Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali merembet ke pasar energi setelah Mohammad Bagher Ghalibaf melontarkan bantahan keras terhadap pernyataan Donald Trump soal minyak Iran. Ketua Parlemen Iran itu menyebut klaim Trump sebagai “omong kosong” dan menolak anggapan bahwa jalur minyak Iran akan “meledak” hanya dalam tiga hari.
Ghalibaf menyampaikan responsnya lewat unggahan di akun X pada Kamis, 30 April 2026. Ia menegaskan bahwa tenggat yang disebut Trump tidak terbukti, karena tiga hari telah lewat tanpa ada sumur minyak yang meledak seperti yang digambarkan.
Sindiran Ghalibaf diarahkan ke Washington
Dalam komentarnya, Ghalibaf tidak hanya membantah, tetapi juga menyindir klaim Trump dengan nada tajam. Ia bahkan menantang agar situasi itu dilanjutkan sampai 30 hari dan disiarkan langsung dari Iran.
Nada kritiknya juga diarahkan pada pihak-pihak di Washington yang ia nilai memengaruhi arah kebijakan Amerika Serikat. Ghalibaf menyebut pernyataan semacam itu lahir dari “saran ngawur” yang diterima pemerintah Amerika Serikat, termasuk dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Teheran tidak memandang isu tersebut sebagai sekadar adu kata. Bagi Ghalibaf, klaim seperti itu justru menunjukkan pola pikir yang berisiko memicu ketegangan baru.
Klaim Trump yang memantik reaksi
Sebelumnya, Trump berbicara soal minyak Iran dalam wawancara dengan Fox News pada 26 April. Ia mengatakan bahwa pipa-pipa minyak berkapasitas besar bisa tersumbat dan meledak dari dalam jika minyak tidak bisa dimuat ke kapal atau kontainer.
Trump juga menyebut Iran hanya punya waktu sekitar tiga hari sebelum kondisi itu terjadi. Ia menambahkan bahwa jika pipa benar-benar meledak, kerusakan tersebut tidak akan bisa dipulihkan seperti semula.
Pernyataan itu langsung memicu respons keras dari pejabat Iran. Di mata Ghalibaf, ucapan tersebut tidak punya dasar yang kuat dan justru memperbesar tensi politik antara kedua negara.
Dampak yang bisa merembet ke pasar minyak
Di balik bantahan politik itu, Ghalibaf juga menyoroti efek ekonomi yang bisa muncul jika retorika semacam ini terus dipelihara. Ia menilai cara berpikir seperti itu berpotensi mendorong harga minyak naik hingga 140 dolar per barel, atau sekitar Rp 2,3 juta per barel.
Ia juga memperingatkan bahwa ancaman blokade dan tekanan terhadap Iran hanya akan membuat pasar semakin tidak pasti. Dengan kata lain, konflik verbal yang berulang tidak berhenti pada urusan diplomasi, tetapi bisa ikut mengguncang pergerakan harga energi global.
Pasar minyak memang sudah lebih sensitif terhadap situasi di kawasan itu. Dalam dua bulan terakhir, harga minyak disebut naik setelah agresi Amerika Serikat dan Israel, ancaman serangan udara lanjutan ke Teheran, serta pembatasan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Pada Kamis, harga minyak bahkan melonjak lebih dari lima persen dan menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan itu terjadi setelah Trump memperingatkan bahwa blokade ilegal AS terhadap pelabuhan Iran bisa berlangsung selama berbulan-bulan.
Brent untuk pengiriman Juni tercatat naik 6,8 persen menjadi 126 dolar atau sekitar Rp 2.016.000. Sementara itu, West Texas Intermediate menguat tiga persen hingga melampaui 110 dolar atau sekitar Rp 1.760.000.
Para analis menilai pasar kini membaca situasi dengan lebih waspada. Jika sebelumnya ada harapan bahwa krisis akan cepat reda, perkembangan terbaru membuat pelaku pasar mulai menghitung kemungkinan bahwa tekanan terhadap Iran dan konflik yang menyertainya bisa bertahan lebih lama.
Source: www.viva.co.id






