Gibraltar Membuka Perbatasan Tanpa Pagar, Akhir Tarik-Ulur Panjang Pasca-Brexit

Author: Redaksi Android62

Perbatasan darat antara Spanyol dan Gibraltar kini terbuka tanpa pagar fisik, menandai akhir dari tarik-ulur panjang pasca-Brexit yang sempat menahan kejelasan status wilayah itu selama bertahun-tahun. Mulai Rabu (15/7/2026), warga dapat melintas dua arah tanpa lagi berhadapan dengan pembatas yang selama ini menjadi simbol sengketa dan negosiasi.

Bagi ribuan orang yang setiap hari bergerak antara La Linea de Concepcion dan Gibraltar, perubahan ini langsung menyentuh urusan kerja, keluarga, dan mobilitas harian. Situasi di titik perbatasan pun berubah menjadi perayaan, terlebih ketika sejumlah warga datang mengenakan kostum tim nasional sepak bola Spanyol seusai kemenangan atas Prancis di semifinal Piala Dunia, Selasa.

Perubahan yang Paling Terasa bagi Pekerja Lintas Batas

Gibraltar memiliki sekitar 38.000 penduduk dan kedaulatannya masih disengketakan. Wilayah ini berada di ujung selatan Semenanjung Iberia, hanya beberapa kilometer dari Maroko, di kawasan tempat Samudra Atlantik bertemu Laut Mediterania.

Perubahan paling besar dirasakan oleh sekitar 15.000 warga Spanyol yang setiap hari bekerja menyeberang ke Gibraltar. Jumlah itu hampir separuh tenaga kerja di wilayah tersebut, sehingga keberadaan perbatasan fisik sebelumnya selalu punya dampak langsung pada ritme ekonomi setempat.

Fabian Picardo, Menteri Utama Gibraltar, menyebut suasana di lapangan sebagai cermin kedekatan kedua masyarakat. Dalam pernyataan kepada RTVE yang dikutip Associated Press, ia mengatakan, “Yang terasa di sini adalah persaudaraan antara kedua masyarakat.”

Kesepakatan yang Lama Ditunggu Akhirnya Disahkan

Situasi baru ini muncul setelah kesepakatan antara Uni Eropa dan Inggris akhirnya difinalisasi. Ketika Inggris keluar dari Uni Eropa pada 2020, status hubungan Gibraltar dengan blok tersebut belum jelas, dan pembicaraan mengenai lalu lintas manusia serta barang sempat berjalan tersendat.

Kerangka kesepakatan sebenarnya sudah tercapai pada 2025. Perjanjian resmi kemudian ditandatangani pada Selasa sebelum pagar dibongkar total, mengakhiri ketidakpastian yang membayangi wilayah itu sejak Brexit.

Stephen Doughty, Menteri Inggris untuk Urusan Eropa, Amerika Utara, dan Wilayah Seberang Laut, mengatakan perjanjian tersebut menjamin kepentingan serta masa depan ekonomi Gibraltar dalam jangka panjang. Di pihak Uni Eropa, Maros Sefcovic menyambut hasilnya dengan menekankan proses negosiasi yang panjang dan rumit.

Aspek Rincian Dampak
Pekerja lintas batas Sekitar 15.000 warga Spanyol Hampir separuh tenaga kerja Gibraltar
Status perjalanan Pergerakan bebas tanpa perbatasan fisik Mempermudah perjalanan kerja dan pribadi
Pengaturan pemeriksaan Pemeriksaan bersama di bandara dan pelabuhan Gibraltar Orang yang masuk dan keluar tetap diawasi

Tanpa kesepakatan itu, Gibraltar berisiko menghadapi perbatasan darat yang lebih ketat dengan pemeriksaan paspor penuh. Kondisi seperti itu dinilai bisa mengganggu ekonomi wilayah yang sangat bergantung pada arus pekerja harian dari Spanyol.

Masuk Schengen, Namun Sengketa Kedaulatan Tetap Ada

Secara praktik, kesepakatan ini membawa Gibraltar masuk ke dalam kawasan bebas perjalanan Schengen milik Uni Eropa. Pemeriksaan terhadap orang yang masuk dan keluar melalui bandara serta pelabuhan Gibraltar akan dilakukan bersama oleh petugas perbatasan Inggris dan Spanyol, mirip pengaturan di stasiun Eurostar di London dan Paris.

Bagi warga Gibraltar, kebebasan melintas itu berarti kemudahan untuk mengunjungi keluarga atau menerima kunjungan kerabat. Fabian Picardo juga mencontohkan anak-anak yang dapat pergi ke pertandingan sepak bola dan kegiatan ekstrakurikuler di dua sisi perbatasan tanpa harus cemas dengan antrean panjang.

Meski pagar sudah dibongkar, sengketa kedaulatan tidak ikut selesai. Gibraltar diserahkan kepada Inggris pada 1713, sementara Spanyol masih mempertahankan klaim atas wilayah tersebut hingga sekarang.

Referendum Brexit 2016 juga menunjukkan sikap warga setempat, ketika 96 persen pemilih Gibraltar memilih tetap menjadi bagian dari Uni Eropa. Karena itu, hasil perjanjian ini dipandang sebagai jalan keluar dari risiko pembatasan yang jauh lebih keras bagi wilayah yang juga dikenal sebagai “The Rock” itu.

Pelancong dari negara di luar kawasan Schengen, termasuk Inggris, tetap wajib mengikuti Sistem Keluar-Masuk Uni Eropa atau Entry-Exit System. Sistem yang mulai diterapkan di Eropa pada April itu menggantikan stempel paspor dengan pencatatan data biometrik berupa foto dan sidik jari digital.

Fisik Diganti Pengawasan Digital

Setelah pagar dibongkar, otoritas Gibraltar memasang kamera pengenal wajah waktu nyata di titik-titik masuk dan sejumlah lokasi di seluruh wilayah tersebut. Pemerintah juga menambah kehadiran polisi serta memperkuat sumber daya bagi bea cukai dan penjaga pantai.

Picardo menggambarkan perubahan itu sebagai transformasi besar dalam pengamanan wilayah. “Benteng fisik itu kini telah berubah menjadi benteng digital,” katanya.

Source: www.liputan6.com
Berita Terbaru