dan house fly ini memperlihatkan bahwa sistem biologis sederhana pun bisa memecahkan persoalan kompleks tanpa perangkat komputasi besar. Dari sana, otak serangga kini dilihat sebagai sumber ide baru untuk AI generasi berikutnya.







